NEED HIM

1158 Kata
Pukul tujuh malam. Di sebuah café yang kerap Andrew kunjungi bersama William. Pria pecicilan itu berjalan cepat. Mengedarkan pandangan menuju seluruh penjuru ruang. Dan, “Drew?” Suara Brian terdengar. Andrew segera menghampiri posisi seorang pria bersetelan rapi dan berdasi. “Apa yang hendak kau bicarakan empat mata denganku, Brian?” Andrew memulai perbincangan. “Aku ingin mendapat informasi perihal kebiasaan, kesukaan dan hal-hal lain, yang selama ini tak kuketahui dengan detail tentang Mauren.” “APA?” Andrew memekikkan suara. Mencoba mengkonfirmasi ucapan sang sahabat pria. Bagaimana bisa, Brian justru bertanya padaku? Sebenarnya, dia kekasih Mauren atau bukan? Andrew bergumam. “Jadi, kita harus mulai dari mana, Drew?” Brian kembali bersuara. “Baiklah. Kita mulai dari—” Perbincangan terus berlanjut. Tak terasa, hingga Andrew menghabiskan dua cangkir minuman hangat. Setelah itu, “Apakah kau akan menjenguk Mauren?” Andrew bertanya. “Tentu saja. Aku membawa chocoberry cake kesukaan Mauren.” “Nah, itu kau tahu. Lantas, mengapa kau masih membutuhkan informasi dariku, tadi?” “Sebenarnya, aku juga baru tahu. Sesaat sebelum aku ke mari. Aku sengaja menelepon Lucia untuk mengetahui kue kesukaan Mauren,” Brian mengaku. “Astaga, Brian! Bisa-bisa kau tak tahu hal sekecil itu. Lantas, selama berpacaran dengan Mauren, apa saja yang sudah kalian lakukan? Apakah kalian tidak belajar untuk saling mengenal?” Andrew mulai geram. Jika saja, William mengetahui fakta tersebut. Bisa jadi, William sudah melayangkan tinju pada Brian. Sembari berkata, “Jangan menyesal jika aku merebut Mauren darimu. Kau benar-benar tak pantas untuk dia.” ****** Kini, mereka telah tiba di depan kamar perawatan. Sesaat usai daun pintu bergeser pelan, manik mata Andrew dan Brian tertuju pada dua muda-mudi yang sedang berlatih. Yah! Semenjak mendapat program rehabilitasi pasca kecelakaan, William senantiasa membantu Mauren untuk latihan. Terbukti, dari pemulihan yang berlangsung lebih cepat atas bantuan William. Dan, “Sepertinya, sahabatmu yang tampan itu kembali menjengukku, Will,” Mauren berbisik. Mengalihkan perhatian William yang semula sedang membantu Mauren menggerakkan tungkai sebelah kanan. William menoleh. Menatap sosok Brian sebagai bidik pandang utama. Lalu, ia mendengus setelahnya. “Kali ini, kau membawakanku makanan apa, Brian?” Mauren bertanya. Menatap sebuah tas jinjing yang sedang berada di pangkuan si pria. “Aku membawakanmu chocoberry cake.” Mauren melempar senyum. Berkata, “Sudah seharusnya, kau membawa makanan yang kusuka.” Hanya saja, Sang wanita terlihat melirik sekilas pada sebuah kue di atas nakas. Benar! Kue pemberian William masih tersisa setengah. Dan, sekarang ia mendapati kue yang sama. “Baiklah, terima kasih,” Mauren berujar. Sesaat usai meraih sodoran kue dari Brian. Sedangkan, William? Jangan ditanya. Pria tersebut masih menatap tajam salah seorang sahabat pria. “Will, bisakah kau meletakkan kue ini di sana?” Mauren meminta. Mengalihkan pandangan pada sisi nakas bagian sebelah. Saat itu, Mauren memiliki dua buah kue yang sama. Kue yang diletakkan masing-masing pada bagian nakas kiri dan kanan. Seolah, Mauren harus memilih salah satu dari makanan tersebut. Dan, yah! Mauren sudah lebih dulu memakan kue pemberian dari William. “Baiklah. Karena kalian sudah berada di sini, maka kalian mengobrol saja. Aku akan beralih untuk mengistirahatkan badan,” Mauren berujar. William dengan sigap menurunkan posisi sandaran ranjang menjadi bentuk rebahan. “Is-istirahat?” Brian bergumam pelan. “Tentu saja. Mauren pasti seharian ini sudah lelah. Teman kita yang satu itu, selalu mengajak Mauren untuk menjalani program rehabilitasi selagi bisa. Jadi, tak heran jika sekarang Mauren ingin memejamkan mata,” Andrew berbisik panjang. Hati Brian spontan menciut. Tak dipenuhi oleh semangat seperti saat ia hendak berangkat menjenguk. ****** Kini, ketiga orang pria telah berpindah pada sisi sofa berada. Pada mulanya, hening tak ada suara. Sebelum, “Seharian tadi, apakah kau menjaga Mauren di sini, Will?” Brian memberanikan diri untuk bertanya. “Tidak juga. Aku tak hanya menjaga Mauren di dalam kamar.” “Apa maksudmu?” “Seharian ini, sudah dua kali kami berjalan-jalan di area taman yang disediakan. Jadi, bisa dikatakan jika aku tak hanya menjaga Mauren di sini, bukan?” William menyahut. Sekaligus, menginfokan jika hasil observasi Mauren telah menyatakan bahwa wali dapat membawa si pasien keluar dari dalam kamar. “Wah! Itu kabar yang bagus, Will,” Andrew menimpali. Ia turut senang dengan kabar yang William beri. Meski begitu, Gurat di wajah Brian tak seutuhnya menunjukkan gambaran bahagia. Mengingat, lagi-lagi ia tak ada saat Mauren berhasil melalui momen berat pasca mengalami kecelakaan. Padahal, aku yang menyebabkan dia tertimpa hal mengerikan. Tapi, aku seakan melepaskan diri dari tanggung jawab. Brian membatin. Ia hanya bisa merutuk diri teruntuk kesekian. Lalu, “Will, esok hari biar aku saja yang menjaga Mauren,” Brian berujar. Sang lawan bicara segera paham, jikalau esok adalah akhir pekan. Sehingga, Brian terbebas dari beban pekerjaan. “Tapi, bukankah besok kau akan menghadiri pertemuan para CEO Perusahaan?” William menyahut. Seketika, usai teringat pada ucapan Priscilla. Yakni, mengenai pertemuan yang sengaja diadakan untuk para CEO. Pertemuan para CEO Perusahaan? Brian bergumam. Kemudian, merogoh ponsel dari dalam saku celana. Benar saja, sebuah pesan dari sang ayah telah bertengger di sana. **Papa : “Brian, besok malam kau bisa hadir, bukan? Papa akan menghadiri pertemuan para CEO. Papa ingin kau turut hadir bersama Papa.” GLEK! Brian menelan ludah. Menghembus napas berat. “Ada apa, Brian? Sepertinya, kau baru tahu jika ada pertemuan para CEO di akhir pekan?” William kembali mengeluarkan suara. “Lantas, bukankah kau juga turut hadir bersama Om Maxim?” Brian melempar pertanyaan balasan. Ck! “Apa urusannya denganku? Aku ini tak terkait dengan Perusahaan Haryasa. Sekali pun, perusahaan itu adalah milik Papaku. Kau tahu sendiri, Brian. Aku sedang menjadi seorang pebisnis mandiri sekarang,” William memberi penekanan informasi. Walau begitu, “Tetap saja. Om Maxim akan memaksamu hadir, bukan?” “Itu dahulu. Sekarang, tak lagi. Lagi pula, Papa sudah mengusirku dari rumah. Jadi, tak ada kuasa bagi dia untuk kembali memaksaku turut bergelut di perusahaan,” William bercerita. Sontak, “Diusir?” Brian mengkonfirmasi pendengaran. “Yah! Dia telah diusir oleh Om Maxim. Maka dari itu, dia tinggal di apartemenku sekarang,” Andrew berbisik. Memperjelas isi cerita dari William. Kalau begitu, aku harus menolak ajakan Papa. Aku tak boleh ketinggalan satu poin lagi dari William. Brian bertekad. Dan, “Aku tak peduli pada pertemuan CEO itu. Jadi, esok hari kau berada di apartemen saja. Biar aku yang menggantikanmu untuk menjaga Mauren selama dua hari ke depan,” Brian memutuskan. Namun, tak semudah itu. Karena, “Will?” Suara Mauren terdengar. Memanggil salah satu dari mereka, sesaat usai mengerjap sedikit kelopak mata. “Ada apa, Mauren?” William menyahut sigap. “Bisakah kau menaikkan suhu pada pendingin ruangan?” “Tentu saja. Aku akan melakukannya untukmu,” William bergegas meraih remot AC. Menuruti keinginan sang pasien wanita. Kemudian, “Lihatlah, Brian. Sekarang, Mauren lebih membutuhkan William. Jadi, bisakah kau mengatasi hal itu saat menjaga dia di dua hari ke depan?” Andrew kembali berbisik. Sesaat usai memperhatikan kedekatan dua insan di depan pandangan. Brian hanya terdiam. Refleks, ia mulai menggerakkan buku-buku jemari; memposisikan menjadi kepalan tangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN