BE YOURS

1161 Kata
Hari berlalu. Kini, tiba saat Brian harus melakukan kontrol ulang. Tepatnya, pada empat minggu usai menggunakan gips pada tungkai kanan. “Kak, bagaimana? Apa kau senang?” Lucia bertanya. Sesaat usai mereka berdua keluar dari dalam sebuah ruang. “Tentu saja, Lucia. Setelah ini, aku akan lebih mudah bergerak ke sana dan ke mari. Aku tak perlu ragu saat harus membantu Mauren melakukan ini dan itu.” Issh! “Kau ini, Kak. Di dalam pikiranmu itu hanya ada Kak Mauren. Seharusnya, kau berkata jika setelah benar-benar sembuh, kau akan mengajakku berjalan-jalan. Hh! Padahal, adikmu ini tak lama lagi akan kembali ke luar negeri. Tapi, kau masih saja tak menyempatkan waktu untuk menghabiskan waktu bersamaku,” Lucia menggerutu. “Maka dari itu, kau carilah kekasih agar ada yang memperhatikan dan menemanimu ke sana ke mari.” “Hia! Mengapa kau jadi membahas perihal pacar? Asal kau tahu, aku lebih suka sendiri.” “Kalau begitu, kau jangan cemburu pada Mauren.” Haish! Lucia mengeram. Sang kakak benar-benar tak bisa memahami keinginan dirinya. Pada saat bersamaan. “Drew?” Brian menyapa. Sesaat usai tiba pada lantai sembilan. Andrew tak menyahut. Ia hanya menghembus napas panjang. Memperhatikan sang teman, yang tak lagi terduduk di kursi roda. Melainkan, sedang berjalan dengan menggunakan dua alat penyangga jalan. Sret, Daun pintu kamar VIP bergeser. “Kau lama sekali, Drew?” Suara William terdengar. Namun, seketika pria tersebut menghentikan kalimat yang hendak ia lontarkan. Tak lain, saat menjumpai Brian dan Lucia sedang berjalan di belakang sisi Andrew. “Hai? Kalian juga ke mari?” Mauren menyapa sumringah. Benar saja, semenjak kali terakhir, Andrew dan William menjadi lebih over protektif. Mereka berdua tak mengijinkan siapa pun untuk masuk ke dalam ruang, kecuali dokter dan perawat yang bertugas. “Wah! Aku senang sekali. Kau sudah boleh berjalan, Brian,” Mauren berseru senang. Sekali pun, belum ada wacana perihal kepulangan Mauren dari rumah sakit. Namun, wanita itu sama sekali tak merasa berkecil hati. Melihat kondisi Brian yang semakin membaik, turut timbul perasaan senang di dalam diri. “Kalau begitu, sebaiknya kita merayakan kabar baik ini dengan makan-makan,” Lucia menimpali ucapan Mauren pada Brian. Mauren menyunggingkan senyum dengan lebar. Ia tak pernah menolak ajakan orang lain untuk menyantap menu hidangan bersama-sama. Mengingat, selama ini Mauren selalu merasa kesepian. Hanya ada para pelayan dan sopir di rumah. Sudah bertahun-tahun, Mauren hanya menghabiskan waktu dengan mereka. Para pekerja yang hanya bertugas untuk melayani sang majikan muda. ****** Satu jam kemudian. Acara makan bersama di dalam kamar perawatan VIP baru saja tuntas. Lucia terlihat membereskan sisa makanan dan bungkus-bungkus dari menu seafood yang telah mereka pesan. Selagi berberes, Andrew terlihat menawarkan bantuan. Sementara itu, dua orang pria lain sedang terduduk di samping kiri dan kanan ranjang perawatan. Baik, William dan Brian sedang berjaga. Seolah, mereka takkan memberi kesempatan pada satu sama lain, untuk mengambil poin lebih dulu. Dan, “Mauren, apakah kau ingin aku mengupaskan apel untukmu?” William menawarkan. “Kalau begitu, aku akan mengupas buah pir untukmu, Mauren,” Brian menambahkan. Mauren tercengang. Bergumam. Ada apa dengan mereka berdua? Sedangkan, tanpa diberi persetujuan, para lelaki tersebut bersibuk dengan buah dan pisau pada tangan masing-masing. Melihat hal tersebut, Lucia dan Andrew saling berbisik. “Seandainya, bulan ini adalah bulan peringatan kemerdekaan, mereka berdua akan pantas sekali untuk diikut sertakan dalam perlombaan,” Andrew berujar. Lucia mendegus sembari bersindekap. Menyahut, “Aku setuju pada ucapanmu, Kak. Mereka benar-benar membuatku frustasi.” “Mengapa kau yang frustasi?” Andrew bertanya heran. Menatap seorang wanita yang memiliki tinggi badan lebih rendah dari dirinya. “Tentu saja. Kini, aku mulai mendukung Kak William. Sedangkan, Kak Brian tetap kakakku yang harus kudukung dengan penuh. Haish! Mereka benar-benar memusingkan kepalaku,” Lucia berucap. Sesaat usai melihat Brian dan William berebut untuk menyuapkan potongan buah pada Mauren. Lucunya, Alih-alih memakan salah satu dari buah pemberian mereka, sang pasien wanita justru mengambil masing-masing satu potong dari buah apel dan pir. Kemudian, memasukkan buah-buah tersebut ke dalam mulut bersamaan. Berkata, “Apakah kalian puas, sekarang?” William dan Brian sontak menggaruk tengkuk bersamaan. Hhh! Dasar, kekanak kanakan. Andrew bergumam. Menggeleng kepala berulang. Lalu, “Oh, ya. Kata dokter, mulai kapan Brian akan berjalan dengan normal tanpa menggunakan tongkat jalan, Lucia?” Andrew bertanya. “Sepertinya, takkan lama. Esok hari, Kak Brian akan mulai menjalani latihan fisik dengan rawat jalan. Dan, pada saat itu juga para petugas penunjang medik akan memeriksa nilai kekuatan otot tungkai milik Kak Brian. Bisa jadi, kalau hasilnya cukup baik. Maka, dia akan segera diperbolehkan untuk menapak tanpa bantuan tongkat.” Ck! Andrew berdecak. “Mengapa tanggapanmu seperti itu, Kak?” “Tak heran. Brian sudah pasti akan mendapat ijin untuk melepas tongkat dalam waktu dekat. Apa kau lupa, huh? Semasa SMA, Brian dan William itu sama-sama pelari yang baik. Yah! Meski, Brian belum pernah memenangkan ajang lari marathon seperti William. Tapi, kurasa perihal kekuatan otot pada tungkai, Brian tak kalah dengan William.” “Lantas, bagaimana dengan tungkaimu, Kak? Apakah kau juga sama dengan mereka berdua?” Lucia bertanya tak terduga. Andrew melongo singkat. Berkata, “Tentu saja! Aku ini juga pelari yang handal. Seseorang yang pandai lari dari kenyataan.” Haha! Lagi-lagi, Andrew menyahut dengan kekehan lebar. Lucia selalu tertawa usai mendengar setiap kelakar, yang dilontarkan oleh seorang Andrew Jeffery Jaxon. Dasar, Kak Andrew memang tak pernah berubah. Tiba-tiba, “HEI! Drew?” “Mauren?” Suara William dan Brian terdengar. Berseru memanggil dua orang muda mudi yang sedang bersindekap kompak. “Ada apa, Kak?” Lucia menyahut pada Brian. Sedangkan, Andrew hanya menatap dengan isyarat ‘iya’ pada William. “Kaliam berdua ke marilah,” William menginstruksi. “Ada apa, Will?” Andrew bertanya. “Aku dan Brian selalu seri saat melakukan batu gunting kertas. Bisakah kalian menggantikan kami?” “WHAT?” Lucia dan Andrew memekikkan suara bersamaan. “Iya, Lucia. Kami memutuskan untuk melakukan batu gunting kertas. Siapa pun yang menang, berhak mengajak Mauren keluar untuk berjalan-jalan,” Brian menjelaskan. “Hah?” Lagi-lagi, Lucia dan Andrew memberi tanggapan dengan kompak. Dan, Permainan tangan dimulai! Sialnya, Brian harus kalah karena Lucia tak berhasil memenangkan diri dari sosok Andrew. Sontak, Andrew dan William melakukan tepukan ala pria. “Thanks, Bro. Kau memang yang terbaik,” William memuji. Sementara itu, sang pasien wanita masih terheran dengan sikap para pemuda di sana. Kemudian, “Kalau begitu, kau pulang saja, Brian,” William berujar. Mengusir sang sahabat tanpa basa-basi. Beralih membantu Mauren untuk berpindah dari atas ranjang menuju dudukan di kursi roda. Haish! Brian mengeram. Lucia menyadari gurat kesal di wajah sang kakak. Sembari mengarahkan Brian menuju sisi luar kamar, Lucia berpesan, “Anggap saja, ini merupakan jalan dari Tuhan. Tuhan belum mengkehendaki kau menemani Kak Mauren berjalan-jalan. Kau kan, masih—” Melihat sang adik mengarahkan pandang pada dua tongkat, yang ia gunakan. Brian segera melapangkan diri. “Jadi, kau tenang saja. Setelah, tak lagi menggunakan tongkat, Kak Mauren pasti akan berada di dalam genggamanmu, Kak,” Lucia menambahkan. “Begitukah?” Issh! “Tentu saja.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN