I'M NOT WILLING

1161 Kata
Senja ini. Mauren sedang berjalan-jalan. Tentu saja, dengan ditemani oleh William. “Will, menurutmu kapan aku diperbolehkan untuk pulang?” “Apakah kau sudah merasa bosan tinggal di rumah sakit?” “Tentu saja. Selain itu, pasti biaya pengobatan dan perawatanku di sini, teramat memusingkan dirimu. Tapi, kau tenang saja. Setelah keluar dari rumah sakit dan kembali bekerja, aku akan melunasi semua tagihan yang kau bayarkan.” William melongo. Mauren berkata, “Mengapa ekspresimu seperti itu, Will? Memang, ada yang salah dari kalimatku?” “Salah! Salah besar, Mauren. Selagi kau berada di rumah sakit, aku tak benar-benar membayarkan semua tagihan untukmu. Om Martin dan Tante Jessy sempat mendepositkan sejumlah uang. Memang benar, jika mereka tak pernah ada waktu untukmu. Tapi—” “Tapi, aku tak membutuhkan harta kekayaan mereka, Will. Aku bisa melunasi tagihan itu dengan jerih payahku. Mengapa kau tak menghalangi mereka berdua pada waktu itu?” William mengerutkan wajah. Menyahut, “Tapi, tetap saja. Om Martin dan Tante Jessy adalah orang tuamu, Mauren.” “Lantas, bagaimana dengan dirimu, Will? Bukankah, setelah lulus dari perkuliahan kau juga enggan menerima sepeser pun dari Om Maxim?” GLEK! William menelan ludah. Bagaimana bisa ucapanku menjadi boomerang seperti ini? “Baiklah, baiklah. Aku salah karena tak menghalangi mereka berdua. Meski begitu, kau jangan pikirkan perihal biaya. Seharusnya, kau bersyukur karena masih bisa mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit ini. Sementara, sebagian orang mungkin tak seberuntung kau. Kau tahu sendiri, biaya operasi bedah kepala dan kebutuhan lain, tidaklah murah.” Hhh, Mauren menghela napas panjang. Berkata, “Kau memang benar, Will. Ini semua disebabkan karena rasa kesalku pada Papa dan Mama. Bagaimana mungkin mereka hanya menjengukku selama satu kali?” “Bagaimana bisa kau tahu perihal itu, Mauren?” “Waktu itu, Lucia sempat bercerita panjang lebar. Dan, dia mengatakan perihal kunjungan Papa dan Mama sewaktu aku masih dalam keadaan tidak sadar.” William memanggutkan dagu. Pantas saja, Mauren menjadi tahu. Di sela mereka mengobrol di area taman, beberapa pengunjung terlihat memusatkan perhatian pada Mauren. Yah! Itu semua disebabkan karena perban yang masih menempel pada sebelah sisi kepala Mauren. Sebuah gambaran, yang bisa menjadi ngilu bagi sebagian orang. Melihat kejadian itu, William segera memindahkan tubuh. Ia bergerak menyampingi posisi perban pada kepala sang pujaan. Berharap, agar orang-orang itu tak lagi bisa melihat benda berwarna putih, yang sengaja dililitkan dengan rapat. Ck! Mauren berdecik. Berujar, “Apakah kau sedang melindungi sisi kepalaku dari pandangan mereka, Will?” “Tentu saja. Aku tak ingin membuatmu merasa tak nyaman saat orang-orang memandangmu dengan tajam seperti itu.” Sontak, Mauren menggerakkan tangan. Ia menyentuh sebelah sisi lengan milik William. Mengarahkan pria tersebut hingga berhadapan tepat pada sisi wajah. Berkata, “Sungguh, aku tak apa, Will. Aku mulai terbiasa. Lagi pula, bukankah dengan begini aku bisa menginspirasi keluarga pasien lain?” Issh! “Menginspirasi bagaimana?” “Dengan begini, keluarga pasien yang mengalami hal sama denganku, akan menjadi lebih kuat dan optimis. Jika, pasien-pasien seperti kami ini, juga bisa bertahan dengan sebaik mungkin. Bukankah begitu, huh?” Mauren menyahut. Memandang penuh keteduhan. Menampakkan raut dengan hati yang besar. Hhh, Kali itu, helaan napas panjang berasal dari indera seorang William. Ia bergumam. Jika begini, maka akan lebih susah bagiku untuk merelakanmu pada Brian, Mauren. Kau benar-benar wanita yang sangat aku idam-idamkan. “HEI? Will? Mengapa memandangku seperti itu?” Mauren kembali mengeluarkan suara. Tak lupa, ia juga menggerakkan telapak tangan kanan menuju sisi pandangan William. William tergelak. Menggaruk tengkuk secara singkat. Menutupi gurat salah tingkah di wajah. “Sebaiknya, kita kembali. Hari akan beranjak petang,” William mengajak. “Tunggu, Will!” Suara Mauren membuat William menghentikan aktivitas mendorong kursi roda. “Ada apa?” “Bukankah, malam hari akan menunjuk waktu yang lebih indah? Bintang-bintang bertaburan di angkasa.” Issh! “Kau benar, Mauren. Tapi, nyamuk-nyamuk juga akan mengantri untuk menghisap darah kita,” William menyahut. Bergidik ngeri pada sang wanita. Sesuai dugaan, Mauren segera terbahak dalam tawa. ****** Kini, waktu telah menunjuk pada saat makan malam. “Mauren, apakah kau ingin kupesankan makanan?” William menawarkan. “Tidak, Will.” “Tumben?” “Aku merasa sungkan padamu. Selama ini, kau selalu menghabiskan jatah makan dari rumah sakit. Sedangkan, aku selalu kau pesankan makanan ini dan itu dari luar sana.” Haha, Mauren mengakhiri ucapan dengan gelak tawa. “Dasar, kau. Berlaga sungkan segala,” William menyahut sembari menarik sisi hidung Mauren. Aw! Mauren memekik. Ia bergerak menyentuh sisi tulang rusuk. Sesaat usai gerak tarikan hidung dari William, menyebabkan tubuh Mauren menjadi condong ke arah depan. “Apa, huh? Apa? Sekarang, kau berlaga kesakitan, hah? Apakah kau ingin aku menggelitikmu karena selalu berpura-pura seperti itu?” Lagi-lagi, Mauren tertawa. Berkata, “Kau itu tahu saja.” Issh! William berdesis. Menggeleng sembari membalas tawa sang pasien wanita. Selagi menunggu menu makanan yang dipesan oleh William, Mauren mengajukan pertanyaan tak terduga. “Will, lusa kau akan berangkat, bukan?” Uhuk! Saat itu, air mineral yang William teguk menjadi bahan kesedakan di tenggorokan. “Ber-berangkat ke mana?” Ia bertanya. Berpura-pura tak peka dengan kalimat tanya, yang Mauren tujukan. “Ke Bandung? Kau akan berangkat, bukan?” Haish, William mengeram. Berujar, “Ini pasti gara-gara Andrew, kan?” Mauren memasamkan wajah. Menghunus tajam manik mata William. Ih, “Kau menyeramkan, Mauren. Tatapanmu itu horor sekali.” Huh! Mauren mendengus. Berkata, “Kau jangan mengalihkan pembicaraan, Will. Kau tak berniat untuk membatalkan keberangkatanmu bersama Andrew hanya gara-gara aku, kan?” William terbahak. Menyahut, “Tentu. Tentu saja, tidak.” “Jangan bohong!” Mauren menelisik. “Baiklah, baiklah. Aku memang berencana untuk membatalkan keberangkatan kami. Rencananya malam ini, aku akan mengabarkan keputusan itu pada pihak manajemen.” Sontak, “Kau tak waras ya, Will?” Suara Mauren memekik. Astaga! Dia mengejutkan aku saja. Sang pria membatin seusai tersentak. “Bagaimana bisa kau membatalkan tawaran off-air dengan bayaran sebesar itu, hah?” Sang wanita melanjutkan kalimat. “Kau itu, tak hanya bermain band seorang diri. Tapi, ada Andrew dan teman satu band-mu yang lain. Bagaimana bisa kau tak memikirkan nasib mereka?” Mendengar Mauren mengoceh ini dan itu, William justru merekahkan senyum. Mauren hingga merasa kesal. Ia memutuskan untuk menghujam William dengan berbagai cubitan di segala sisi lengan. Setelah kapok, barulah William berpasarah. Mengiyakan, “Baiklah, baiklah. Kami akan tetap berangkat.” “Nah! Begitu dong. Awas saja, jika kau menjadikan aku sebagai alasan lagi. Aku tak segan-segan untuk menonjokmu,” Mauren mengancam. Ia menunjukkan bogem kecil pada kepalan tangan kanan. Spontan, William menyentuh sisi kepalan itu. Mauren tercengang. Seketika, pandangan mereka tercekat dalam arah bidik pandang satu sama lain. Sepersekian detik kemudian. Drrt drrt! Ponsel William bergetar. Memunculkan nama Brian di dalam layar. “Angkatlah, Will,” Mauren mengijinkan. Kini, mereka tak lagi berada di dalam suasana kikuk seperti sedia kala. William sedang tersambung dengan penelepon di seberang. Dan, Mauren berujar lirih. Lebih tepatnya, ia berkomat-kamit. Menggerakan sudut bibir. Berucap, “Mintalah agar Brian menjagaku selagi kalian berdua pergi, Will.” Sang pria berdecak. APA? Sungguh, aku tak rela.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN