UNHOLY

1087 Kata
Tiba-tiba, “Brian?” Suara seorang wanita terdengar. Wanita itu berhasil membuyarkan fokus pembicaraan yang sedang berlangsung diantara dua orang. Brian menoleh. Sontak, ia menatap tak suka pada sosok Priscilla. Berkata, “Kau sedang apa di sini?” Priscilla menyunggingkan senyum culas di wajah. Seketika, Ngiiing! Telinga Mauren kembali berdenging. Kepala sang pasien terasa sakit dan pening. Sesaat usai menatap wajah wanita tersebut. Sebuah wajah disertai senyum yang hampir teringat di dalam memori. Bayang-bayang perihal kali terakhir Mauren membuka mata, spontan terngiang. Tak lain, saat mobil yang Mauren kendarai terpelanting hebat. Dan, di saat kendaraan tersebut terguling, ia sempat melihat senyum culas di wajah seorang wanita yang juga menjadi korban kecelakaan. A-apa yang terjadi padaku? Mauren bergumam. Menyentuh sisi pelipis untuk menepis rasa sakit yang mendalam. Beruntung, “Mauren?” Andrew segera mendapati sosok pasien yang sedang ia jaga. Tanpa banyak bicara, Andrew berlari. Melangkahkan kaki dengan lebar hingga menggapai sisi Mauren berada. Dan, “KAU?” Andrew memekik pada Priscilla. Haish! “Kalian berdua ini!” Ia melanjutkan dengan berdecak. Setelah itu, Andrew membawa Mauren untuk pergi dari hadapan Brian dan Priscilla. Meski begitu, rasa penasaran berkeliling di kepala. Mauren memutuskan untuk menoleh ke arah belakang. Memastikan sekali lagi, perihal sosok wanita yang baru saja menyapa Brian. “Drew?” Mauren bersuara. “Iya, Mauren?” “Mengapa—” Sstt! “Kau tak perlu bertanya. Dan, jangan pikiran apa pun di dalam kepala. Aku akan membawamu ke dalam kamar perawatan. Pasti, rasa pusing di kepalamu kembali kambuh, bukan?” “Bagaimana kau bisa tahu, Drew?” “Sudahlah! Kubilang, kau jangan terlalu banyak bicara dahulu,” Andrew menegaskan ucapan. Mauren menurut tanpa berniat memberi sanggahan dengan sebaris kalimat. ****** Setiba di dalam kamar perawatan. Andrew baru saja memindahkan pasien wanita tersebut ke atas ranjang. Kemudian berujar, “Mauren, tunggulah sebentar. Aku akan memanggilkan dokter untukmu.” “Tidak, Drew!” Mauren menolak. Ia melayangkan cekalan tangan. “Tapi, Mauren? Tadi, kau sempat mendengar bunyi berdenging. Dan, kepalamu itu kembali merasa pening. Dokter harus tahu. Ia harus mengecekmu,” Andrew bersikeras. Kali itu, sang pria bergegas pergi dari dalam ruang. Jika tidak, Andrew akan termakan bujuk rayu dari Mauren. Tak lain, untuk mengurungkan niat Andrew dalam memanggil dokter penanggung jawab. Tak menunggu lama. Seorang dokter dan perawat baru saja tiba. Pria berpakaian rapi dan bersetelan jas dokter segera memeriksa kondisi pasien yang sedang terbaring di atas ranjang. ****** Beberapa saat kemudian. Andrew telah berpindah ruangan. Saat itu, ia sedang berada di ruang konsultasi seorang dokter spesialis bedah saraf. Sang dokter menjelaskan perihal keadaan pasien pada Andrew. Tak jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya. Yakni, masih berkaitan dengan memori yang cukup dipaksakan beserta keadaan stress pada pasien. Namun, dampak dari pasca bedah kepala, memang tak dapat dihindari. Setidaknya, selama beberapa waktu ke depan, Mauren akan tetap mengalami beberapa gejala pasca cidera atau pun pasca operasi. Sehingga, “Sejauh ini, sebaiknya kita tetap menaati prosedur yang ada. Kita sarankan dan ingatkan pada pasien untuk tidak terlalu memaksakan diri. Baik dalam mengingat memori yang hilang, berusaha mengatasi keadaan stress, dan hal lain yang berkaitan,” Sang dokter memberi penjelasan. “Saya akan meresepkan obat. Dan, tim kami akan senantiasa mengevaluasi pasien. Lalu, pastikan agar pasien mendapat istirahat yang cukup. Tentu, jangan lupa untuk menjaga suasana hati pasien dalam kondisi baik.” Pada intinya, Mauren tak boleh terlalu stress dan kelelahan. Yah! Menurut Andrew, hal tersebut terlihat jelas saat Mauren merasa tertekan ketika sedang berada di samping Brian dan Priscilla. Sial! Wanita itu memang tak bisa diajak berkompromi. Lagi pula, mengapa dia tiba-tiba muncul setelah beberapa hari tak menampakkan diri? Dasar, wanita menyebalkan. Andrew bergumam kesal. ****** Setelah itu, Andrew memutuskan untuk mengabarkan kondisi Mauren pada William. Di depan kamar perawatan pasien pasca kecelakaan. Tut.. tut.. *William* Hanya saja, Saat dering panggilan ketiga, ponsel Andrew dirampas oleh seseorang. Tak lain, adalah sosok Brian yang saat itu sudah kembali ke depan ruang perawatan. Dan, “Apa yang sedang kau lakukan, Brian? Cepat kembalikan ponsel milikku,” Andrew memerintah. Sesaat usai menyadari kehadiran Brian, yang datang dan merampas telepon genggam. Namun, Klik! Brian justru menekan tombol mati pada sambungan telepon, yang baru berlangsung selama dua detik. Ia bahkan mematikan daya pada ponsel milik sang sahabat pria. Melihat tindakan Brian, Andrew spontan menjadi tak suka. Berkata, “Kau jangan keterlaluan, Brian!” Ia menghentak. Merampas kembali telepon genggam dari tangan Brian. “Bukan aku yang keterlaluan, Drew. Tapi, kau!” Brian tak tinggal diam. Kali itu, ia sedang berdecak penuh kesal. Cih! Andrew berdecik. Beralih berkacak pinggang dengan satu tangan. Brian kembali melanjutkan ucapan, “Apakah kau harus selalu melapor pada William? Apakah William sengaja menyuruhmu untuk mengawasiku selagi dia tak sedang berjaga, hah? Jadi, meski kemarin dan hari ini dia tak ada di sini, dia sengaja memanfaatkan dirimu? Untuk selalu mengontrol tindakanku pada Mauren? Sadarlah, Drew! Aku ini kekasih Mauren, bukan William. Aku juga wali pasien di sini. Jadi, aku berhak melakukan apa saja pada hal terkait dengan Mauren. Aku juga bisa mengatasi permasalahan yang ada. Sehingga, kau tak perlu selalu melapor pada pria itu.” “What? Pria itu? Dia William, Brian. William! Salah satu dari kita, yang selama ini berhasil menjaga Mauren dengan baik. Asal kau tahu, di hari kau kembali ke Indonesia; William menawarkan diri untuk mengendarai mobil Mauren. Dia ingin menemani Mauren saat hendak menjemputmu. Hal itu, William lakukan karena ia tahu betul jika Mauren sedang kelelahan akibat beban kerja. Tapi, Mauren menolak. Dia berdalih ingin menjemputmu seorang diri. Mauren berkata, ingin menghabiskan hari perjumpaan kalian berdua saja. Tapi, apa yang kau lakukan, hah? Kau justru mendarat dengan seorang wanita. Wanita yang selama itu, tak pernah kau ceritakan pada Mauren. Dan, parahnya! Kau membuat prank konyol pada dia. Aku benar-benar tak habis pikir denganmu, Brian. Selama ini, aku selalu mendukungmu. Bahkan, aku mendukung keputusanmu untuk meninggalkan Mauren seorang diri di Indonesia. Tapi, apa yang lakukan, hah? Kau hanya kembali dengan sebongkah kesalahan, ketidak setiaan, pengkhianatan. Dan, satu hal lagi. Kau kembali dengan banyak kebohongan,” Andrew berujar panjang lebar. Setelah itu, Tak ada lagi bayangan Andrew di depan ruang perawatan. Ia beralih pergi dari lantai sembilan, tanpa berniat mengeluarkan kalimat berisi ijin pamit. Tentu, ia lebih memilih untuk menghubungi sosok William di seberang. Tut.. Tut.. *William* Sedangkan, Brian? Yah! Pria itu hanya bisa terdiam. Sejatinya, ucapan Andrew patut mendapat pembenaran. APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN, Brian? Apa yang sudah kau lakukan? Pria berbalut gips tersebut merutuk diri dengan penuh emosi. Bahkan, ia melayangkan kepalan tangan pada dinding tembok bangunan. Dan, “Sudahlah, Brian. Kau menyerah saja,” Priscilla bersuara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN