RECUPERATE

1137 Kata
Jarum pada jam terus berdentang. Kini, telah menunjuk pada angka sembilan. William memutuskan untuk pergi menuju studio band. Sedangkan, Andrew yang masih berada di rumah sakit, sedang bertugas untuk menjaga dua orang pasien berbeda usia. Yah! Sebelum William berpamitan, ia berpesan agar pada hari Minggu itu, Andrew menemani Mauren berjalan-jalan. Tentu, karena kondisi Brian yang juga harus menggunakan kursi roda; cukup tak memungkinkan. Dan, “Hai, Mauren?” Andrew menyapa. Sesaat usai membuka daun pintu kamar. Menggantikan posisi dua orang perawat, yang baru menuntaskan rutinitas pagi. “Hai, Drew? Kau datang ke mari?” “Tentu saja. Apa kau tidak senang melihat wajahku, hah? Ataukah, kau sedang mengharapkan wajah pria lain?” Andrew berdecak. Memberi kalimat berisi godaan pada sang pasien. Haha, “Kau bisa saja. Lagi pula, aku sudah tahu jika William takkan ke mari pada hari ini,” Mauren menyahut. Melirik sekilas pada sosok Brian, yang sedang berada tepat di samping kiri sang lawan bicara. “Baiklah, karena kau sudah tuntas dengan rutinitas pagimu. Maka, aku akan mengajakmu jalan-jalan keluar,” Andrew berujar. Bola mata Brian melebar. Jadi, itulah tujuan Andrew menghampiri kami ke mari? “Ah! Kau tahu saja, jika aku sudah merasa bosan di dalam kamar,” Mauren menimpali. Sedangkan, Brian? Lagi-lagi, ia merasa bersalah. Menahan rasa kecewa saat merasa tak dibutuhkan oleh si pasien wanita. Sembari melihat Andrew membantu Mauren berpindah posisi ke atas kursi roda, Brian melipat selimut tipis milik Mauren. Ia membawa serta kain berwarna putih itu selagi mereka berjalan-jalan bertiga. ****** Kini, kamar perawatan VIP sedang tak berpenghuni. Ada dua buah kursi roda yang baru saja meninggalkan sisi dalam ruang. Ting! Lift berdenting. Sayangnya, mereka harus menunggu hingga lift terlihat lenggang. Mengingat, akan ada dua buah alat bantu jalan, yang hendak masuk bergantian menuju satu ruang. Hanya saja, “Drew, sebaiknya kalian pergi lebih dahulu. Aku akan naik pintu berikutnya,” Brian menyarankan. Sesaat usai mendapati ruang besi tak kunjung lenggang. “Baiklah. Kami akan menunggumu di area taman,” Andrew mengiyakan. Melajukan kursi roda sang pasien wanita. ****** Baru saja, arah panah menunjuk pada lantai lobi berada. Ting! Andrew membawa Mauren keluar dari dalam lift. Dan, “Drew?” “Iya, Mauren?” “Aku ingin bertanya suatu hal padamu.” “Yah, kau boleh bertanya apa saja,” Andrew menyahut santai. Masih dengan gerak berjalan menuju sisi halaman rumah sakit, yang menyuguhkan pemandangan taman berukuran beberapa hektar. “Ini soal Brian.” GLEK! Seketika, ludah Andrew tertelan. Ia berujar, “Ba-baiklah. Apa yang hendak kau tanyakan tentang dia?” “Apakah dia—” Mauren menjeda kalimat. Menelengkan kepala. “Dia apa?” Andrew bertanya menyelidik. Tak mungkin, Mauren sudah mengingat sosok Brian setelah satu hari berada bersama di dalam kamar, bukan? “Apakah dia adalah seorang pria yang dingin dan kaku? Selagi dia menjagaku, dia sama sekali tak bersuara. Maksudku, hanya sesekali saja. Aku menjadi bosan sekali jika dia yang sedang berjaga. Ataukah, dia dahulu tak seperti itu? Yang kutahu, seseorang bisa saja berubah karena suatu hal. Apakah ada yang sedang mengubah kepribadian dia?” Mauren bertanya panjang lebar. Ah! Kupikir, Mauren hendak bertanya perihal apa? Andrew bernapas lega. Dan, “Duh, Mauren! Bisa-bisa aku menjadi stress. Pertanyaanmu itu banyak sekali,” Andrew menyahut. Tak berniat untuk segera memberi jawaban. Yah! Karena, dia sedang memikirkan kalimat untuk memberi sahutan yang paling tepat. Haha, “Maaf, Drew. Maafkan aku. Aku masih belum berubah, bukan? Masih cerewet,” Mauren terbahak. Beruntung, Sepersekian detik setelah itu, Brian telah tiba. Ia menghampiri posisi dua orang muda mudi, yang telah lebih dulu berada di area taman. Sehingga, Andrew terselamatkan dari pertanyaan Mauren yang memusingkan. ****** Kini, suasana kembali menjadi hening. Setiap kali Mauren berada di satu tempat dengan Brian, ia akan terdiam dalam sekejap. Pada saat bersamaan. Drrt drrt! Ponsel Brian bergetar. Pria tersebut berpamitan untuk menyahut panggilan. Ia melajukan kursi roda menuju sebuah titik. Sengaja membuat jarak diantara mereka. Perbincangan berlangsung selama beberapa menit. Selama itu pula, Andrew dan Mauren memperhatikan Brian dari kejauhan. Lalu, “Drew?” “Iya, Mauren?” “Aku sedang haus. Bisakah kau membelikan minuman untukku?” Mauren meminta. “Baiklah,” Andrew mengiyakan. Namun, pria tersebut tak pergi begitu saja. Ia sengaja menghampiri posisi Brian; berdalih hendak menawarkan jenis minuman. Padahal, Andrew sengaja mendekat untuk menguping pembicaraan sang sahabat. “I already told you, if I will solve all the problems. So you don't have to worry.” Saat itu, hanya kalimat tersebut yang Andrew dengar. Jadi, Brian sedang bertelepon dengan seseorang yang kemungkinan sedang berada di luar negeri sekarang? Mengingat, Brian memilih berbincang menggunakan salah satu dari Bahasa Internasional. Entahlah! Tiba-tiba, “Hai, Drew?” Brian mengeluarkan suara. Andrew terperanjat. Berkata, “Aku hendak membeli minuman untuk Mauren. Apakah kau menginginkan secangkir kopi atau yang lain?” “Baiklah, kau bisa membawakanku cappucinno hangat saja.” Andrew memanggutkan dagu. Kemudian, beralih dari hadapan sang lawan bicara. ****** Di sela menunggu Andrew membeli minuman. “Mauren, maafkan aku,” Brian berujar. “Maaf untuk apa, Brian?” “Maaf karena seharian kemarin, aku tak bisa membawamu pergi keluar. Hari ini pun, kau harus pergi bersama Andrew.” “Ah! Soal ini,” Mauren melempar senyum penuh mengerti. “Tak apa. Lagi pula, saat ini kau juga seorang pasien sepertiku. Aku tak ingat betul dengan kejadian sewaktu kita mengalami kecelakaan. Yang pasti, kau dan aku harus sama-sama berjuang untuk segera sembuh,” Mauren menambahkan. “Dalam beberapa hari ini, gips yang kugunakan akan dilepas. Dan, aku akan menjalani program rehabilitasi seperti yang kau jalani. Jadi, setelah itu kau tak perlu sungkan jika membutuhkan bantuan dariku,” Brian menginfokan. Mauren terdiam. Ia hanya menimpali dengan sudut bibir membentuk garis senyum di wajah. “Oh ya, Mauren. Apakah kau tak ingin tahu kronologis saat kita mengalami kecelakaan?” Brian mengajukan pertanyaan karena penasaran; Mauren hanya sekedar ingin melupakan kejadian tersebut atau ia benar-benar tak ingat? Wanita pemilik bibir berwarna merah jambu itu, hanya menggelang pelan. Lalu berkata, “Aku tak mengingat kronologis kejadian pada waktu itu. Kurasa, sambungan-sambungan memori di otakku ini benar-benar bermasalah, Brian.” Haha, Mauren menjeda kalimat dengan tawa. Dan, “Lagi pula, sekaligus aku mengingatnya; aku akan berusaha untuk melupakan. Kau pasti tahu betul, bukan? Jika, aku ini amat enggan dalam mengingat memori buruk? Aku selalu berusaha melunturkan memori yang menyedihkan. Aku selalu melakukan banyak hal, demi mengganti dan mengisi memori-memori itu dengan ingatan yang menyenangkan saja.” GLEK! Spontan, Brian menelan ludah dengan susah. Jawaban dari Mauren, seakan menjadi pertanda jika Tuhan sengaja menakdirkan Mauren untuk kehilangan sebagian ingatan. Terutama, dalam hal memori masa lalu yang kerap bersinggungan dengan kenangan pahit dan menyedihkan. “Tapi, kau tak perlu khawatir, Brian. Meski, untuk sekarang ini aku belum mengingatmu dengan jelas. Bukan berarti, jika aku takkan mengingatmu lagi, bukan? Suatu saat, ingatanku pasti pulih. Di saat itu, aku akan kembali mengingatmu dengan utuh.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN