Jam istirahat kantor hampir usai. Tepatnya, pada pukul satu kurang sepuluh menit.
Sebelum menuju ke Perusahaan Wijaya, Brian menyempatkan diri untuk pergi ke loket administrasi. Selain untuk melunasi tagihan milik Mauren, Brian juga ingin mengetahui mengenai beberapa program yang akan dijalani oleh sang kekasih.
Sembari masih ditemani oleh Lucia, Brian berfokus mendengar semua penjelasan.
Hingga,
“Mulai hari ini, pasien atas nama Nona Mauren Alisea Manopo akan menjalani program rehabilitasi. Mengenai tagihan pembayaran, akan muncul setelah program dijalankan,” Seorang petugas menginfokan.
Brian segera paham. Mengingat, setelah gips miliknya dilepas nanti, ia juga harus menjalani program yang sama. Meski, dengan penatalaksanaan medis yang berbeda sesuai diagnosa.
“Kak, sepertinya seorang dokter dan petugas penunjang medis sedang menuju kamar perawatan Kak Mauren,” Lucia menginfokan. Sesaat usai memperhatikan sosok William menyapa dan masuk bersama mereka ke dalam ruang perawatan.
Sementara itu, Brian mengecek jarum jam pada pergelangan tangan. Kini, telah berpindah tepat pada pukul satu siang.
“Sepertinya, hari ini biar saja William yang menemani Mauren, Lucia. Kakak harus kembali ke perusahaan,” Brian memutuskan.
Memang benar, pria tersebut telah meminta ijin keluar selama jam istirahat. Namun, bukan berarti Brian akan menghabiskan waktu tanpa aturan. Setidaknya, ia diperbolehkan terlambat masuk hingga satu jam usai waktu ijin keluar.
Pada akhirnya, kakak beradik itu mengakhiri aktivitas di lantai sembilan.
******
Sedangkan,
Di dalam kamar perawatan VIP.
Mauren terlihat menggerakkan beberapa anggota tubuh sesuai instruksi yang diberikan. Tentu, dengan harapan program tersebut akan membantu proses pemulihan. Beberapa gerakan harus dilakukan dengan bantuan wali, ketika petugas tidak sedang melaksanakan program di dalam ruangan. Dan, William? Jangan ditanya, dia adalah seorang pria yang amat memperhatikan hal detail. Sehingga, tak sulit bagi William untuk menghafal gerakan yang harus ia bantu saat Mauren sedang menjalani latihan.
******
Satu jam kemudian.
Sret!
Pintu berwarna kecokelatan tersebut bergeser. Tak lagi menampakkan dua orang yang semula berada di dalam satu ruang. Menyisahkan William dan sang pasien di sana.
“Bagaimana, Mauren? Apakah program tersebut dapat kau tangkap dengan baik? Ataukah, kau merasa sedikit keberatan dengan waktu latihan yang cukup lama?”
“Tidak, Will. Tidak. Lagi pula, petugas tadi sudah memberi penjelasan dengan baik. Sehingga, aku dapat mengerti. Dan, setelah menjalani program tersebut, aku menjadi lebih leluasa menggerakkan tungkaiku yang sebelah. Meski, masih tertinggal sedikit rasa nyeri.”
William memanggutkan dagu. Melihat jawaban dan tanggapan yang Mauren berikan, sejauh ini semua berjalan dengan baik dan lancar.
“Oh ya, Will. Kau sempat berjanji untuk menjelaskan padaku perihal kedua orang tuaku,” Mauren berujar.
“Benar, jadi begini—”
Lima menit
Sepuluh menit
Dua puluh menit setelah itu.
“Maka dari itu, aku tak dapat mengingat mereka?” Mauren bertanya.
“Benar, Mauren. Selama ini, Om Martin dan Tante Jessy. Ah! Maksudku, Papa dan Mamamu lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri untuk mengurus bisnis mereka. Mereka hanya sesekali pulang ke Indonesia untuk menjalankan rapat terkait Perusahaan Kelton, yang ada di sini.”
“Pantas saja.”
“Pantas saja apa, Mauren?” William bertanya heran. Sesaat usai mendengar tanggapan Mauren yang terlihat enggan menerima.
“Pantas saja, sedari tersadar aku tak pernah menyebut nama mereka. Bahkan, aku lupa dengan peran orang tua. Apakah selama ini, aku hanya hidup seorang diri, Will?” Mauren bertanya. Menatap sang pria dengan pandangan sendu di dalam manik mata.
“Apa yang kau katakan? Tentu saja, tidak. Di Indonesia, kau memiliki banyak teman. Banyak orang yang menyayangimu di sini.”
“Benarkah? Apakah salah satunya adalah kau, Will?”
DEG!
Seketika, William menjadi salah tingkah. Jika diperbolehkan, ia akan menjawab jikalau dirinya lebih dari sekedar menyayangi Mauren. Melainkan, juga memiliki rasa cinta pada si pasien wanita.
Sepersekian detik kemudian.
Haha,
William tergelak. Menutupi mimik bersemu di wajah. Berkata, “Tentu saja, aku dan Andrew juga menyayangimu. Seperti, Tante Fransiska, Om Jonathan, Bik Idah dan Pak Narto.”
Lalu,
“Oh ya, Will. Aku baru ingat, jika kau dan Andrew memiliki seorang sahabat yang selama ini tinggal di luar negeri,” Mauren kembali mengeluarkan suara.
“Pantas saja, saat kalian saling memandang, kalian terlihat cukup akrab.” Ia melanjutkan.
“Apakah yang sedang kau maksud adalah Brian, Mauren?” William mengkonfirmasi.
“Yah, yang kumaksud adalah pria tampan yang tadi sempat berada di sini.”
Haha!
Lagi-lagi, tawa membahana keluar dari bibir William. Ia menyahut, “Jadi, selama ini kau tak melihatku sebagai seorang pria tampan, huh?”
Mauren menyengir. Tak berniat memberi jawaban.
“Dasar kau!” William mengacak kecil puncak kepala Mauren. Berusaha tetap tersenyum, meski ia sedang merasakan cemburu akan pujian yang Mauren tujukan untuk Brian.
******
Tak terasa hari beranjak malam.
Seperti biasa, Andrew akan datang berkunjung selagi ia juga menjumpai Letta di kamar perawatan pada lantai lain. Hanya saja, waktu itu Andrew tak datang seorang diri. Melainkan, dengan Brian yang baru saja pulang dari perusahaan.
“Aku boleh bergabung dengan kalian, bukan?” Brian bertanya. Sesaat usai memasuki ambang pintu kamar yang terbuka.
“Tentu saja, Brian,” Tanpa pikir panjang, Mauren mempersilahkan.
Sedangkan, William terlihat melempar senyum masam. Memandang Andrew dengan banyak ucapan melalui isyarat pandang.
Petang itu, Brian tak datang dengan tangan kosong. Ia membawa beberapa menu makanan, yang sempat ia beli selagi berada di dalam perjalanan.
“Wah, aroma masakan Italia benar-benar menggugah selera makanku pada malam ini,” Mauren berujar. Sesaat usai melirik nampan berisi makanan, yang disediakan oleh pihak rumah sakit.
Sontak,
“Jadi, pasienku yang satu ini lagi-lagi enggan makan menu hidangan rumah sakit, huh?” William berucap. Beranjak dari duduk sembari menyentil ujung hidung Mauren.
Sungguh, pemandangan itu membuat hati Brian menjadi terbakar. Api cemburu seraya menghanguskan seluruh dinding pertahanan.
Sedangkan, sosok Andrew hanya bisa menelan ludah. Ia tahu pasti, jika William tak bermaksud beradegan mesra dengan Mauren di depan Brian. Yah! Itu semua sudah menjadi kebiasaan William pada Mauren, semenjak beberapa tahun belakangan.
Kemudian,
“Se-sebaiknya, kita mulai makan,” Brian mengeluarkan suara. Tergagap. Memecah lemparan senyum merekah dari bibir dua orang muda mudi di depan mata.
“Kau benar, Brian. Mari kita makan!” Andrew menimpali. Ia sengaja mengeluarkan nada tinggi.
Dengan segera Brian menyodorkan salah satu menu kepada Mauren.
Dan,
“Apakah kau baru saja memberiku gnocchi, Brian?” Wanita tersebut bertanya memastikan. Sesaat usai meraih menu yang Brian sodorkan.
Spontan,
William merampas menu tersebut dari sisi tangan Mauren.
Brian melongo. Bertanya, “A-ada apa?”
“Apa kau tidak tahu, jika Mauren memiliki alergi pada kacang polong, Brian?” William menekankan kalimat.
“Gnocchi ini, biasa dibuat dengan campuran saus krim dan kacang polong. Apa kau berniat meracuni Mauren, hah?” William menambahkan. Kali itu, ia sembari menaikkan kedua sudut alis; sebagai pertanda amarah yang tak tertahan.
Refleks,
Hati Brian mencelos. Ia menurunkan bahu bidang yang semula mengembang. Membatin. Meng-mengapa selama ini aku tidak tahu, jika Mauren memiliki alergi pada jenis makanan tertentu?