“KAU? Mengapa kau masih berada di sini, hah? Aku sudah berkata padamu untuk tak lagi menampakkan diri,” Brian berbisik lirih. Namun, bisikan itu penuh dengan gurat mengintimidasi.
Meski begitu, wanita yang tiba dengan balutan dress berwarna plum tersebut, sama sekali tak mengindahkan. Priscilla benar-benar wanita yang tak jera dengan ucapan seperti demikian.
Ck!
Alih-alih menjawab, Priscilla justru berdecik. Bersindekap sembari memasang gurat bahagia di wajah.
“Sudah kukatakan, aku takkan ikut bersamamu untuk melanjutkan S2 di Inggris. Mengapa kau masih bersikeras?” Brian kembali berujar.
“Sudah kukatakan juga, Brian. Kau dan Mauren itu takkan bisa bersatu lagi. Lihatlah! Sekarang, sudah ada William dan Andrew yang setia menemani dia. Lagi pula, apa kau lupa dengan hal yang sudah kau lakukan selagi sedang berkuliah di luar negeri, hah? Jika saja, Mauren tahu akan semua perbuatanmu di sana. Maka, habislah kau, Brian. Jadi, jangan membuang waktumu di sini. Ikutlah bersamaku, huh?”
“KAU?” Brian mengeram. Mengerakkan jemari untuk menunjuk kejam pada sosok sang lawan bicara.
“Apa, huh? Apa? Aku akan selalu menghalangi kisah cinta kalian selagi bisa. Jadi, langkahi dulu mayatku jika kau ingin aku berhenti mengganggu.”
“Sadarlah, Prisc! Kau itu tak sedang menyukai dan mencintaiku. Kau hanya sedang terobsesi padaku,” Brian menekankan kalimat. Menyimpulkan perasaan yang Priscilla miliki pada dirinya.
Meski begitu, Priscilla tetap tak mau tahu. Dia tetap berteguh dengan perasaan itu.
******
Kini, hari berganti malam. Tepatnya, pada saat sang pasien baru saja menuntaskan menu makan yang dihidangkan.
“Mauren, ini,” Brian menyodorkan beberapa kapsul obat kepada sang pasien.
Dahi Mauren mengernyit. Ia bertanya, “Mengapa malam ini jenis obatku berbeda, Brian? Kau tidak salah, bukan?”
Mendengar pertanyaan Mauren, sang pria menghembus napas berat. Sungguh, ia kecewa. Lagi-lagi, Mauren membuat ia seperti seorang penjaga yang tidak becus.
Padahal,
“Setelah dokter memeriksamu pagi tadi, dia meresepkan obat baru untuk kau minum pada malam ini,” Brian memberi informasi.
“Ah,” Mauren menyahut dengan anggukan kepala. Mengarahkan tiga butir obat ke dalam mulut secara bergantian.
Brian menyodorkan botol berisi air mineral.
“Setelah ini, adakah yang ingin kau lakukan, Mauren?” Brian bertanya.
Mauren berdehem sejenak. Ia berpikir. Lalu, “Bagaimana jika sembari menungguku mengantuk karena efek obat, kau bercerita saja perihal masa berkuliah di luar negeri? Aku ingin mendengar ceritamu. Apakah kau memiliki kekasih di sana? Seseorang dengan warga negara Inggris?” Mauren bertanya. Menyemburkan gurat antusias di wajah.
Brian spontan tergagap. Berkata, “Apa yang sedang kau tanyakan Mauren?”
“Memang, kau tak mendengar dengan jelas perihal pertanyaanku, Brian? Cih! Kau ini seperti Bik Idah saja; selalu mengkonfirmasi ucapanku. Padahal, kalian sama-sama berpendengaran normal,” Mauren berdecak. Ia menanggapi pertanyaan Brian dengan candaan.
Sontak,
Dasar! Kau masih saja sama, Mauren. Masih dipenuhi dengan keceriaan. Brian bergumam. Mengingat beberapa momen saat dahulu ia kerap bercanda dengan sang pujaan.
“Jadi, bagaimana? Apa kau memiliki seorang kekasih di sana?” Mauren kembali mengajukan pertanyaan yang sama.
“Tidak.”
“Ah? Tidak? Benarkah? Padahal, jika kulihat-lihat wajahmu cukup tampan. Dan, cukup untuk dijadikan tipe para gadis di sana. Issh! Ini aneh sekali. Jangan-jangan kau—” Mauren mengerlingkan mata. Mencoba menggoda Brian dengan gurauan yang masih ia simpan di dalam kepala.
“Jangan-jangan apa, hah?” Brian menyahut. Menggerakkan jemari untuk menggelitik sisi samping perut sang pasien.
Tanpa sadar, mereka berdua mulai berada di dalam keadaan yang cukup nyaman. Yah! Itu semua berkat Mauren yang selalu mampu mencairkan suasana.
Dan,
Aw!
Mauren memekik. Seketika, rasa nyeri pada sisi tulang rusuk kembali menyelinap.
“Apa kau tak apa, Mauren?” Brian bertanya cemas. Sama persis dengan yang kerap William tunjukkan saat sang pujaan memekik kesakitan.
Sembari mengernyit, Mauren menyahut ‘tak apa’ pada Brian.
Pada saat bersamaan.
Ponsel Brian bergetar. Memunculkan nama Lucia di dalam kolom notifikasi pesan.
**Lucia : “HEI? Kak? Apa sebaiknya aku pulang lagi saja?”
Usai membaca pesan tersebut, Brian spontan menoleh pada sisi jendela tembus pandang yang melekat pada seperbagian pintu ruang. Saat itu, bayangan Lucia terlihat mengintip di sana. Refleks, Brian merekahkan senyum. Merasa salah tingkah ketika mendapati dirinya sedang bergurau akrab dengan Mauren.
“Ada apa, Brian? Apa kekasihmu baru saja mengirim pesan?” Mauren memecah lamunan singkat sang pria.
“Kubilang, aku tak memiliki seorang kekasih di sana.”
Umh,
“Itu berarti kau memiliki seorang kekasih di sini?” Mauren menyatakan tanya saat menyadari kejanggalan dari kalimat Brian.
Benar! Jika Brian sedang tak dalam berstatus hubungan, seharusnya ia memberi jawaban yang jelas. Bukan sebuah kalimat, yang bisa mengandung arti lain seperti itu.
Beruntung,
Lucia baru saja memutuskan untuk menggeser daun pintu ruang. Pembicaraan Brian dan Mauren berakhir begitu saja. Sesaat usai Lucia menyapa dengan suara lantang dan lambaian tangan.
“Hai, Kak?”
“Hai, Lucia. Apakah kau ke mari karena hendak menjemput kakakmu?” Mauren mengkonfirmasi kehadiran adik perempuan Brian.
“Tentu saja. Tapi, jika kau tak mengijinkan. Maka, aku akan membiarkan kakakku untuk menetap satu malam lagi di sini,” Lucia menyahut pada Mauren. Namun, masih dengan tatapan menyeringai jahil pada sang kakak.
Haha,
“Tidak, tidak. Tentu saja, aku akan mengijinkan kau untuk membawa dia. Lagi pula, Brian pasti sangat lelah. Sudah jelas, jika sofa di dalam kamar VIP ini tak begitu nyaman dengan kasur empuk di rumah kalian.”
Lucia melempar senyum. Merasa senang saat mendapati sosok Mauren mulai terbiasa dengan kehadiran mereka berdua. Tak begitu menampakkan gurat canggung seperti sedia kala. Berkata, "Tapi, Kak Brian merasa nyaman setiap kali berada didekatmu."
"Hah?" Mauren melongo.
Brian sontak mendelik pada Lucia.
“Tidak, Kak. Tidak. Kalau begitu kami akan pamit pulang. Kau jangan khawatir. Kak Andrew sedang berada di lantai dia. Tadi, dia sempat mengirimiku pesan. Dia berkata hendak membeli kopi sebelum menggantikan posisi kakakku di sini,” Lucia mengabarkan.
“Baiklah, kalian pergilah. Aku tak apa. Andrew pasti akan segera tiba,” Mauren menyahut. Menyaksikan bayangan Brian yang telah dibawa pergi oleh sosok Lucia.
Entah mengapa, usai melepas suasana kikuk dengan Brian, Mauren merasakan getaran yang cukup berbeda. Seolah, ia memiliki rasa pada sang pria.
Apa maksud dari ucapan Lucia tadi? Dan, apa yang sedang kupikirkan, hah? Mauren berdecak pada diri sendiri. Menggeleng berulang kali.
******
Namun,
Baru saja, Andrew memasuki ruang perawatan VIP.
Ia telah mendapati seorang pasien wanita sedang tertidur pulas di atas ranjang. Benar saja, efek mengantuk dari obat yang Mauren konsumsi sudah pasti telah bereaksi.
Sehingga,
Malam itu, hanya ada Andrew yang sedang bersibuk menyesap kopi sembari menonton acara di dalam layar televisi.
Hanya saja,
Pada beberapa saat kemudian, terdengar suara Mauren sedang berseru kelabakan. Ia seolah sedang ingin keluar dari dalam sebuah mimpi buruk.
“MAUREN? Mauren? Apa kau tak apa? Mauren, bangunlah,” Andrew berseru berkali-kali. Berusaha membangunkan wanita tersebut dari alam mimpi.
Dan,
Hh! Hh, hh—
Mauren menghela napas pendek dengan ritme cepat. Berkata, “Drew, baru saja aku bermimpi aneh. Aku bermimpi sedang berada di bandara. Dan, seorang wanita terlihat menertawakanku dengan penuh senyum culas di wajah. Lalu—”
“Lalu apa, Mauren?” Andrew bertanya menyelidik.
“Lalu, seorang pria juga terlihat menertawakanku dari kejauhan.”
Jika, Mauren sempat merasakan getaran yang berbeda; seolah memiliki rasa pada Brian. Lantas, mengapa ia selalu bermimpi buruk seperti demikian?