SUDDENLY HUG?

1143 Kata
Pada malam puncak sebuah acara musik. William menutup lagu yang dimainkan oleh band mereka dengan petikan gitar pelan. Beberapa petik yang menyertai akhir dari suara sang vokalis utama. Dengan artian, jika lagu penghujung yang mereka bawakan memang sengaja dinyanyikan untuk memberi makna terdalam. ****** Dan, “Kerja bagus semuanya,” Pihak manajemen berujar. Menepuk tangan; memberi simbol dukungan pada para personil band yang sedang dibawahi oleh William. Kini, hanya tersisa William dan seorang manajemen musik di dalam sebuah ruang. Pria berusia lebih matang dari William itu, sedang memuji hasil karya sang pemuda. Ia tak lupa memberikan amplop berisi sejumlah uang bayaran atas kerja keras William dan personil band yang lain. Kemudian, pria itu mulai mengatakan kalimat tak terduga. “Jangan bilang, jika kau sempat menolak tawaran dari pihak manajemen kami karena seorang wanita, Will?” “Hah?” Bola mata William terbelalak. “Mengapa kau terkejut seperti itu?” “Lantas, bagaimana bisa kau tahu?” William bertanya untuk menepis rasa ragu. Haha, Pria itu tergelak. Berkata, “Aku sudah menekuni dunia musik selama berpuluh tahun. Jadi, aku mengenali jenis musik beserta hal terkait. Termasuk, judul dan lirik. Sehingga, lagu-lagu ciptaanmu itu sudah pasti terinspirasi dari seorang wanita yang istimewa. Maka dari itu, kau enggan menolak tawaran kami, ketika kalian harus melakukan perjalanan keluar kota, bukan?” Sontak, William menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Ck! “Lihatlah. Tanggapanmu baru saja itu, membenarkan semua perkiraanku,” Sang pria kembali berujar. William tak mampu menyembunyikan gurat malu di wajah. Berkata, “Kau memang paling mengertiku, Hyeong?” “What? Kau memanggilku dengan panggilan apa, barusan?” “Hyeong!” William menekankan intonasi. Refleks, sang lawan bicara bergerak menunjuk arah William. Menyahut, “Sepertinya, wanita yang sedang kau sukai itu, berhasil memaksaku untuk mengadakan acara musik di Korea, hah?” William terbahak. Berkata, “Kalau begitu, segera adakan acara musik di Korea. Maka aku akan dengan senang hati untuk menjadi guest star-mu di sana.” Pada akhirnya, Pembicaraan antara dua pria terpaut usia dua puluh tahun itu, berakhir. Mereka menyudahi obrolan dengan beralih menyantap makanan dan minuman. ****** Telah tiba pada pukul dua belas malam. William dan Andrew telah berpindah ke dalam satu kamar. Kamar hotel yang dipesan dengan kriteria suite room itu, memberikan dua tempat tidur berukuran besar dan nyaman. Tentu, itu semua telah diminta khusus oleh William, agar ia tak berada pada satu ranjang dengan si pria pecicilan. Selain berisik dan banyak bicara, Andrew juga banyak bergerak. Baik, ketika ia sedang sadar atau pun tidak. Sehingga, William tak ingin sang sahabat mengganggu tidur nyenyaknya. Namun, Lain halnya ketika Mauren yang menjadi pengganggu. William justru dengan senang hati meladeni sang pujaan. Yah! Malam itu, William tetap tak bisa memejamkan mata. Tak lain, karena pesan yang ia terima dari seorang pasien wanita. **Mauren : “Will, apa kau sudah tidur?” **William : “Belum. Lantas, mengapa kau juga belum tidur?” **William : “Apakah kau lupa meminum obatmu pada malam hari ini, huh?” **Mauren : “Haha!” **Mauren : “Bagaimana aku bisa lupa untuk meminum obat? Itu adalah hal sakral yang harus kulakukan demi kesembuhan.” **William : “Lantas, mengapa obat itu belum menunjukkan efek mengantuk padamu?” **William : “Biasanya, kau selalu mendengkur usai meminum obat.” **Mauren : “Rese, kau! Mana pernah aku mendengkur?” **Mauren : “Lagi pula, aku memang sengaja belum tertidur karena menunggumu.” **William : “Menungguku?” **William : “Maksudmu? Kau sedang menungguku untuk pulang ke Jakarta?” **Mauren : “Haish!” (pesan disertai dengan emoticon marah dan gerak menonjok) **Mauren : “Awas saja, jika kau pulang sebelum waktunya, Will!” **Mauren : “Aku sengaja menunggumu selesai bermain band. Apakah acara musik tadi, berjalan dengan lancar?” **William : “Tentu saja. Anggota band kami telah melakukan yang terbaik.” **William : “Esok hari, kami juga akan memberi penampilan yang jauh lebih baik dari hari ini.” **Mauren : “Wah! Aku selalu suka dengan semangatmu.” Su-suka? Suka dengan semangatku? Akankah, suatu saat nanti kau juga menyukai sosokku, Mauren? William membatin. Sejenak, usai terbawa ke dalam perasaan. Haish! Apa yang baru saja kupikirkan? Ia mengeram setelah tersadar. **William : “Jika kau suka, maka segeralah sembuh. Tentu, agar kau dapat melihat penampilanku lagi.” Balasan itu terkirim. Sesaat usai William menghilangkan rasa di dalam agenda berkirim pesan. **Mauren : “Tentu saja.” Obrolan itu terus berlanjut hingga beberapa menit kemudian. Bahkan, jemari tangan Mauren hingga merasa kesemutan. Lalu, **Mauren : “Kalau begitu kau tidurlah, Will. Aku tak ingin kau bangun kesiangan dan melewatkan waktu saat briefing pagi.” **William : “Baiklah, kau juga.” Meski, sudah saling berpamitan untuk mengakhiri pesan. Tetap saja, William dan Mauren tak bisa benar-benar meletakkan ponsel. Sehingga, Apa yang sedang Mauren lakukan pada dini hari seperti ini? Brian membatin. Sesaat usai tak sengaja terbangun dari tidur. Sepertinya, Mauren sedang berkirim pesan dengan seseorang? Jangan-jangan— Spontan, Brian meraih telepon genggam. Mengaktifkan layar yang semula menghitam. Menggulir jemari pada sebuah aplikasi perpesanan. Dan, Ternyata benar, mereka berdua sedang berkirim pesan. Brian menyimpulkan. Sesaat setelah menjumpai nomor kontak William juga dalam keadaan online. Tiba-tiba, “Kau terbangun, Brian?” Mauren mengeluarkan suara. Bagaimana tidak, pada pukul setengah satu dini hari, suasana sepi telah menerpa seluruh penjuru ruang. Termasuk, koridor pada bagian depan kamar perawatan. Sehingga, suara cekikikan yang Mauren keluarkan, mampu membangunkan sosok Brian. “Seperti yang kau lihat. Aku baru saja mengerjap mata.” “Maaf, Brian. Maafkan aku. Apakah karena aku terlalu berisik, huh?” Hm, Brian berdehem. Menyahut, “Tak apa. Memang, sedari tadi kau sedang apa hingga tak tidur seperti itu?” “Ah! Ini, aku sedang berbalas pesan dengan William. Aku sudah meminta dia untuk tidur. Dia juga sudah berpamitan. Tapi, dia justru kembali mengirimiku pesan berisi lelucon lucu. Sehingga, aku membatalkan diri untuk tidur dan justru membuat gaduh. Maafkan tawaku, yang sempat membangunkanmu.” Saat itu, Brian beranjak dari posisi semula. Ia menghampiri sang pasien wanita. Mendongak ke arah ponsel Mauren tanpa permisi. Alih-alih tersinggung dengan sikap Brian, yang ingin tahu. Mauren justru memperlihatkan lelucon yang William kirimkan pada pria tersebut. “Lihatlah,” Mauren mengarahkan ponsel. Dan, tak terduga. Brian justru berkata, “Sebaiknya, kau beristirahat, Mauren. Esok pagi, kau akan kelelahan karena tak cukup waktu untuk tidur.” Hanya saja, sang pria tak sekedar mengeluarkan suara. Melainkan, ia menggerakkan tangan untuk meraih ponsel milik Mauren. Meletakkan ponsel itu ke atas nakas. Berujar, “Tidurlah, huh.” Mauren mendecap bibir. Menyahut, “Tapi, aku belum benar-benar mengantuk.” “Benarkah?” “Kalau begitu, haruskah aku membacakan dongeng untukmu?” Ck! “Dongeng? Kau kira, aku anak kecil, huh? Yang benar saja,” Mauren berujar. Menyemburkan tawa sumringah di wajah. Tiba-tiba, Mauren memekikkan suara, “BRIAN? Apa yang baru saja kau lakukan? Mengapa kau tiba-tiba memelukku, hah?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN