DIFFERENT

1176 Kata
Beruntung, William tak seegois itu. Sehingga, Pada hari ini. Tepatnya, hari Sabtu. William memutuskan untuk berpamitan pada Mauren. Ia berkata, jika dalam dua hari itu, ia harus mengurus studio band. Tentu, sang pria juga menginfokan bahwa posisinya akan digantikan untuk sementara oleh Brian. “Brian?” Mauren mengkonfirmasi sebuah nama. “Yah! Kau tak apa, bukan? Jika, hari ini dan esok, Brian yang menjagamu di sini?” Mauren terdiam. Berpikir sejenak. Sejatinya, tak ada yang perlu ia khawatirkan. Mengingat, Brian merupakan satu satu dari tiga orang pria yang bersahabat. Namun, entah mengapa ada sebuah rasa keberatan saat William berkata demikian. “Mauren? Mengapa kau diam saja, huh? Jika, kau enggan. Maka—” “Tidak, Will. Tidak! Kau boleh pergi. Kau harus mengurus studiomu. Lagi pula, itu adalah mata pencaharianmu,” Mauren menyahut. Memberi ijin. “Baiklah. Kalau begitu, aku akan pergi sekarang. Mungkin, sebentar lagi Brian akan tiba. Jika, kau membutuhkan suatu hal, kau katakan saja pada Brian. “ “Apakah aku tak boleh meneleponmu ketika sedang butuh sesuatu, Will?” William menyengir. Berkata, “Tentu saja, boleh. Lagi pula, bukankah kau meletakkan nomor kontakku pada panggilan cepat di angka satu?” DEG! Mauren melongo. Membatin. Bagaimana bisa William mengetahui hal itu? Sepertinya, dia hanya asal berbicara saja. “Sudahlah. Kalau begitu, kau bergegaslah pergi,” Mauren berkata. Mengibaskan tangan kanan sebagai pertanda mengusir si pria. Kini, Mauren sedang berada seorang diri di dalam kamar perawatan. Jam dinding yang berdentang hendak menunjuk pada waktu para perawat datang. Benar saja, Daun pintu kamar terbuka. “Selamat pagi, Nona Mauren,” Si perawat menyapa sumringah. Mauren membalas dengan ukiran senyum di wajah. Hanya saja, senyum itu segera memudar. Sesaat usai menjumpai sosok Brian pada sisi belakang tubuh seorang perawat perempuan. Dan, “Mohon maaf, Tuan. Nona Mauren hendak menjalani rutinitas pagi,” Perawat tersebut berujar. Ru-rutinitas pagi? Brian bergumam tak paham. “Jadi, silahkan Tuan menunggu di luar ruang,” Petugas medis itu menambahkan. Sembari menutupi gurat bingung di wajah, Brian melajukan kursi roda menuju sisi luar kamar perawatan. Ia menutup daun pintu dengan rapat. Lalu, Tut.. tut.. *Andrew* Nama tersebut muncul pada penampakan panggilan keluar. “Halo, Brian?” Suara Andrew terdengar serak. Menandakan si penerima telepon sedang dalam keadaan memejamkan mata; belum terbangun dari aktivitas beristirahat. “Ada apa?” Ia menambahkan. “Apa kau tahu dengan yang dimaksud rutinitas pagi di rumah sakit ini?” Brian bertanya. Hum, “Soal itu? Itu perihal para perawat yang masuk ke dalam ruang pasien VIP. Mereka bertugas menyeka, mengganti kateter, dan hal-hal lain yang dibutuhkan oleh pasien-pasien tertentu,” Andrew menjelaskan. “Ah! Aku paham. Baiklah, kau boleh kembali tidur. Maaf karena aku selalu mengganggumu.” Panggilan berakhir. Sungguh, menjaga Mauren di hari pertama, membuat Brian harus belajar mengenai banyak hal. Terlebih lagi, saat Mauren membutuhkan bantuan untuk program latihan pasca kecelakaan. ****** Perawat baru saja keluar dari dalam kamar. Brian segera menggantikan posisi dua orang berpakaian seragam. “Mauren, apa kau sedang membutuhkan suatu hal?” Brian berinisiatif bertanya. Sedangkan, Mauren hanya terdiam. Di dalam lubuk hati yang terdalam, Mauren ingin sekali pergi keluar untuk berjalan-jalan. Hanya saja, melihat kondisi Brian yang terduduk di atas kursi roda, terlihat tak cukup memungkinkan. Hhh, Helaan napas panjang menjadi pemula jawaban. Sebelum, “Aku tak sedang membutuhkan apa-apa, Brian,” Sang pasien wanita memberi sahutan. ****** Kini, suasana hening. Mereka berdua berlaga seolah tak saling mengenal. Tak ada sosok seorang pria, yang selalu memberi perhatian seperti William. Brian benar-benar berbeda. Hingga pada akhirnya, Mauren memilih menyalakan layar televisi di sana. Sebuah benda yang dapat mengalihkan perhatian satu sama lain dari mereka berdua. “Mauren, apa kau suka menonton drama korea?” Brian mengeluarkan suara. “Yah. Seperti yang kau lihat. Aku lebih memilih untuk mengarahkan tombol pada channel drama korea.” “Apakah setelah kau sembuh, ah! Maksudku, setelah kita berdua sembuh. Apakah kau mau berlibur ke Korea bersamaku?” Brian bertanya. Haha, Mauren merekahkan tawa. Berkata, “Ajakanmu itu terlalu mengada-ada.” “Apa maksudmu? Aku benar-benar bisa mengabulkan hal itu. Jika, kau memang berkenan untuk pergi bersamaku,” Brian menyahut. Sedari tadi, pria tersebut tak berniat untuk bercanda. Brian memang bisa mengabulkan permintaan apa saja dari Mauren. Namun, permintaan itu tak sama halnya dengan hal-hal kecil yang sering Mauren minta pada William. Sehingga, terlihat jelas jenjang perbedaan diantara si kedua pria. “Tidak, Brian. Tidak! Kau jangan berlebihan,” Mauren menggeleng pelan. “Baiklah. Mungkin, aku akan mengulangi ajakan itu saat kau benar-benar sembuh nanti. Bisa jadi, kau akan berubah pikiran.” Mendengar sahutan dari Brian, Mauren hanya menarik kecil sudut pada bibir. Lalu, kembali melanjutkan aktivitas menonton drama korea. Satu jam Hingga, dua jam telah berlalu. Mauren merasa bosan. Ia memutuskan untuk berkirim pesan dengan William. **Mauren : “Will, kau sedang apa?” Satu menit kemudian. **William : “Aku sedang mengurus para penyewa studio. Dan, sembari menunggu mereka bergantian menggunakan studio, aku sambil berlatih gitar.” **William : “Ada apa, Mauren?” **Mauren : “Tidak ada apa-apa. Aku hanya sekedar ingin tahu saja.” **William : “Meski hilang ingatan, kau itu tetap sama. Sama sekali tidak berubah. Aku tahu, kau mengirim pesan padaku, karena sedang merasa bosan, bukan? Beruntung, ingatanku masih utuh. Jadi, aku ingat pasti dengan setiap gerak gerikmu meski tak sedang berada bersama.” **Mauren : “Haha.” (pesan disertai dengan emoticon tawa terbahak-bahak) Tak terasa, mereka memenuhi tiga puluh menit dengan berbalas pesan. Sementara itu, Brian masih bersibuk dengan sebuah benda elektronik berukuran cukup lebar. Lalu, Sang pasien terlihat kelaparan. Usai meletakkan ponsel pemberian William, ia beralih meraih kue yang ada pada sisi kanan nakas. Bruk! Beberapa benda terlihat terjatuh. Beruntung, bukan benda pecah belah. “Ada apa, Mauren?” Brian bersuara. Menatap seorang wanita yang sedang menurunkan posisi kepala; membidik sisi lantai. “Tidak ada apa-apa, Brian. Aku hanya baru saja menjatuhkan botol minum dan tisu basah sewaktu hendak meraih kue itu,” Mauren mengarahkan pandang. Brian terlihat menggerakkan lengan pada kursi roda. Ia menghampiri posisi Mauren berada. Berkata, “Seharusnya, kau meminta tolong padaku.” “Tak apa. Aku bisa melakukannya sendiri. Hanya saja, tadi aku sempat merasakan nyeri pada tulang rusuk. Jadi, tanganku tak sengaja menampik botol itu.” Kini, Brian terlihat bergerak meraih sisi benda yang terjatuh. Sejatinya, tungkai kanan yang terbalut gips masih teramat mengganggu. Namun, ia berusaha penuh. Setelah meletakkan botol berbahan dasar plastik dan tisu ke tempat semula, Brian meraih kue yang ada. Ia baru tersadar. Jika, kue yang hendak diraih oleh Mauren adalah kue berjenis sama dengan kue pemberian ia semalam. “Apakah kue ini kau dapatkan dari William, Mauren?” Brian bertanya memastikan. Mauren menyunggingkan senyum lebar. Menyahut, “Yah! William selalu membawakan apa yang kusuka. Ah! Tidak. Dia juga selalu membawakan yang apa yang kumau. Apa kau tahu, Brian? Padahal, aku sama sekali tak meminta makanan-makanan itu dari William. Tapi, entah mengapa dia selalu datang sembari membawakan menu yang kuinginkan. Kurasa, dia cocok sekali menjadi cenayang.” Haha! Mauren menutup kalimat berisi penggambaran sosok William dengan penuh tawa merekah. Sungguh, tawa itu disertai dengan rona wajah bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN