SOMETHING WRONG?

1275 Kata
Pukul sebelas malam. Apakah selama ini William berhasil membuat Mauren sebahagia itu? Setahuku, Mauren tak pernah merekahkan tawa dengan amat lepas seperti tadi. Bahkan, kali pertama kami berjumpa di bandara, hanya ada gurat serius di wajah Mauren. Kau bodoh sekali, Brian! Bisa-bisanya, hari itu kau justru melakukan prank konyol hingga menyebabkan kecelakaan yang mengerikan. Brian membatin panjang lebar. Ia memenuhi agenda bermalam di kamar VIP dengan menyugar puncak kepala berulang. Pria tersebut benar-benar frustasi akan kesalahan yang sudah ia lakukan berkat tak berpikir panjang. Dan, “Brian? Kau sedang apa?” Suara Andrew terdengar. Ternyata, sudah beberapa menit yang lalu, Andrew memperhatikan gerak-gerik sang sahabat. “Kau? Sejak kapan kau berdiri di sana, Drew?” “Entahlah! Sepertinya, sejak kau menyugar puncak kepalamu tadi,” Andrew menyahut. Kali itu, ia berpindah lokasi. Yakni, menghampiri posisi Brian yang sedang terduduk di sofa. “Apakah ada yang terjadi pada seharian ini? Apakah Mauren membuatmu kerepotan?” Andrew kembali mengeluarkan suara. Brian menggeleng pelan. Berkata, “Tidak. Bahkan, Mauren hampir tak pernah meminta bantuan padaku.” Issh! “Ini aneh sekali. Padahal, jika William yang sedang berjaga, dia akan meminta William untuk melakukan ini dan itu.” Spontan, Brian tersadar. Menyahut, “Ini pasti karena Mauren merasa tidak enak padaku.” “Tidak enak?” “Yah! Lihatlah, gara-gara gips ini aku menjadi tak bebas bergerak. Sehingga, Mauren enggan merepotkan aku.” “Ah, kau benar juga. Sejatinya, Mauren cukup mandiri selagi dia bisa melakukan banyak hal seorang diri,” Andrew menimpali. Di sela kedua pria tersebut berbincang, seorang pria lain terlihat sedang mengintip dari sebuah kaca tembus pandang. Andrew segera menyadari adanya pergerakan di luar ruang perawatan. Kemudian, ia berpamitan untuk kembali menuju kamar perawatan Letta. Tentu, sembari memastikan sosok yang sedang berdiri di luar ruangan. “Kau beristirahatlah, Brian. Aku akan pergi agar kau dapat memejamkan mata dengan nyaman.” Brian mengangguk. Mengijinkan Andrew meninggalkan ia berada berdua saja; di dalam kamar bersama seorang pasien wanita, yang sedang tertidur pulas. Sret! Daun pintu kamar VIP bergeser. Dan, “KAU?” Andrew memekikkan suara. Sstt! “Diamlah,” William menimpali. “Sedang apa kau berjalan mondar-mandir dan mengintip seperti tadi, Will?” “Aku sengaja, Drew. Aku ke mari, karena tak bisa tidur pulas di apartemenmu. Aku selalu memikirkan Mauren.” “Lantas, mengapa kau tidak masuk saja?” “Tidak. Aku sudah berjanji untuk mengijinkan Brian menjaga Mauren seorang diri. Aku takkan mengganggu mereka selama weekend ini,” William menyahut. Issh! “Dasar kau itu. Lalu, apakah semalaman kau akan berada di ruang tunggu, hah?” “Tentu saja, tidak.” “Lantas?” “Lantas, ijinkan aku untuk bermalam di kamar perawatan Tante Letta?” William meminta. “Enak saja! Sofa panjang di kamar Nyokap, khusus diletakkan untukku. Jadi, tak ada tempat bagimu menginap. Lagi pula, bukankah lebih nyaman saat bermalam di apartemenku, hah?” “Sudahlah, Drew. Kau seperti tak mengenalku saja. Jika, aku bermalam di sini. Maka, akan lebih mudah untukku menghampiri kamar Mauren. Jadi—” Haish! “Ya-ya, kali ini akan kuijinkan kau bermalam di kamar Nyokap.” Pada akhirnya, kalimat berisi persetujuan terlontar dari bibir Andrew. ****** Kini, kedua pria tersebut sedang berjalan menyusur sudut lain yang ada di bangunan rumah sakit. Setiba di kamar perawatan VIP seorang pasien kanker. “Mama? Mengapa masih terjaga?” Andrew mengeluarkan suara. William terlihat menduduk singkat; memberi ucapan salam pada ibunda sang sahabat. “Eh, ada Nak William.” “Iya, Tante. Maafkan William karena jarang menjenguk Tante.” “Tak apa, Nak. Kau pasti sedang sibuk mengurus studio,” Letta menyahut penuh pengertian. “Enak saja! Asal Mama tahu, studio dia itu Andrew yang mengurus,” Andrew menyergah pujian sang ibunda pada William. Haha, Tawa merekah bersamaan. Sebuah gurat yang membuat Letta sedikit melupakan rasa sakit yang sedang ia derita. ****** Malam itu, tiga orang berbeda jenis kelamin dan usia, memilih menghabiskan waktu dengan berbincang. Letta teramat senang dengan kehadiran William. Mengingat, William adalah sahabat sang putra, yang sempat membantu Letta saat mengurus sidang perceraian dengan Mario. “Ngomong-ngomong, sedang apa kau ke mari, Will? Setahu Tante, kau sedang menjaga Mauren yang juga dirawat di rumah sakit ini?” Letta bertanya. “Benar, Tante. Hanya saja, malam ini Brian yang sedang berjaga di ruangan dia.” “Brian? Ah! Tapi, dia kan juga merupakan pasien pasca kecelakaan?” “Benar, Tante. Beruntung, kondisi Brian jauh lebih baik dari pada Mauren. Jadi, ya begitulah. Sekarang, dia sedang menjaga Mauren di dalam kamar,” William menambahkan. Di sela William dan Letta berbincang, pemuda tampan tersebut terlihat memijat-mijat tungkai Letta. Meski, ibunda Andrew tak meminta William melakukan hal itu. Namun, naluri William perihal perhatian tak dapat terelakkan. Pada saat bersamaan, Hhm! Andrew berdehem, Berkata, “Sepertinya, posisiku sebagai putra semata wayang Mama, akan digantikan oleh William.” Mendengar kalimat berisi sindiran tersebut, William dan Letta tergelak bersamaan. ****** Tak terasa, pasien kanker tersebut telah memejamkan mata. Tersisa, William dan Andrew yang masih terjaga. Mereka berdua sedang mendiskusikan perihal tawaran untuk mengisi acara off-air. Sebuah tawaran dengan nominal bayaran yang cukup besar. “Tapi, Drew? Sepertinya, aku akan menolak tawaran itu,” William berujar. Sesaat usai menimang-nimang. “Pasti gara-gara kau tak bisa meninggalkan Mauren di sini?” “Tentu saja. Bagaimana bisa aku pergi selama tiga hari dua malam? Sedangkan, tak berjaga selama weekend saja, aku sudah kelabakan.” Haish! “Seharusnya, kau ungkapkan saja perasaanmu pada Mauren. Lalu, ajak dia menikah. Aku pusing sekali, harus melihatmu memendam rasa cinta sebesar itu pada Mauren,” Andrew berujar serampangan. Dan, “Tak semudah itu, kali!” William menimpali. Melempar tisu teruntuk kedua kali. “Sial, kau.” BUG! Andrew membalas dengan melempar bantal yang sedang ia gunakan. “Kau pikir, Mauren akan menerima cintaku begitu saja. Selain, dia masih berstatus sebagai kekasih Brian. Pasti, dia juga akan merasa canggung usai mengetahui jika aku memiliki perasaan pada dia. Dan, bagaimana bisa aku melanjutkan hidup jikalau Mauren menolakku secara mentah-mentah? Dengan dalih, kita lebih pantas untuk berteman saja.” Hhh! William mengakhiri curhatan dengan hembusan napas berat. Sementara itu, Andrew terlihat memejamkan mata. Sesaat usai ia berkata, “Beruntung, aku tak menyukai Lucia sebesar itu.” “What?” William memekikkan suara. “LUCIA? HEI! Drew? Jangan bilang, kau selama ini menyukai adik perempuan Brian, hah?” Ia menambahkan pertanyaan. Sembari menuju alam mimpi, Andrew menyengir pada sang sahabat. Pada saat bersamaan, Drrt drrt! Ponsel William bergetar. Memunculkan nama Lucia di dalam layar. Dan, “Drew? Lucia sedang meneleponku,” William menginfokan. “Benarkah?” Andrew melebarkan bola mata. Beranjak dari posisi yang semula merebahkan tubuh pada sofa. Lalu, “Halo, Lucia?” William menyapa. Sesaat usai menekan tombol menyahut panggilan. “Halo, Kak? Apakah kau sedang bersama Kak Brian?” “Tidak. Ada apa?” “Aku menghubungi dia. Tapi, ponselnya sedang tidak aktif.” “Lagi pula, ini sudah larut, Lucia. Dia pasti sedang tidur. Sepertinya, dia kelelahan usai berjaga seorang diri di kamar Mauren.” “Tapi, tak biasa dia menonaktifkan ponsel, Kak.” “Kau benar juga, Lucia. Baiklah, nanti aku dan Andrew akan mengecek keadaan Brian.” Panggilan berakhir. Tak dapat dipungkiri, jika Andrew mendengar pembicaraan muda mudi tersebut melalui sambungan telepon. Mengingat, ia sengaja menguping obrolan. “Will, sepertinya ada yang sedang tidak beres dengan Brian,” Andrew berujar. “Apa maksudmu, Drew?” “Sebelum aku menghampiri posisi kamar Mauren, tadi. Aku sempat melihat dua orang pria berpakaian hitam-hitam sedang berada di luar kamar perawatan. Mereka bertubuh kekar. Dan, kau tahu sendiri jika Om Jonathan takkan mempekerjakan para pengawal seperti Papamu. Jadi—” Tanpa melanjutkan kalimat berisi terkaan, Andrew dan William bergegas menghampiri kamar perawatan yang sedang dihuni oleh Brian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN