GET INFORMATION

1119 Kata
Cih! Pada akhirnya, William berdecik. Berkata, “Kau jangan terlalu percaya diri, Priscilla.” Tiba-tiba, “Priscilla?” Suara Mauren terdengar lirih. Saat itu, sang pasien mengerjap mata. Mengejutkan sosok William yang sedang berdebat dengan seorang wanita melalui telepon genggam. Dan, Tut! Tut! William spontan mengakhiri sambungan telepon. Ia mengangkat salah satu sudut alis. Bertanya, “Mauren, mengapa kau terbangun?” Hm, Mauren berdehem. Kemudian, “Apakah kau baru saja menyebutkan nama Priscilla, Will?” “Eh-engh,” William tergagap. Mauren melebarkan bola mata. Menatap tajam ke arah seorang pria yang sedang beranjak dari posisi duduk semula. “Ba-baru saja, yah! Aku sedang bertelepon dengan Priscilla. Apakah kau mengingat sosok wanita itu?” Mauren menggeleng pelan. Menyahut, “Entahlah. Aku tak mengingat dia. Namun, kau sempat menyebutkan nama itu.” “Benarkah?” William terlihat sedang mengingat-ingat. “Yah, itu sewaktu kau bercerita jika aku mengalami kecelakaan mobil bersama Brian dan Priscilla.” “Ah! Iya. Aku baru ingat sekarang.” “Apakah Priscilla adalah kekasih Brian, Will?” Mauren bertanya polos. Sepertinya, sang pasien juga melupakan kejadian pada saat ia tertimpa kecelakaan. Sontak, senyum pasi memenuhi garis wajah William. Sungguh, ia bingung harus menjawab seperti apa. “Will?” “Dia bukan kekasih William. Mereka hanya berteman.” “Lantas, mengapa waktu itu aku mengalami kecelakaan bersama mereka? Apakah aku juga berteman dengan Priscilla?” “Tentu saja, TIDAK!” Refleks, William meninggikan nada. Memberi sanggahan pada kesimpulan yang dibuat oleh si pasien. “Mengapa kau berteriak, Will? Mengagetkan aku saja,” Mauren bertanya heran. William menggaruk tengkuk. Sungguh, ini tak mudah bagi pria tersebut. Menjawab pertanyaan Mauren perihal banyak hal, benar-benar momen memusingkan. “Pokok, kau tak berteman dengan Priscilla. Tapi, kami berteman dengan dia. Meski begitu, wanita itu tak memiliki hubungan lebih dengan salah satu diantara kami,” William menjelaskan. Ia berusaha menegaskan kalimat, agar Mauren tak menjadi salah paham. Beruntung, sang pasien menghentikan sesi tanya jawab. William bernapas lega. Kemudian, ia kembali meminta Mauren untuk memejamkan mata. Mengingat, waktu masih menunjuk pada pukul setengah dua belas malam. ****** Seperti biasa. Pagi ini, William kembali ke apartemen sang sahabat. Namun, “Apa yang sedang kau lakukan di sini, Priscilla?” William memekikkan suara. Sesaat usai menjumpai seorang wanita sedang berdiri tepat di depan pintu apartemen milik Andrew. Wanita yang sedang menyandarkan punggung pada tembok tersebut, segera menyeringai. Berkata, “Itu salahmu. Kau berani mematikan panggilan terhubung diantara kita semalam. Jadi, aku menghampirimu ke mari saja. Yah! Itu karena apartemen Andrew lebih dekat dengan rumah kedua orang tuaku.” Haish! “Hentikan ucapanmu yang panjang kali lebar itu. Aku takkan mendengar sepatah kata apa pun dari mulutmu. Jadi, enyahlah saja kau dari sini!” William memerintah. Meski begitu, sang lawan bicara takkan berhenti dan menyerah. Ia terus merengek untuk diijinkan masuk ke dalam apartemen. Bukan untuk apa-apa. Melainkan, untuk membahas perihal balas budi yang harus William lakukan. Usai berpikir singkat, “Kubilang kau enyahlah dari sini, Priscilla!” Kali itu, William membentak. Sosok sang sahabat sehingga keluar dari dalam ruang. Lalu, “Kalian?” Andrew bergumam. Memperhatikan sosok yang sedang berdebat di depan pintu apartemen. Tanpa banyak kata, William segera menyelimur masuk ke dalam apartemen milik Andrew. Tilulit! Pintu apartemen tertutup rapat. Meninggalkan sosok Priscilla di luar ruang. Ting – ting – tung Ting – ting – tung, Suara bel berbunyi tiada henti. Andrew terlihat berkomat-kamit pada William. Bertanya, “Apa yang dilakukan wanita itu di luar kamar apartemenku, Will?” “Dia wanita sinting! Sudahlah, jangan kau hiraukan. Satu menit dan dua menit lagi, dia pasti kesal dan memilih pergi.” Benar saja, Sesuai dugaan. Usai lelah menggedor-gedor dan menyalakan bel berulang kali, Priscilla memilih meninggalkan apartemen tersebut. Dan, “Bagaimana bisa dia mengetahui apartemenku, Will?” “Pasti, Bik Sum kelepasan bicara.” “Ah! Pantas saja.” Yah. Sebelum memberi kunjungan mendadak, Priscilla memang mampir ke kediaman Maxim Haryasa. Ketika mendapati William telah diusir dari rumah, Priscilla menanyakan arah pergi sang tuan muda pada sosok pelayan wanita di sana. ****** Setuntas membersihkan diri dan berganti pakaian. “Will, apakah kau tak pergi ke studio band lagi pada hari ini?” Andrew bertanya. Sang lawan bicara mengangguk. Berkata, “Hari ini, jika hasil observasi Mauren keluar dan menyatakan baik-baik saja. Maka, dia akan diperbolehkan untuk keluar ruangan menggunakan kursi roda. Oleh karena itu, aku akan menemani dia berjalan-jalan di area sekitar taman.” Mendengar kabar baik tersebut, Andrew tak kuasa saat hendak memaksa William untuk pergi mengurus studio band. Meski, sejatinya pemilik studio tersebut bukan Andrew. Melainkan, William. “Kau tak apa, bukan?” “Yah! Ini sudah menjadi makanan sehari-hariku sekarang. Jadi, akan kugantikan tugasmu untuk sementara waktu,” Andrew menyahut pasrah. Mengijinkan sang sahabat pria untuk meninggalkan kamar apartemen berukuran cukup luas di sana. “Thanks, Bro. I can not imagine one second without you. And, thank God, I have got the rest of my life to spend with him,” William berujar lantang. Berseru memberi ucapan terima kasih yang sedikit berlebihan bagi Andrew. Lalu, “Diamlah, kau! Cepat pergi saja dari sini!” Andrew menimpali. Menyaksikan sang sahabat sedang berlari melewati ambang pintu apartemen yang terbuka. Tilulit! Kini, bayangan William tak lagi ada di dalam ruang yang sama. Kemudian, Drrt drrt! Ponsel Andrew bergetar. Ia bergumam. Tumben sekali, Brian meneleponku pagi-pagi? Dan, “Halo, Brian?” “Kau sedang berada di mana, Drew?” “Aku sedang berada di apartemen.” “Apakah kau sibuk?” Hm, Andrew berdehem. Sejatinya, ia belum memiliki kesibukan sebelum jarum pada jam menunjuk ke angka sembilan. “Tidak. Ada apa, Brian?” “Ada yang ingin kubicarakan berdua saja denganmu. Jangan sampai William tahu.” Spontan, dahi Andrew berkerut heran. Memang, apa yang hendak dia bicarakan? Pada akhirnya, “Baiklah. Kau ingin kita bertemu di mana?” Andrew menyanggupi. Menanyakan lokasi pertemuan. “Siang ini, apa kau berada di rumah sakit?” “Tidak. Dari pukul sembilan hingga menjelang petang, aku akan berada di studio band milik William.” “Baiklah. Kalau begitu siang ini saat jam istirahat, aku akan menghampirimu ke studio band.” “Begitukah? Tapi, studio band milik William berada cukup jauh dari Perusahaan Wijaya. Apa kau tak apa, jika meninggalkan perusahaan dalam kurun waktu yang cukup lama?” Brian terdiam. Sejatinya, ia merasa sungkan. Mengingat, ia sudah pernah meminta ijin pada waktu itu. Sehingga, “Baiklah. Kita berjumpa saat sudah sama-sama selesai beraktivitas saja,” Brian menurunkan posisi bahu yang semula mengembang karena antusias. Beralih lesu dan lemas. “Nah! Itu adalah keputusan yang baik, Brian. Kalau begitu, sampai jumpa nanti malam.” Tut, tut. Panggilan berakhir. Sesaat usai memerintah diri agar bersabar untuk menunggu jam pulang kerja tiba. Pria berparas tampan tersebut bergumam. Semoga Andrew dapat memberikan informasi yang sedang kubutuhkan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN