William melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Meski begitu, pagi hari jalanan takkan selengang pada saat malam. Sehingga, pria tersebut terpaksa terjebak di kemacetan.
Haish!
Apakah pria ini sedang membawa wanita ke dalam apartemennya? Tak biasa, dia menolak untuk menampungku. William menggerutu sembari menujukan panggilan ke nomor telepon sang sahabat.
******
Kini, William telah tiba di sebuah parkiran basemen.
Ban mobil berdecit sesaat usai bergerak menyampingi posisi mobil SUV milik Andrew di sana. Usai mematikan mesin kendaraan dan melepas sabuk pengaman, William keluar dari dalam kendaraan. Melangkah cepat menuju sisi lift yang ada.
Ting!
Lift berdenting. Bergerak ke arah atas menuju lantai yang William tuju.
Setiba di depan kamar apartemen.
Ting – ting – tung,
Ting – ting – tung,
Suara bel terdengar sebanyak dua kali. Melihat tak ada tanda-tanda Andrew membukakan pintu, William beralih menekan beberapa digit angka yang sudah ia hafal.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka.
“HEI! YA! Apa kau senang setelah berhasil mengerjaiku, hah?” William berdecak. Menghampiri posisi sang sahabat yang sedang mengistirahatkan badan pada sisi atas sofa.
Sontak,
Haha!
Andrew terbahak. Menertawakan sang sahabat yang memasang raut ketakutan. Lalu berkata, “Lagi pula, bagaimana bisa aku tak mengijinkanmu untuk menginap di sini, Will?”
Cih,
“Dasar kau!”
Yah, William dan Andrew terbilang sangat akrab. Ketika William tak betah berada di rumah, apartemen Andrew selalu menjadi tempat singgah.
Hanya saja,
“Sepertinya, kali ini si Tuan Maxim Haryasa benar-benar takkan memberimu ampun, Will. Lihatlah, kau benar-benar diusir,” Andrew berujar. Mengarahkan pandang pada dua buah koper berukuran besar; cukup untuk memuat banyak pasang pakaian.
Hhh,
Helaan napas panjang terdengar. Kali itu, William beralih duduk selonjor di atas karpet bulu yang ada di lantai. Menekuk sebelah tungkai menjadi bentuk siku-siku. Menopangkan lengan kiri pada sisi lutut sebagai tempat bertumpu. Berkata, “Biarlah, dia memang kerap bertindak sesuka hati; tak pernah peduli pada putranya ini. Toh, sedari dulu juga tak ada yang peduli padaku.”
Issh!
“Kalau begitu, kau anggap aku apa, hah?” Andrew memekikkan suara. Merasa tersinggung karena tak dianggap peduli pada William. Padahal, sejauh itu mereka berdua saling memedulikan satu sama lain.
Dan,
BUG!
Kali itu, Andrew berganti mendaratkan sebuah bantal ke arah wajah William.
Ck,
William terkikik singkat. Melempar kembali bantal tersebut. Lalu, ia berpamitan untuk membersihkan badan.
Di sela William berada di dalam kamar mandi, Andrew kembali melanjutkan aktivitas memejamkan mata. Namun, ponsel di atas meja tak henti bergetar dan mengganggu waktu untuk beristirahat.
Drrt,
Drrt,
Drrt!
Alih-alih menjawab panggilan masuk, Andrew justru menutup kedua telinga dengan bantal.
******
Setuntas membersihkan badan.
“HIA! Mengapa kau tak menjawab panggilan masuk dari Mauren?” William memekikkan suara. Sesaat usai melihat ponsel Andrew yang sedikit meredup; memunculkan nama Mauren di sana. Dengan segera, William menyudahi gerak mengeringkan rambut dengan handuk.
“HEI! Drew? Kau tidur atau meninggal?” William kembali mengeluarkan suara.
Haish,
Andrew mengeram. Mengerjap mata dengan terpaksa. Beralih duduk bersandar pada sofa. Mengecek kolom notifikasi yang saat itu memiliki banyak panggilan tak terjawab.
“Lagi pula, mengapa Mauren meneleponku? Bukankah, ia lebih terbiasa meneleponmu dahulu?” Andrew bertanya-tanya.
Sontak,
“Astaga!” William tersentak.
“Ponselku pasti mati karena kehabisan daya,” Dengan gerak cepat, William meraih ponsel yang menggelap. Ia menancapkan kabel pengisi daya pada sebuah sakelar.
“Kalau begitu, cepat kau hubungi Mauren, Drew. Tanyakan, ada apa?” William memerintah.
Tut.. tut..
*Mauren*
“Halo, Mauren?”
“Hai, Drew?”
“Ada apa? Sewaktu kau meneleponku, aku sedang tak sadarkan diri.”
“Apa maksudmu, Drew? Apa kau baru saja jatuh pingsan?” Nada bicara Mauren terdengar cemas.
Haha,
Andrew tergelak. Berujar, “Bukan, bukan. Maksudku, tadi aku sedang molor. Alias, tidur. Ada apa?”
“Baru saja, dokter berkata jika mulai siang ini aku akan dijadwalkan untuk menjalani rehabilitasi di dalam kamar perawatan. Mereka meminta agar wali pasien juga memperhatikan program rehabilitasi yang diberikan padaku. Jadi, aku hendak menghubungi nomor Papa dan Mama. Tapi, aku tak memiliki nomor mereka di ponsel baruku ini. Apakah kau bisa mengirimkan nomor kedua orang tuaku?”
Sontak, bola mata Andrew membulat penuh. Ia tak memberi jawaban. Melainkan, sedang berkomat-kamit pada William.
Tanpa banyak bicara, William meraih telepon genggam yang semula berada di sisi samping kanan telinga Andrew.
“Halo, Drew? Mengapa kau diam saja?” Suara Mauren terdengar.
“Bisakah, kau mengirim nomor kedua orang tuaku?” Sang penelepon melanjutkan ucapan.
Lalu,
“Mauren, ini aku William.”
“William?”
“Yah, aku sedang berada bersama Andrew. Mengapa kau butuh nomor Om Martin dan Tante Jessy?”
Mauren menjelaskan perihal yang sempat dikatakan oleh dokter spesialis rehabilitasi medik pada William. Jika, dokter mengharuskan wali pasien turut hadir saat program rehabilitasi diberikan.
“Ah! Soal itu. Nanti, aku akan menggantikan Om Martin dan Tante Jessy,” William menyanggupi.
“Tak perlu, Will. Biar kedua orang tuaku saja. Kau juga harus mengurus studio bandmu, bukan? Sudah berhari-hari kau menemaniku di sini.”
“Tak semudah itu Mauren. Om Martin dan Tante Jessy sedang berada di luar negeri,” William menginfokan.
“Lu-luar negeri?” Mauren terbata.
“Iya. Setelah berjumpa nanti, aku akan menceritakan lebih banyak lagi perihal mereka. Yang pasti, mereka takkan bisa hadir. Jadi, selagi kau berada di rumah sakit, akulah walimu.”
“Begitukah, Will?”
“Iya, Mauren. Sekarang katakan saja, pada pukul berapa program rehabilitasimu di mulai?”
“Setelah jam makan siang.”
“Baiklah, nanti aku akan menjumpaimu di rumah sakit.”
Panggilan berakhir.
Lalu,
“Will, kau tak lupa, bukan? Kau menyuruhku pergi ke Perusahaan Kelton pada hari ini. Jadi, tak ada yang mengurus studio band. Mau tak mau, kau harus pergi ke sana,” Andrew berujar mengingatkan.
“Baiklah, baiklah. Setelah berganti pakaian, aku akan menuju studio band. Tapi, setelah jam makan siang; setelah kau tuntas dari Perusahaan Kelton, kau pergilah ke studio. Bantulah aku, huh?” Lagi-lagi, William memohon bantuan dari sang sahabat.
Dengan napas berat, Andrew mengiyakan. Sungguh, ia tak bisa menolak permintaan bantuan dari William.
Pada saat bersamaan.
Ponsel William yang telah menyala dari keadaan menggelap, memunculkan nama Brian di dalam layar.
Drrt drrt!
*Brian*
“Siapa?” Andrew bertanya.
“Brian,” William menginfokan. Mengarahkan layar ponsel pada Andrew.
Lalu ia menyahut panggilan masuk, “Halo, Brian. Ada apa?”
“Will, kau sedang berada di mana?”
“Aku sedang di apartemen Andrew. Setelah ini, aku hendak ke studio band.”
“Pantas saja, Lucia berkata jika dia baru saja menjumpai Mauren seorang diri di dalam ruang perawatan.”
“Lucia sedang berada di rumah sakit?” William bertanya. Memastikan ia tak salah mendengar.
“Benar, Nyokap meminta agar Lucia membawakan makanan untuk Mauren. Dan, nanti siang aku juga akan menjumpai dia. Ada hal yang harus kubicarakan berdua saja dengan Mauren.”
Spontan,
William terkejut mendengar hal tersebut. Ia memekikkan suara. Mengeram. Berkata, “Apa yang hendak kau bicarakan dengan Mauren? Kuperingatkan, kau jangan berani macam-macam, Brian!”