Sontak, Mauren menjauhkan tubuh Brian yang semula sedang mendekap. Ia bergerak refleks karena terkejut pada tindakan sang pria.
“Mengapa kau memelukku?” Mauren mengerutkan dahi. Membidik tajam sosok Brian yang sedang gelagapan.
“Ma-maafkan aku, Mauren. Kurasa—”
“Kau rasa apa?”
“Kurasa, aku tak lagi bisa membendung rinduku padamu.”
“APA?” Wanita itu kembali memekikkan suara.
Dan,
Drrt drrt!
Sebuah ponsel di atas nakas kembali bergetar.
**William : “Mauren, apakah kau sudah benar-benar tidur?”
Pesan itu muncul dari balik kolom notifikasi. Brian menghembus napas. Lalu, beralih pergi dari hadapan sang wanita tanpa berniat melanjutkan sahutan atas kekikukan diantara mereka berdua.
Issh!
Bagaimana bisa aku memeluk Mauren seperti itu, tadi? Dia pasti terkejut setengah mati. Lantas, bagaimana caraku mengatasi suasana canggung pada esok hari? Brian merutuk pada kesalahan yang ia perbuat baru saja.
Sementara itu,
Mauren memilih tak meraih ponsel di atas nakas. Ia beralih menyandarkan kepala. Lalu, memejamkan mata sembari menetralkan detak jantung yang sempat berdegup kencang.
Apa yang sedang terjadi padaku? Mengapa jantungku—
Setelahnya,
Ia memilih untuk menghentikan terkaan di dalam kepala.
******
Keesokan hari.
Brian telah bersiap dengan rapi. Mauren meratakan bibir sembari menahan ludah yang hendak tertelan. Kejadian tak terduga pada semalam, masih teringat jelas di dalam ingatan. Namun, mereka harus melupakan hal tersebut, jika tak ingin berada di dalam suasana canggung yang berkelanjutan.
“Apakah kau hendak berangkat ke perusahaan, Brian?” Mauren mengeluarkan suara. Berusaha membuat Brian tak merasa bersalah.
“Be-benar, Mauren,” Sang lawan bicara terbata.
“So-soal kemarin malam, maafkan aku karena membentakmu. Aku bisa mengerti, jika kau bisa saja rindu padaku. Yah! Kita berteman sejak lama. Seperti, pertemananmu dengan William dan Andrew. Dan, selagi kau berada di luar negeri. Kau bisa saja merindukan kami. Jadi, aku tak akan mempermasalahkan dirimu, yang semalam tiba-tiba memelukku seperti itu.”
Hati Brian mencelos. Ucapan Mauren masih saja menandakan jika ia tak memiliki memori tentang mereka berdua. Memori semasa berpacaran. Dan, rindu yang Brian katakan. Bukanlah rindu dalam arti pertemanan. Melainkan, rindu seorang kekasih yang sedang terlupakan.
“Tak apa, Mauren. Seharusnya, aku yang meminta maaf karena telah mengejutkanmu seperti itu.”
Obrolan mereka berakhir. Sesaat usai Lucia dan dua orang perawat masuk ke dalam ruang perawatan VIP.
“Hai, Kak?” Lucia menyapa.
“Hai, Lucia,” Mauren menyahut.
Lalu,
“Kakak hendak berangkat ke perusahaan. Kakak titip Mauren padamu, ya?” Brian berbisik pelan.
“Baiklah, Kak. Serahkan saja padaku.”
Kini, bayangan Brian tak lagi ada. Entah mengapa, ada sebuah rasa kehilangan saat menyaksikan kepergian Brian melalui ambang pintu yang terbuka?
******
Satu jam setelah menjalani rutinitas pagi.
Mauren sedang berjalan-jalan dengan Lucia. Kali itu, mereka pergi ke café yang ada di lantai dua. Mengingat, Lucia sering kali memamerkan hidangan manis yang disajikan di sana.
Sehingga,
“Cepat, Lucia. Kau harus memesankanku macaron itu.”
“Baiklah, Kak. Aku juga hendak memesankannya untukmu. Tapi, lihatlah. Kita masih berada di dalam antrian,” Lucia menyahut. Menyemburkan tawa kecil di wajah.
Lalu, ia melanjutkan ucapan dengan berkata, “Yah, karena sifat menggemaskanmu inilah, maka dari itu kakakku sangat menyukaimu.”
“Hah? Apa yang kau katakan baru saja, Lucia?” Mauren menyahut cepat. Mencoba mengkonfirmasi kebenaran dari hasil tangkapan indera telinga.
“Ah! Tidak, tidak. Maksudku, kakakku juga sangat menyukai kue macaron ini. Yah! Kau tahu sendiri, macaron memiliki rasa yang manis, bentuk serta warna yang menggemaskan bagi siapa saja."
Ha-ha-hh!
Lucia baru saja memaksakan tawa pada sang lawan bicara.
Beruntung, telah tiba pada giliran mereka berdua untuk memesan menu kue kering itu.
******
Sembari menyantap cemilan berwarna-warni tersebut, dua wanita cantik itu mengobrolkan suatu hal.
“Jadi, kau juga sempat berkuliah di luar negeri, Lucia?”
“Bukan sempat, Kak. Aku memang sedang berkuliah di sana. Saat ini, aku masih berada pada tahun ketiga perkuliahan. Aku kembali ke Indonesia hanya untuk sementara. Yah, di saat aku mengetahui jika kau dan Kak Brian mengalami kecelakaan bersama.”
“Maafkan aku, Lucia. Karena kecelakaan yang kami alami, kau harus mendadak pulang ke mari.”
“Tak apa. Lagi pula, aku juga rindu pada Papa dan Mama.”
Hening sesaat.
Mereka menjeda obrolan dengan menggigit macaron masing-masing.
Kemudian,
“Oh ya, Kak. Apakah kau tidak ingin tahu perihal kenangan-kenangan yang sedang kau lupakan itu? Jika iya, aku bisa menceritakan sedikit demi sedikit padamu.”
Ck!
“Memang, di masa lalu kau amat mengenalku, huh? Sampai-sampai kau menawarkan hal seperti itu.”
Issh,
“Tentu saja. Dahulu, kita amat akrab, Kak. Kita sudah seperti adik dan kakak.”
“Benarkah?”
“Tentu saja,” Lucia mengiyakan dengan penuh keyakinan.
Alih-alih antusias dengan tawaran yang Lucia berikan, Mauren justru memasamkan wajah.
“Mengapa kau justru menanggapi dengan gurat seperti itu, Kak?” Lucia bertanya heran.
Mauren mengedikkan bahu. Berkata, “Entahlah, Lucia. Kurasa, aku mulai menyukai diriku yang sekarang. Aku merasa lebih bahagia ketika tak mengingat kenangan di masa lalu itu. Menurutmu, apakah itu karena masa laluku terlalu suram, Lucia?”
Haha!
Lucia tergelak. Menyahut, “Suram bagaimana, Kak? Tentu saja, tidak.”
“Masa? Kurasa, masa laluku tak cukup baik. Lagi pula, bukankah kau sendiri yang berkata jika Papa dan Mamaku hanya sempat menjenguk selama satu kali? Dan, William juga membenarkan itu. Dia berkata, jika bertahun-tahun mereka selalu berada di luar negeri. Mungkin, karena itulah selama ini aku hanya mengenal akrab sosok Bik Idah dan Pak Narto saja ketika berada di rumah? Sepertinya, di masa lalu, aku itu amat kesepian. Jadi, untuk apa aku mengingat kenangan pahit itu, bukan?”
“Ta-tapi, Kak?”
“Huh? Tapi, apa? Katakan saja.”
“Tapi, ada seseorang yang sangat ingin kau ingat,” Lucia berujar ambigu.
“Seseorang? Siapa?”
“Kakakku.”
“Brian?”
“Benar, Kak. Dulu, kau dan Kak Brian itu amat dekat.”
“Benarkah? Bukankah, selama ini aku lebih akrab dengan William dan Andrew?”
“No! No,” Lucia menggerakkan jemari telunjuk pertanda ‘tidak’.
Mauren mengerutkan dahi.
Lalu,
“Lihatlah, Kak.”
Saat itu, Lucia menyodorkan layar ponsel ke arah Mauren. Beberapa foto tertampak di sana. Menampilkan sosok Brian dan Mauren sedang berswafoto. Memang, album foto itu tak hanya berisi gambaran Brian dan Mauren saja. Melainkan, ada sosok Lucia, Jonathan dan Fransiska.
“Sedari dulu, kau amat dekat dengan keluarga kami. Terbukti pada foto saat kita sedang berlibur ke Pulau Bali. Lihatlah, pada bagian potretmu bersama Kak Brian. Kalian amat akrab, bukan?”
Benar saja! Gambaran Mauren sedang berada di dalam rangkulan Brian, tertampak di dalam layar. Mereka berdua sedang tersenyum dengan lebar. Sungguh, dipenuhi dengan raut sumringah di wajah.
Pantas saja. Semalam, Brian tiba-tiba memelukku. Jadi, karena dia sedang benar-benar merindukan aku?