FREEFALL

1198 Kata
Dua hari kemudian. “Will? WILL?” Andrew menghentak. Sesaat usai tak dihiraukan oleh sang sahabat. Eh, Hh? “Ada apa, Drew?” Haish! “Aku sudah memanggilmu berulang kali. Tapi, kau diam saja. Apa kau melamun karena kepergian kita ini? Ah, seharusnya aku tak perlu bertanya. Kau pasti sedang memikirkan Mauren yang sedang berada berdua saja dengan Brian di Jakarta,” Andrew berujar. Benar. Hari itu, merupakan hari keberangkatan William bersama rekan satu band menuju Kota Bandung. Mereka akan tiba pada saat senja. Tentu, untuk segera tampil pada acara off-air yang diadakan oleh manajemen musik di sana. Dan, William? Ah! Pria itu masih saja termenung di dalam lamunan. Ia tak henti memikirkan Mauren, yang terpaksa ia tinggalkan bersama Brian. Meski begitu, William tak dapat berbuat banyak. Selain, Brian dan Mauren memang sepasang kekasih, Mauren juga akan marah jika William enggan untuk pergi. Sehingga, “Bisakah kita mengambil jadwal pulang lebih dulu saja, Drew?” “Apa kau bilang? Kau itu keterlaluan. Kita saja masih berada di dalam pesawat, Will. Kita belum tiba di Bandung. Kau justru sudah memikirkan waktu kepulangan. Kau pikir dirimu ini anak kecil, yang harus merengek untuk segera pulang seperti itu?” Issh! “Jika, kau hendak berkata ‘tidak bisa’, maka katakan saja langsung. Tak perlu mengoceh panjang lebar seperti itu kali, Drew.” “Habis, kau itu keterlaluan! Sudahlah, lebih baik mari kita bahas beberapa lagu yang akan kita mainkan nanti,” Andrew mengarahkan. Menyampaikan maksud dan tujuan ia memanggil nama William sedari tadi. Saat itu, di dalam sebuah pesawat yang sedang mengudara. Para personil band sedang membahas perihal lagu demi lagu, yang akan mereka bawakan. Acara musik akan diadakan selama tiga hari dua malam. Sehingga, mereka memerlukan beberapa judul agar para penonton tidak bosan. Benar saja! Selama berkuliah hingga sekarang, William tak sekedar menjadi seorang gitaris. Namun, ia juga seorang pencipta lagu romantis dan sendu. Benar-benar berbeda dengan pembawaan William yang dingin dan kaku. Bagaimana tidak, jauh di dalam lubuk hati pria itu, hanya ada kelembutan jika sudah menyangkut perasaan pada sang pujaan. Dan, yah! Hampir beberapa lagu yang William ciptakan itu, terinspirasi dari sosok Mauren. Nahasnya, Selama itu pula, Mauren tak pernah sadar. Wanita tersebut hanya berfokus pada Brian. Hhh! William menghembus napas berat. Sesaat usai menuntaskan obrolan bersama para anggota band. ****** Kini, William dan para personil band baru saja menapakkan tungkai pada area pemberhentian pesawat. Mereka berjalan dengan langkah lebar menuju sisi dalam ruang tunggu bandara. Dan, Para penggemar mereka bersorak dari kejauhan. Meneriakkan nama sang vokalis dan juga nama William. Selama itu, William juga kerap merangkap sebagai backing vocalis. Meski begitu, suara William tak boleh diragukan. Selain tampan, ia bersuara merdu dan memesona. Sehingga, tak salah jika ia juga digandrungi oleh banyak wanita; seperti halnya si vokalis band mereka. Tepukan tangan, sorak, teriakan dan pemberian hadiah selalu dilakukan oleh para penggemar. William hanya perlu menunduk sembari melempar senyum. Dan, para wanita itu akan mendukung penuh penampilan yang hendak mereka bawakan. “William—” “William—” “William—” Haish, “Sepertinya, band kita hampir tak membutuhkan vokalis karena ada kau, yang lebih popular, Will,” Andrew berbisik. Haha, “Kau bisa saja, Drew.” ****** Tak berapa lama, Mereka telah berpindah ke dalam sebuah mobil berwarna hitam. Mobil penjemputan yang sudah disediakan oleh pihak manajemen. Meski begitu, suara sorak sorai masih terdengar. Dan, “Lihatlah, Will. Band kalian patut diacungi jempol. Meski, belum merambah secara aktif ke dunia on-air, tapi penggemar kalian sudah sebanyak itu. Jadi, aku akan membawa paksa anggota band kalian, jika kau berani berniat menolak tawaran off-air kami lagi,” Seorang pihak manajemen berujar. Memberikan wanti-wanti. Hanya saja, si pria yang sedang diberikan pesan dengan sungguh-sungguh, justru tak mendengar. Waktu yang hampir tiba pada sebuah hotel, digunakan oleh sang pria itu menggulir jemari pada laman sosial media. Saat itu, ia menujukan pada profile Mauren. Yah, semenjak Mauren tersadar dan mendapat ponsel baru dari William, wanita tersebut mulai aktif menjalankan sosial media kembali. Meski, beberapa kali ia harus bertanya pada William dan Andrew mengenai para teman yang ia lupakan. Seperti, “Will, apakah dia adalah teman kita juga semasa berkuliah? Ataukah, semasa SMA?” William berdecak. Berkata, “Bukan! Dia itu orang asing yang tertarik pada setiap unggahanmu.” “Ah, pantas saja. Dia selalu memberi tanda suka pada unggahan yang kubuat.” Mengingat pertanyaan berisi kesimpulan konyol dari seorang Mauren, William refleks menyemburkan tawa geli di wajah. Sebelum, Sebuah unggahan terbaru terlihat di dalam bola foto profile. Tak lain, sebuah video yang diunggah hanya dalam beberapa detik saja. Saat itu, video di dalam layar ponsel sedang menunjuk pada gambaran Brian, yang tak lagi berjalan menggunakan kedua tongkat. Ah! Jadi, dia sedang memamerkan diri pada Mauren, jika sudah boleh menapak dengan normal. Pada saat bersamaan, “Apa yang sedang kau lihat, Will? Kuperhatikan gurat di wajahmu langsung berubah drastis?” Andrew bertanya. Meski begitu, ia tak sekedar menggeluarkan suara. Melainkan, bergerak meraih ponsel milik sang sahabat. Haha, Andrew terbahak. Berujar, “Jadi, ini gara-gara Brian?” Haish! William mengeram. Merampas telepon genggam. Berkata, “Apa kau senang, hah? Setelah melihatku menjadi cemburu seperti tadi?” Andrew memanggutkan dagu. Menyiratkan jawaban dari mimik wajah. “Sialan, kau!” William memukul bahu sang sahabat dengan kepalan. “Sebenarnya, aku tak tahu harus memberimu jawaban seperti apa. Karena, saat melihat Brian cemburu padamu, aku pun tak bisa berkata apa-apa. Haruskah aku membelamu? Ataukah, aku membela Brian? Hening sesaat. William sedang berpikir dalam pada ucapan Andrew. Tentu saja. Jika aku menjadi Andrew, aku juga akan kebingungan seperti dia. Lalu, “Haish! Sudahlah. Aku pusing sekali setiap harus memikirkan kalian. Lebih baik, aku menggunakan sisa waktu untuk molor saja,” Andrew menambahkan. Huh! William mendengus. Beralih menyandarkan kepala pada dudukan dengan kasar. Pada saat bersamaan, ponsel William bergetar. Memunculkan nama seorang wanita, yang tak henti berkeliling di kepala. **Mauren : “Hai, Will? Bagaimana? Apakah kalian sudah tiba di Bandung?” Tanpa banyak berpikir, jemari William spontan mengetikkan jawaban. **William : “Tentu saja. Kami baru saja tiba di bandara. Sekarang, kami sedang menuju ke hotel untuk bersiap sebelum tampil pada acara nanti malam.” **Mauren : “Baguslah. Kalau begitu, kau dan Andrew berfokus saja pada penampilan. Jangan mencemaskan aku di sini.” **Mauren : “Brian benar-benar menjagaku dengan baik sekarang. Asal kau tahu, dia sudah berjalan dengan normal. Tak lagi menggunakan tongkat.” **Mauren : “Jadi, aku bisa meminta bantuan ini dan itu; seperti halnya yang kerap kutujukan padamu.” **Mauren : “Pokoknya, aku benar-benar aman berada bersama Brian.” Membaca pesan bertubi yang Mauren kirimkan, William hanya bisa membendung diri dengan kesabaran. Bagaimana tidak, jika satu hari berada bersama Brian, membuat Mauren merasa aman. Bisa jadi, setelah berhari-hari, wanita itu akan mengubah rasa aman menjadi nyaman. Sontak, “Drew?” “Ada apa, Will?” Andrew menyahut. Masih dengan gerak memejamkan mata sembari menyandarkan kepala pada sandaran jok mobil. “Setelah acara musik ini selesai, aku ingin bermain paralayang di Bukit Gantole Bogor tanpa menggunakan parasut, Drew.” “APA?” Sontak, Andrew memekik tajam. Teriakan itu membuat seisi kendaraan menjadi menoleh ke arah mereka berdua. “APA KAU SUDAH GILA, Will? Itu namanya, kau sedang terjun bebas!”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN