ZERO POINT

1129 Kata
Siang ini. Tepatnya, saat jam istirahat kantor. Brian tiba di rumah sakit. Ia menuju lantai sembilan untuk berjumpa dengan Mauren dan Lucia. Sebelum membuka pintu kamar perawatan VIP 9110, Brian mengecek ponsel yang menyala. Memunculkan nama William di dalam layar. Akibat tak lagi tahan untuk berjumpa dan menegur sapa Mauren, Brian seraya kehilangan kendali. Ia bahkan sengaja menekan tombol mati pada daya ponsel. Tentu, agar William tak dapat mengganggu perbincangan mereka nanti. Dan, Sret! Suara pintu kamar bergeser berat. Brian sengaja membuka dengan perlahan, agar tak mengejutkan seorang pasien di dalam ruang. “Kak Brian?” Lucia mengeluarkan suara. Sang adik beranjak dari posisi semula. Menghampiri posisi Brian berada. Membantu pria tersebut untuk melajukan kursi roda ke dalam ruangan. Sementara itu, Mauren terlihat memandang Brian dengan seribu pertanyaan. Banyak tanda tanya, yang ia sendiri tak tahu harus memulai dari mana. Mengingat, ia tak lagi memiliki memori yang utuh di dalam kepala. “Mauren, bagaimana kondisimu?” Suara khas pria terdengar menyapa. Mauren tak henti terperangah. Bukan karena paras tampan di wajah si pria. Melainkan, suara itu cukup tak asing di telinga. Meski begitu, ia tak dapat mengingat sosok sang lawan bicara. “Seperti yang kau lihat. Beginilah kondisiku sekarang,” Mauren menyahut singkat. Ia mengedarkan netra pada keadaan Brian, yang sedang terduduk di kursi roda dengan tungkai kanan terbalut dengan gips. “Apakah kau putra Tante Fransiska dan Om Jonathan? Apakah kau kakak dari wanita bernama Lucia ini?” Mauren bertanya. Memastikan. “Benar. Namaku Brian Stevan Wijaya. Dia adikku, Lucia Stevani Wijaya. Kami putra dan putri dari Jonathan dan Fransiska. Dua orang yang kau kenali itu,” Brian menjelaskan. Melihat dua muda mudi yang dahulu sempat menjalin kasih, Lucia segera bertindak peka. Ia meraih tas jinjing yang semula berada di meja dekat sofa. Lalu, beralih keluar dari dalam ruang. Wanita tersebut sengaja memberi waktu, agar sang kakak dapat berbincang dengan sang pujaan. Suara pintu yang bergeser; bergerak menutup, membuat Mauren menjadi was-was. Sungguh, meski Brian mengaku putra dari Jonathan dan Fransiska, ia sama sekali tak mengenal pria yang sedang berada di depan mata. Sama halnya, ketika Mauren mencoba mengingat sosok Lucia. “Jika, kau benar putra mereka. Lantas, mengapa aku tak mengingatmu?” Mauren bertanya. “Apakah William belum menjelaskan perihal kondisi kesehatanmu. Lebih tepatnya, mengenai ingatanmu?” Brian melempar pertanyaan ulang. “Tentu. Tentu, William sudah menjelaskan hal itu. Aku kehilangan sebagian memori di masa lalu.” Jadi, “Begitulah yang terjadi padaku. Aku adalah bagian dari masa lalumu; sama seperti Lucia. Beberapa tahun belakangan, kami berdua berada di luar negeri. Itulah, alasan mengapa kau tak mengenali kami. Sedangkan, Papa-Mama, William, Andrew dan yang lain. Mereka masih berada di Indonesia. Mereka menemanimu hingga hari kecelakaan tiba,” Brian melanjutkan. Ngiiing! Beruntung, suara berdenging pada telinga Mauren kali itu, tak berlangsung lama. Yah! Begitu pula dengan tak adanya rasa pusing, yang sebelumnya terasa amat menyiksa. “A-apa kau baik-baik saja, Mauren?” Brian memekikkan suara. Ia mulai panik saat mendapati Mauren menyentuh sisi pelipis. “Aku—” Mauren mencoba merasakan sakit yang sesaat sempat menyelinap sepersekian detik di kepala. “Aku baik-baik saja.” Brian bernapas lega. Kemudian, ia menyodorkan segelas air minum pada sang pasien wanita. Mauren meraih gelas tersebut. Ia meneguk air mineral hingga menyisahkan setengah cairan bening di sana. Lalu, “Apakah kau juga merupakan sahabat dari William dan Andrew? Ataukah, aku mengenalmu karena Tante Fransiska dan Om Jonathan saja?” Mauren kembali bertanya. Brian tak segera menjawab. Ia hanya refleks memanggutkan dagu. Sebuah pertanda ‘iya’. “Ah! Maafkan aku. Kalau begitu, aku dan kau juga berteman baik di masa lalu. Maaf karena kecelakaan ini, membuatku melupakanmu, Brian,” Mauren berujar sungkan. Namun, Dentuman keras baru saja menghantam bagian hati terdalam Brian. Sungguh, ia ingin meralat kata-kata yang Mauren ucapkan. Ingin rasanya, Brian berkata jika mereka bukan sekedar berteman baik. Melainkan, pernah menjalin cinta dengan penuh rasa kasih. Hanya saja, Sret! Daun pintu kamar kembali terbuka. Kali itu, diiringi dengan langkah lebar seorang pria. “Will?” Mauren memanggil. Merekahkan senyum saat mendapati sosok William melewati ambang pintu yang terbuka. “Mauren, kau tak apa?” “Apa maksud dari pertanyaanmu, Will? Tentu, aku baik-baik saja.” Pada saat bersamaan, kedua orang pria berparas tampan saling memandang penuh makna. Lalu, tanpa banyak bicara William mengarahkan Brian menuju keluar ruang. Sedangkan, Mauren? Pasien wanita tersebut melongo heran. Apa yang sedang terjadi pada mereka? Sepertinya, mereka tak cukup akrab untuk disebut sahabat? Ataukah, ada hal yang sedang membuat persahabatan mereka sedikit menegang? Ah! Entahlah, nanti kutanyakan saja pada William. Seusai berpikir sejenak, Mauren kembali merilekskan kepala pada sisi punggung ranjang. Ia bersandar sembari menekan tombol menyala pada layar televisi berukuran lebar. ****** Di depan ruang perawatan. Lucia sedang memandang cemas pada sosok dua pria, yang baru saja menampakkan diri dari balik ruang. Astaga! Mereka tak sedang berniat untuk bertengkar, bukan? Benar saja, Terkaan Lucia salah. William yang semula terlihat dipenuhi oleh amarah, sontak meredakan emosi. Sesaat usai menatap manik mata sendu di wajah sang sahabat. “Kau tak berniat mengingkari kesepakatan kita kan, Brian?” William bertanya. “Tentu saja. Sepertinya, kau sempat salah paham karena aku berkata akan berbincang empat mata dengan Mauren. Sejauh ini, semua kesepakatan kita masih berjalan dengan lancar. Aku tak berniat mengungkap jati diriku yang sebenarnya pada Mauren. Aku ke mari, hanya ingin menyapa dia. Mengobrol dengan dia. Memandang wajah dia dari dekat. Itu saja.” Mendengar penjelasan Brian, hati William mencelos. Lagi-lagi, William tahu betul perihal yang Brian rasa. Tapi, “Kau jangan terlalu bersantai, Brian. Aku akan tetap mengawasimu. Aku akan memastikan jika kondisi kesehatan Mauren tak terganggu dengan adanya kehadiranmu.” “Tentu saja, Will. Tentu, kau boleh melakukan hal itu,” Brian menyahut dengan hati yang besar. Meski, terselip rasa sakit yang teramat menusuk di hati yang terdalam. Namun, Brian tak dapat berbuat apa-apa pada saat sekarang. Semua kesalahan yang ia perbuat di masa lampau, memang teramat menyakitkan untuk diingat oleh seorang pasien yang sempat mengalami kecelakaan. “Kau hanya perlu mengingat satu hal, Will. Aku cukup tahu diri. Aku tahu, jika aku tak pantas untuk Mauren.” Sontak, “Apa yang sedang kau katakan, Kak? Mengapa kau berkata seperti itu lagi? Kau sudah berjanji takkan menyerah, bukan?” Lucia menyergah kalimat Brian. William memandang kakak beradik tersebut secara bergantian. Kemudian, Brian mulai berkata, “Kakak memang takkan menyerah, Lucia. Tapi, ucapanku baru saja perihal tak pantas, memang benar. Kecelakaan nahas yang menimpa Mauren, adalah ulahku. Prank konyol yang kulakukan, membuat Mauren kehilangan kendali saat mengemudi. Jadi—” “JADI APA, Kak? Jadi apa?” Lucia meninggikan nada. Tak terima. “Jadi, mulai sekarang aku akan membuktikan jika aku pantas untuk mendampingi Mauren. Aku takkan menyerah. Aku akan menepati janji yang sempat kubuat padanya. Meski, aku harus memulai perjuangan ini, sedari titik nol lagi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN