Setiba di depan kamar perawatan Mauren.
William dan Andrew menghentikan langkah.
Sebelum,
Sret,
Daun pintu bergeser dengan cukup perlahan. William sengaja menggeser pintu tanpa menimbulkan bunyi berlebihan. Dan, seketika netra kedua pria tersebut saling memandang. Mereka melangkah ke sisi sofa yang telah ditinggalkan oleh Brian. Andrew mendapati ponsel sang sahabat tergeletak dalam keadaan mati di sana. Tak lupa, dengan segelas cangkir berisi kopi yang cukup dingin. Pertanda, jika sang pemilik minuman berkafein sudah meninggalkan tempat dalam waktu cukup lama.
“Sepertinya, memang ada yang tidak beres, Will,” Andrew berujar. Sesaat usai meraih telepon genggam, yang ditinggalkan begitu saja di atas meja berbahan dasar kaca.
“Kalau begitu, kita harus segera mencari Brian,” William menyahut. Tak lain, saat ia mendapati tak ada seorang pun di dalam kamar mandi yang disediakan.
Sembari memandang sang pasien yang masih tertidur di atas ranjang, William dan Andrew pergi meninggalkan ruang.
“Kau pergilah ke arah barat. Aku akan menyisir koridor di sisi timur,” William menginstruksi.
Kini, mereka berpisah. Mengambil jalur berbeda untuk menyusuri koridor lantai sembilan yang cukup panjang.
Tak lama kemudian,
Mereka kembali bertemu. Hanya saja, saat itu mereka kebetulan berpapasan di depan lift. Meski begitu, baik William dan Andrew tak dapat menemukan sosok yang sedang mereka cari.
Ting!
Lift berdenting. Kedua pria tersebut memutuskan untuk mencari Brian di tempat lain. Saat itu, Andrew menekan tombol menuju lantai dua bangunan.
Usai daun pintu ruang besi terbuka, mereka kembali mengambil jalur berbeda. Malam itu, tepatnya pada pukul satu dini hari. Berbagai penjuru ruang di lantai dua tampak sepi. Begitu pula, café yang berada di sana; benar-benar tak berpenghuni.
“Kalau begitu, kita cari Brian di halaman parkir, Drew,” William menyarankan.
Dengan bantuan lift yang kosong, memudahkan kedua pria tersebut untuk segera menapak pada lantai lobi. Mereka bergegas keluar dari dalam lobi. Kembali menyisir area yang berbeda di halaman parkir mobil.
Dan,
“BRIAN?” Andrew memekikkan suara. Sesaat usai mendapati seorang pemuda yang ia kenal dari kejauhan. Sembari melangkahkan kaki dengan lebar, ia menghubungi William. Menginfokan jika Brian sedang berada di sisi barat area parkir kendaraan.
Saat itu,
“Apa yang sedang kau lakukan di sini, Brian?” Andrew bertanya cemas.
Bagaimana tidak, Brian tak sedang berada di atas kursi roda. Melainkan, ia terlihat duduk berselonjor di dataran aspal. Sedangkan, alat bantu jalan yang ia gunakan tampak roboh di sana.
“Apakah seseorang mendorongmu dari kursi roda?”
Pada saat Andrew sedang membenahi posisi alat bantu jalan, William terlihat berlari menghampiri posisi mereka berada. Sang pria menghentikan langkah, sembari memasang gurat terperangah.
“Apa yang terjadi padamu, Brian?” Kali itu, William yang mengajukan pertanyaan.
Kini, kedua sahabat Brian sedang membantu dirinya untuk kembali duduk di atas kursi roda.
Lalu,
“Aku baik-baik saja,” Pria berbalut gips pada tungkai kanan tersebut, menyahut.
“Baik-baik saja?” William dan Andrew mengeluarkan suara bersamaan.
“Tak mungkin! Pasti, ada yang sedang tidak beres denganmu,” Andrew bersikeras untuk menyanggah.
Sedangkan, William memilih untuk diam. Dari pada, ia memaksa Brian untuk menjawab pertanyaan mereka. Lebih baik, William mencari tahu sendiri perihal alasan sang sahabat berada di dalam keadaan tak biasa. Mengingat, Brian bukanlah tipe seorang pria yang terbuka pada siapa saja. Sekali pun, kepada sosok William dan Andrew yang sudah berteman dengan dia sejak lama.
******
Keesokan hari.
Andrew dan William sedang berada di sisi sofa yang berbeda. Semalam, usai memastikan Brian kembali ke dalam kamar perawatan Mauren, mereka menuju ruang perawatan milik Letta. Setidaknya, untuk mengisi satu hingga dua jam dengan memejamkan mata.
Dan,
Hhh!
William menghela napas kasar. Sesaat usai terbangun dari tidur.
“Kau sudah bangun, Nak?” Letta menyapa.
“Su-sudah, Tante. Mengapa Tante terbangun lebih dulu?”
“Tentu saja. Meski, Andrew sudah dewasa. Namun, naluri ibu masih Tante rasakan. Sehingga, setiap pagi seperti ini, Tante selalu terbangun dengan sendirinya.”
William memanggutkan dagu sebagai tanda setuju.
“Sepertinya, ada yang sedang mengganggu pikiranmu, Nak?” Letta bertanya.
“Benar, Tante. Sepertinya, naluri keibuan Tante kembali muncul,” William menimpali dengan gurat bercanda.
Seketika, tawa Letta merekah.
Sembari membuka korden di dalam kamar perawatan VIP, William bercerita perihal sosok Brian yang cenderung berbeda dengan mereka berdua.
“Hal itu cukup wajar, Nak. Kalian bertiga bersahabat. Bukan bersaudara. Satu saudara saja, memiliki sifat dan perilaku berbeda. Apa lagi, saat kalian tidak sedarah. Sedangkan, mengenai kau dan Andrew yang jauh lebih kompak. Sementara dengan Brian, tidak. Itu adalah sebuah bonus saja. Bonus agar persahabatan kalian tak terlalu membosankan. Benar, bukan?” Letta meminta persetujuan atas pendapat yang ia lontarkan.
Hehe,
Tawa kecil merekah dari sudut bibir seorang pria tampan. Sebuah tawa yang mengisyaratkan setuju dengan ucapan ibunda sang sahabat.
Pada saat bersamaan,
“Will? Apa kau sudah menghubungi Lucia?” Suara serak Andrew terdengar. Meski, pria tersebut masih memejamkan mata. Namun, telinga Andrew tetap dalam mode pendengaran lebar-lebar.
“Jadi, kau sudah bangun?” William bertanya.
Letta menggeleng tidak heran. Berkata, “Dia pasti mendengar semua obrolan kita, Nak. Putra Tante itu, hanya masih enggan untuk membuka mata saja.”
“Dasar kau!” William berdecak.
“Jika, kau penasaran. Sebaiknya, kau telepon saja dia sendiri,” William melanjutkan ucapan.
Dan,
“Baiklah.”
Tut.. tut..
*Lucia*
Dalam keadaan kelopak yang masih setengah terpejam, Andrew menujukan panggilan keluar.
Tut..
“Halo, Kak?”
“Hai, Lucia,” Sontak, Andrew beranjak dari posisi semula.
“Kau baru bangun, Kak?”
Haha,
Andrew terbahak. Bertanya, “Apakah Brian sudah menghubungimu semenjak ponselnya menyala?”
“Sudah.”
“Lalu?”
“Lalu apa, Kak?”
“Lalu dia berkata apa, Lucia? Masa iya, kau tak paham dengan pertanyaanku?” Andrew menekankan kalimat.
Issh!
“Lagi pula, kau baru bangun tidur, Kak. Siapa juga yang akan paham dengan pertanyaanmu itu? Bisa jadi, kau hanya asal bertanya karena masih melantur.”
“Baiklah, baiklah aku salah. Jadi, Brian berkata apa padamu?” Andrew kembali bertanya penasaran.
“Entahlah. Kak Brian tak mengaku saat kutanya. Dia hanya berkata, jika lupa mengisi daya ponsel,” Lucia menyahut dari seberang.
Ini aneh sekali. Andrew bergumam lirih.
Usai saling berpamitan, mereka tak lagi berada di dalam sambungan.
“Bagaimana, Drew?” William mengkonfirmasi informasi.
Hanya ada gelengan kepala yang menyertai gurat tak tahu di wajah sang lawan bicara.
Kemudian,
“Sepertinya, Brian sedang terlibat dalam masalah yang cukup besar. Seperti—"
Haish!
William mengeram. Menyergah, “Kau jangan sembarangan berbicara, Drew!”
“Aku tak asal bicara, Will. Aku serius. Jika saja, kau melihat pria-pria bertubuh kekar itu semalam. Kau pasti juga akan berpikir demikian.”