SO DISTURBING

1149 Kata
Brian baru saja tiba di halaman rumah sang ayah. Seorang sopir terlihat mendorong kursi roda milik Brian, sesaat usai ia membantu putra sang tuan untuk turun dari dalam kendaraan. Ceklek! Daun pintu rumah yang terbuka, memunculkan sosok Lucia di sana. Dan, “Kau baru pulang, Kak?” Hanya ada anggukan kepala dari seorang pria berparas tampan. Kemudian, “Terima kasih, Pak,” Lucia berujar pada sang sopir. Berganti posisi untuk mendorong kursi roda milik Brian. “Ada apa? Sepertinya, kau terlihat bersedih? Bukankah, kau terlambat pulang karena sempat mampir ke rumah sakit dahulu?” Lucia kembali mengeluarkan suara. Kini, kakak beradik tersebut berpindah di ruang tengah. Lucia menjejalkan p****t pada sofa. Memandang wajah sang kakak yang menggambarkan gurat bersalah. Lalu, “Lucia, apa kau tahu jika Mauren memiliki alergi pada kacang polong?” Brian bertanya. “Tentu saja,” Lucia menyahut dengan cepat. Ia menganggukkan kepala sebagai penyerta. Jadi, selama ini hanya aku saja yang tidak mengetahuinya? Kekasih macam apa aku ini? Brian merutuk diri di dalam hati. Tanpa berniat mengucap pamit, pria tersebut melajukan kursi roda menuju kamar pribadi. Sedangkan, Lucia terlihat mengerucutkan bibir. Menelengkan kepala sebagai pertanda tak paham akan sikap Brian. ****** Di dalam kamar. Brak! Seluruh benda di atas meja terjatuh. Berhamburan memenuhi lantai ruang. Lucia yang mendengar bunyi berisik itu, bergegas menghampiri sumber suara. “Ada apa, Kak?” Ia memekikkan suara. Menatap barang-barang yang berserakan. Bahkan, sebuah bohlam hias di atas meja turut terjatuh dan pecah. Lagi-lagi, Brian tak berniat memberi sahutan. Lucia segera mendekap tubuh sang kakak. Ia tak lagi bertanya. Mengijinkan Brian terdiam dalam rutukan rasa bersalah. Sepersekian detik kemudian. “Lucia, apakah selama kau masih menemani Mauren di Indonesia, dia tak pernah melupakanku?” Brian bertanya teruntuk kali kedua. “Tentu saja. Selagi, Kak Mauren berkunjung ke mari sewaktu aku masih SMA, dia selalu menceritakan tentangmu. Bercerita tentang kenangan indah kalian. Dia juga berkata padaku, jika takkan tertarik pada lelaki tampan mana pun. Dia selalu setia padamu. Ada apa, huh? Mengapa kau bertanya seperti itu, Kak?” “Lalu, apa lagi?” Hm, Lucia berdehem. Mencoba mengingat kenangan yang sempat ia jalani selagi Brian sudah berpindah ke Inggris. “Lalu, dia juga senang sekali saat Mama mengajaknya untuk memasak menu kesukaanmu. Bahkan, Kak Mauren selalu meminta porsi lebih untuk ia bawa pulang ke rumah. Mama dengan senang hati membawakan bekal untuk Kak Mauren,” Lucia melanjutkan. Hening sesaat. Jawaban yang Lucia beri, benar-benar menambahkan rasa bersalah di hati Brian. Selama berpacaran dengan Mauren, ia hanya bersibuk bersenang-senang tanpa memikirkan hal detail terkait sang pujaan. “Kak, sepertinya kau harus segera membersihkan badan. Setelah itu, beristirahatlah. Kau pasti lelah, bukan?” Lucia mengingatkan. Brian mengangguk pelan. Memberi ijin kepada sang adik untuk keluar dari dalam ruangan. Selagi Lucia berjalan melewati ambang pintu, wanita cantik tersebut berujar, “Oh ya, kau tak perlu membereskan barang-barang itu. Aku akan meminta tolong pada Bibik untuk membersihkan benda yang sempat kau jatuhkan.” Kini, Lucia telah pergi dan Brian beralih menuju sisi dalam kamar mandi. ****** Sementara itu, Di sebuah rumah sakit swasta ternama. Tepatnya, pada cafe yang terletak di lantai dua. “Kau lihat kan, Drew? Brian sama sekali tak memedulikan Mauren. Bagaimana bisa mereka dikatakan berpacaran? Jika, salah satu dari mereka tak paham dengan kebiasaan atau hal lain seperti riwayat alergi yang dimiliki,” William berujar. Sesaat usai meletakkan cangkir berisi latte hangat ke atas meja. “Tak seperti itu, Will. Bisa jadi, Brian hanya lupa. Atau, dia tak tahu bahan dasar yang digunakan saat mengolah gnocchi,” Andrew menengahi. Issh! “Itu hanya bisa-bisamu saja, Drew. Kau memang selalu bersikap netral kepada kami.” “Tentu saja. Jika tidak, perang dunia akan selalu terulang ketika kalian sedang bersama,” Andrew menimpali. Ck! William berdecak kecil. Menyunggingkan senyum pada sang sahabat yang selalu berhasil menjadi penengah. Lalu, “Bagaimana dengan Perusahaan Kelton? Apakah mereka setuju dengan permintaan kita?” William bertanya memastikan. “Tentu saja. Itu adalah hal mudah untuk dilakukan oleh pihak HRD. Lagi pula, kau tahu sendiri mengenai sifat Om Martin. Dia seorang CEO yang menyeramkan. Jadi, mana ada pegawai yang berani menolak kehadiran putri dari seorang Martin Kelton Manopo?” Andrew menyahut. Tak henti menyengir setelahnya. “Eh! Tapi, Will. Sewaktu aku mengutarakan permintaan itu, aku juga menujukan permintaan untuk curriculum vitae milikku,” Andrew memberi info tambahan. “Apa maksudmu, Drew? Jangan bilang, kau ingin bekerja di Perusahaan Kelton juga?” “Tentu saja. Lagi pula, siapa yang tak ingin bekerja di Perusahaan nomor satu di dunia. Om Martin benar-benar seorang CEO yang tak diragukan. Dia bisa mengembangkan bisnis hingga ke manca negara,” Andrew memberi pujian. “Yah! Kau benar. Tapi, gara-gara dia gila bekerja dan harta, dia sampai melupakan kewajiban sebagai seorang ayah,” William menanggapi ucapan Andrew dengan kalimat telak. Hhh, “Entahlah. Terkadang, jalan hidup tak bisa kita mengerti,” Andrew menyahut lirih. Menghembus napas panjang sembari menyandarkan punggung pada dudukan. ****** Tak terasa, jarum pada jam telah menunjuk angka sebelas malam. Kini, William berada berdua saja dengan si pasien pasca kecelakaan. Tentu, karena Andrew harus bermalam di dalam kamar perawatan seorang pasien kanker. Di sela menggulir tablet kerja, William melirik sosok Mauren yang sedang memejamkan mata. Sungguh, ia bertekad untuk mengembangkan bisnis di bidang musik. Tak lupa, juga melebarkan sayap sebagai seorang gitaris. Tentu, semua itu harus ia gapai jika ingin menjadi seorang pria yang pantas bersanding dengan putri pewaris perusahaan nomor satu di dunia. Dan, Drrt drrt! Getaran pada ponsel menghujam sisi atas meja berbentuk kaca. William menyudahi aktivitas menggulir tablet kerja. Menatap sosok penelepon dari seberang. *Penyihir wanita* Sontak, William menekan tombol menolak panggilan. Namun, wanita yang berperangai seperti seorang penyihir itu, takkan menyerah. Drrt Drrt Drrt! Panggilan masuk terus ia tujukan. Sehingga, “Halo, Prisc? Ada apa?” William terpaksa menyahut. “Apa kau sudah tidur? Ah! Pasti belum, karena kau sedang berjaga di rumah sakit.” “Sudahlah! Katakan saja, apa yang seharusnya kau katakan setelah mengganggu orang lain di waktu tengah malam begini,” William menyergah. Haha, Suara gelak tawa terdengar. Priscilla berkata, “Ini perihal acara pertemuan para CEO Perusahaan. Apakah kau berubah pikiran?” “Apa maksudmu? Bukankah, kau sendiri yang berkata jika telah membantuku untuk tidak hadir pada acara itu? Lagi pula, utang budiku mengenai hal tersebut sudah lunas.” “Sudah lunas?” Priscilla mengkonfirmasi. “Tentu saja. Malam itu, aku sudah menuruti kemauanmu untuk pergi ke bar. Jadi, aku tak harus melakukan sesuatu untuk membalas budi lagi padamu.” “Enak saja! Apa yang kau lakukan tak sebanding dengan yang kulakukan. Papamu itu sangat otoriter dan kejam. Jadi, aku membutuhkan balas budi yang setimpal.” Haish! William mengeram. Wanita ini benar-benar penyihir sialan! “Halo, Will?” Priscilla kembali mengeluarkan suara. Sesaat usai tak mendapat sahutan dari sosok William. Lalu, “Baiklah. Akan kuanggap diammu ini sebagai pertanda ‘iya’. Maka dari itu, kau harus bersiap untuk melakukan suatu hal lagi untukku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN