William meraih ponsel dari dalam saku celana. Menggulir beranda sosial media pada sebuah profile. Nama Mauren Alisea Manopo tertera. Tentu, William juga menunjukkan sebuah potret berisi gambaran Mauren bersama Martin dan Jessy di dalam salah satu unggahan. Lalu, ia menunjukkan dengan perlahan foto tersebut pada Mauren.
“Lihatlah, Mauren. Apa kau mengenali mereka berdua?” William bertanya pelan. Menahan rasa was-was akan rasa pusing, yang bisa jadi akan dialami kembali oleh si pasien.
Beruntung,
“Tidak,” Sahutan tersebut diiringi dengan gelengan kepala. Tentu, tanpa ada respon rasa sakit kepala seperti sebelumnya.
Syukurlah. William membatin. Kemudian, ia mulai menjelaskan dengan amat perlahan-lahan.
“Pria dewasa ini adalah Papamu; Martin Kelton Manopo. Sedangkan, wanita yang terlihat mirip sekali denganmu ini, adalah Jessy Alarice. Mereka adalah kedua orang tuamu.”
Mauren terdiam. Ia sedang berfokus memperbesar gambaran yang ada pada sebuah unggahan. Benar saja, dua orang tua itu memang terlihat mirip dengan dia.
Hanya saja,
“Aku tak mengingat mereka,” Mauren menyahut. Menyerahkan ponsel milik sang pria.
Baik William mau pun Andrew, tak terkejut akan hal tersebut. Mengingat, Martin dan Jessy memang tak pernah berada di sekitar Mauren selama bertahun-tahun. Mereka hanya sesekali datang ke Indonesia. Itu pun, hanya untuk urusan bisnis saja.
“Tapi, Will?” Mauren kembali mengeluarkan suara. Sesaat usai berpikir sejenak.
“Apakah aku sempat hilang ingatan pasca kecelakaan? Jika dipikir-pikir, keadaan ini cukup aneh. Aku mengingat kalian. Tapi, tak mengingat orang tuaku sendiri. Jangan bilang, jika selama beberapa hari; setelah aku tersadar dari koma, aku memang hilang ingatan?”
GLEK!
William menelan ludah.
Andrew menepuk jidat. Ini salah dia, mengapa tak segera memberi penjelasan pada Mauren?
“Yah, kau benar, Mauren. Sebelumnya, maafkan aku. Aku belum sempat mengatakan perihal kondisi ingatanmu. Ini semua kulakukan karena aku ingin menunggu momen yang tepat. Aku tak ingin kau terkejut dengan kondisi kesehatanmu yang masih kurang baik.”
Satu menit
Dua menit
Dan, beberapa menit kemudian.
“Ke-kehilangan sebagian ingatan?” Mauren memekikkan suara.
“Tapi, bagaimana bisa?” Ia menambahkan.
“Secara medis, aku tak dapat menjelaskan dengan detail kepadamu. Yang kuingat pasti, dokter berkata kau mengidap amnesia jenis retrograde,” William menyahut.
Dan,
“Sepertinya, kita harus menyudahi pembicaraan ini, Mauren. Aku tak ingin kau terlalu banyak pikiran. Kita akan membahas hal tersebut secara perlahan. Apa kau bisa bersabar?”
“Ten-tentu saja, Will. Kutahu, jika kau dan Andrew akan melakukan yang terbaik untukku.”
Pembicaraan selesai.
******
Kini, Mauren telah tertidur pulas.
Efek dari obat yang sempat ia minum dengan beberapa teguk air, telah membuat pasien wanita tersebut larut ke dalam alam mimpi.
Sementara itu, dua orang pria masih terjaga. Mereka berada di dalam pembahasan panjang kali lebar. Salah satunya, perihal ucapan Brian yang sempat memancing emosi William.
Dan,
“Oh ya, Drew. Selagi aku berada di rumah sakit untuk menjaga Mauren, bisakah kau sempatkan diri untuk pergi ke Perusahaan Kelton?”
“Untuk apa?”
Issh!
William berdesis. Berkata, “Bukankah, kau sendiri yang memberi saran agar selepas Mauren sembuh, ia bekerja di perusahaan Om Martin saja?”
“Ah! Soal itu. Tapi, kondisi kesehatan Mauren masih jauh dari kata pulih. Kau tahu sendiri, bukan? Jika, pasca cidera kepala yang ia derita, Mauren masih harus terus diobservasi. Lagi pula, beberapa anggota gerak tubuh Mauren, masih membutuhkan rehabilitasi.”
“Aku tahu, Drew. Aku memintamu ke Perusahaan Kelton, agar pihak HRD bersiap untuk menerima lamaran Mauren, yang akan tiba sewaktu-sewaktu.”
“Jadi, kau juga setuju dengan pemikiranku? Untuk tidak mengijinkan Mauren bekerja di Perusahaan Wijaya?” Andrew bertanya memastikan.
“Tentu saja. Sebelum kondisi Mauren benar-benar membaik, akan beresiko jika ia berada di dalam lingkup yang sama dengan Brian. Kau tahu, bukan? Bekerja di perusahaan itu, sungguh menghabiskan waktu berjam-jam? Bayangkan saja, apa yang akan terjadi? Ketika suatu waktu, Mauren mengingat ingatan pedih bersama Brian.”
“Aku paham pada maksud ucapanmu, Will. Baiklah, besok aku akan menyempatkan diri untuk mengunjungi Perusahaan Kelton,” Andrew menyanggupi.
Yah! Kedua orang pemuda itu telah bersepakat, jika mereka akan seperlahan mungkin dalam menyinggung sosok Brian di depan Mauren. Terlebih, saat Brian telah mengaku sempat menyakiti hati Mauren. Belum lagi, mengenai prank konyol yang sempat Brian lakukan. Sehingga, Andrew dan William akan meminimalisir kambuhnya gejala dari memori yang dipaksakan.
******
Keesokan hari.
Mentari menyingsing melalui kaca tembus pandang, yang tak lagi terhalang oleh korden. Seorang pasien wanita mengerjap mata.
“Will?” Mauren memanggil.
Pria bertubuh jakung itu menoleh. Menyudahi aktivitas menatap hamparan luas di luar kaca jendela.
“Seperti biasa, sebentar lagi perawat akan datang untuk menyeka, mengganti pakaian, mengganti kateter yang kau gunakan, mengecek cairan infus, memberimu makanan dan obat. Lalu—”
“Will, sudahlah. Aku memanggilmu bukan untuk mendengar ocehanmu. Lagi pula, kau itu masih saja cerewet. Bahkan, kau menghafal semua aktivitas yang dikerjakan oleh perawat bersamaku di sini. Tahu, tidak? Melihatmu mengetahui keadaanku yang buruk, sehingga membutuhkan bantuan para perawat seperti itu, membuatku merasa malu padamu.”
Mendengar curahan hati Mauren, William merekahkan senyum. Berkata, “Baiklah, aku akan berpura-pura untuk tidak tahu.”
Cih!
“Dasar kau itu,” Mauren berdecik lirih.
Dan
“Sebaiknya, pagi ini kau pulang saja ke rumah. Bergantilah pakaian. Dan, bawalah pakaian yang lebih banyak selagi kau berjaga di sini,” Mauren mengingatkan.
“Siap laksanakan, Bu Bos,” William bersikap sigap. Menggerakan tangan kanan menuju posisi hormat.
Refleks, muda mudi tersebut tergelak bersamaan.
******
Kini, William tak lagi berada di dalam ruang perawatan.
Setiap pagi hari, Mauren akan menjalani beragam rutinitas bersama para perawat. Sehingga, ia harus pergi meninggalkan ruang. Dan, itu merupakan waktu yang tepat bagi William untuk pulang.
Tapi, aku tak lagi memiliki rumah sekarang. William membatin. Menambahkan cengiran pada sudut bibir. Ia melanjutkan langkah menuju area parkir.
Benar saja, sesuai dugaan. Pada saat bersamaan, Andrew menujukan panggilan masuk ke nomor ponsel William.
Sontak,
“HIA!” Andrew memekikkan suara.
“Apa yang kau lakukan dengan barang-barangmu di depan apartemenku, hah?” Pria yang kerap berujar serampangan tersebut, menaikkan nada bicara.
Haha,
William justru terkekeh dari seberang. Berkata, “Kemarin, ah! Entahlah, pada saat kapan? Aku juga lupa. Yang pasti, Bik Sum sempat kuminta tolong untuk meminta sopir di rumah, membawakan koper-koper itu menuju apartemenmu. Sepertinya, belakangan hari kau juga tak pulang ke apartemen. Sehingga, kau baru tahu jika—”
“Jika, kau benar-benar diusir oleh seorang Maxim Haryasa?” Suara Andrew menyergah dengan intonasi yang masih meninggi.
“Benar,” Sahutan singkat itu, masih disertai tawa yang membahana dari bibir William.
“Kau benar-benar tak waras ya, Will? Bisa-bisanya, kau tak mengindahkan ultimatum Papamu.”
“Kau seperti tak mengenalku saja, Drew,” William menyahut santai. Kali itu, ia sembari menyalakan mesin kendaraan; sebuah mobil sport yang baru saja ia masuki selagi bertelepon dengan Andrew.
Haish!
Andrew mengeram kesal. Berujar, “Asal kau tahu, aku takkan menampungmu. Apa kau mengerti, hah?”
Spontan,
Tut ! Tut !
“Drew? Andrew? HEI! YA!” William berteriak lantang. Sesaat usai mendapati sambungan telepon terputus begitu saja.