Sret!
Daun pintu kembali terbuka dan tertutup. Kali itu, Andrew bergegas menoleh pada sosok William di sana.
“Will?” Andrew memanggil. Ia menggerakkan bola mata dan sudut alis sebagai isyarat suatu hal.
“Baiklah,” William menyahut. Ia segera paham pada arti dari mimik wajah sang sahabat.
Kemudian,
“Mauren, mengapa kau terbangun?” William berujar.
Kini, posisi Andrew telah digantikan oleh sosok William. Selagi, William berjalan menghampiri sisi samping ranjang, Andrew terlihat keluar dari dalam kamar.
“Mengapa wajahmu pucat seperti itu?” Pria tampan tersebut menambahkan.
“Sepertinya, aku baru saja bermimpi buruk, Will. Mimpi itu sangat menakutkan.”
“Memang, kejadian apa yang terjadi di dalam mimpimu?” William bertanya. Ia menghapus bulir keringat di dahi sang pasien wanita.
“En-entahlah. Aku seperti berada di pinggir jurang. Dan, seorang lelaki sengaja mendorongku hingga terjatuh,” Mauren berujar ketakutan. Terlihat jelas dari sorot mata yang ia tujukan.
“Itu hanya bunga tidur, Mauren. Kau tak perlu khawatir,” William menyahut. Berusaha mengalihkan perhatian Mauren dari mimpi buruk tersebut.
Dan,
“Dari pada, kau merasa cemas. Lebih baik, kita membuka ponsel baru yang kuberi padamu. Apa kau mau, huh?”
“Tentu, Will. Tentu saja. Tapi, sebelum itu berilah aku makanan. Perutku keroncongan,” Mauren meminta. Menyengir pada sang lawan bicara.
“Kau ingin makan apa? Aku akan memesan makanan itu untukmu.”
Pada akhirnya, menu jajangmyeon dan gimbap menjadi dua pilihan yang mendarat di dalam kolom pemesanan makanan.
Selagi menunggu pesanan tiba, Mauren menggulir ponsel baru yang bermodel sama persis dengan milik sang pria.
“Will, sebaiknya kusimpan namamu dengan sebutan apa?” Mauren bertanya. Sesaat usai mengetik beberapa angka, yang disebutkan oleh William.
Hm,
William berdehem. Memutar bola mata sedikit ke arah atas. Lalu berkata, “Entahlah, itu terserah padamu saja.”
Mauren mendecap bibir. Kemudian, ia mengetik sebuah nama panggilan di dalam kolom kontak. Namun, di saat William ingin mengecek panggilan tersebut, Mauren bergerak mematikan layar ponsel yang sudah ia bubuhi dengan pengunci sidik jari.
“Ah! Dasar kau curang. Kau pasti menyimpan nomorku dengan nama kontak yang aneh, bukan?” William mendumel. Beralih melempar senyum pertanda tak keberatan.
Sepersekian detik kemudian.
“Oh ya, Will. Sebaiknya, malam ini kau tidur di rumah saja,” Mauren menyarankan.
“Memang, mengapa? Apa kau bosan melihat wajahku? Lagi pula, bukankah sebaiknya aku tetap berada di sini? Kau baru saja bermimpi buruk, bukan? Jadi—”
Cthaar!
Pada saat bersamaan, suara petir terdengar.
“Lihatlah, bahkan sekarang sedang hujan lebat di luar,” William menambahkan. Seketika, ia teringat pada makanan pesan antar yang mereka inginkan pada beberapa menit lalu.
“Mauren, sepertinya makanan yang kita pesan takkan bisa datang. Baru saja, pihak pemesanan berkata jika hujan lebat menghalangi karyawan mereka untuk berangkat.”
“Baiklah, kau batalkan saja. Tapi, jangan lupa berikan tip pada si pengantar makanan,” Mauren mengingatkan.
“Tentu.”
Setelah itu,
Daun pintu kamar terbuka. Kali itu, Andrew tiba sembari membawa tiga buah ramyeon kuah. Bau makanan spontan menyerbak ke dalam indera si pasien wanita.
Ck!
“Kau tahu saja, jika kami sedang lapar. Lebih tepatnya, dia,” William berujar. Menujukan pandang pada sosok Mauren di atas ranjang.
Sembari meraih sebuah mangkuk yang Andrew sodorkan, sang sahabat pria bertanya, “Tapi, Drew? Bagaimana bisa kau mendapat ramyeon dalam bentuk mangkuk rumahan seperti ini?”
Issh!
Andrew berdesis. Ia mengibaskan tangan. Berkata, “Itu perkara mudah, Bik Murti selalu menyiapkan perlengkapan untuk membuat makanan instan.”
Tak heran, selagi menjaga Letta di rumah sakit, sang pelayan juga harus berhemat.
Mendengar jawaban itu, William memanggut-manggutkan dagu. Lalu, ia bersigap menyiapkan semangkuk ramyeon ke atas meja lipat.
“Daebak! Bik Murti keren sekali. Dia tahu betul isian untuk ramyeon ala korea. Sepertinya, dia penggemar drama juga,” Mauren memuji. Mengacungkan jempol tangan.
Cih!
“Kau ini selalu saja tak berubah, Mauren. Sudahlah, mari kita segera makan,” Andrew mengajak.
Kini, ia dan William telah berpindah pada dudukan empuk berwarna hitam. Bebauan khas dengan cabai merah menyeruak ke penjuru isi kamar. Tak lupa dengan bunyi indera yang bersibuk menyeruput ramyeon bersamaan.
******
Usai menuntaskan makan.
“Oh ya, Drew. Coba kau berikan nomor ponselmu. Aku akan menyimpan namamu di dalam kontak,” Mauren berujar. Menggerakkan ponsel baru yang ia dapatkan dari William.
“081-230-838-xxx,” Andrew mengeja beberapa digit angka.
“Baiklah, kalau begitu aku akan kembali tidur. Terima kasih untuk makanannya,” Mauren menyudahi aktivitas yang ia lakukan.
Namun,
“Tunggu, Mauren. Kau belum meminum obat malammu,” William mengingatkan. Pria tersebut beranjak dari posisi semula. Menghampiri sisi nakas yang dipenuhi oleh beragam jenis obat-obatan. William benar-benar sudah menghafal nama-nama obat beserta waktu, yang harus dipatuhi oleh si pasien demi kesembuhan.
“Oh ya, Mauren. Ngomong-ngomong, apa kau mengingat kali terakhir kau bekerja?” Andrew bertanya penasaran.
“Ah! Iya. Untung kau mengingatkan aku, Drew. Sepertinya, perusahaan di tempatku bekerja akan memecatku. Sudah hampir sebulan ini aku berada di rumah sakit, bukan?” Mauren kelabakan. Ia menggigit bibir bawah.
“Bagaimana ini, Will? Aku bahkan tak menghafal nomor rekanku di perusahaan. Maka, bagaimana caraku untuk mengabarkan kondisiku pada mereka?” Mauren bertanya cemas. Menatap William yang berjarak lebih dekat dibanding pria lain di dalam ruang.
“Kau tenang saja. Dia bertanya demikian, hanya untuk memastikan padamu. Selebihnya, Andrew sudah mengurus pekerjaanmu di perusahaan,” William menjelaskan.
Mauren menoleh pada Andrew, meminta pembenaran.
“Benar, Mauren. Yah! Meski, dalam waktu dekat kau akan berujung dengan dipecat,” Andrew menimpali dengan gurat terkikik.
Sontak, sebuah benda tumpul; gulungan tissue melayang menuju sisi wajah Andrew.
BUG!
Tissue terjatuh.
Haish,
Andrew mengeram.
“Maka dari itu, jika berbicara katakan dengan cara yang lebih halus,” William mengingatkan dengan sudut bibir mencibir sang sahabat pria.
Refleks, Andrew berkomat-kamit sebal.
Sementara itu, Mauren berkata santai, “Tak apa, Will. Lagi pula, aku baru bekerja selama tiga bulan di sana. Dan, sebelum bekerja di perusahaan itu, sebenarnya Perusahaan Wijaya sempat menawarkan sebuah posisi untukku. Jadi—”
“PERUSAHAAN WIJAYA?” Spontan, dua lelaki tersebut memekikkan suara bersamaan.
Mauren menelengkan kepala. Melanjutkan ucapan, “Yah! Jadi, kalian tak perlu khawatir. Setelah keluar dari rumah sakit dan kembali pulih, aku akan mengajukan lamaran kerja di Perusahaan Wijaya. Sudah pasti, aku akan diterima, bukan?”
“What?” Andrew berdecak.
Sedangkan, William terlihat berkacak dengan satu tangan. Berpikir dalam-dalam. Apa tak apa, jika nanti Mauren berada di dalam satu lingkup perusahaan dengan Brian?
Menyadari gelagat dua pria yang terlihat aneh. Mauren mengajukan pertanyaan, “Ada apa? Mengapa kalian terkejut seperti itu? Perusahaan Wijaya bukan perusahaan yang memiliki skandal besar, bukan? Perusahaan itu, bukan sekedar kedok untuk menyembunyikan hal illegal ya, kan?” Ia memastikan.
Hhh!
Helaan napas beserta suara tepukan jidat terdengar dari gerak gerik William dan Andrew. Mauren semakin kebingungan.
“Ah! Sudahlah. Sebaiknya, kau jangan mengandalkan lamaran kerja pada satu perusahaan saja. Lagi pula, kau bisa bekerja di perusahaan kedua orang tuamu, bukan?” Lagi-lagi, Andrew berujar sembarangan. Sungguh, ia tak pernah berpikir panjang.
William menghentak kecil sisi sebelah tungkai. Menelisik tajam pada manik mata sang sahabat.
“Yah, Will. Sorry, aku kelepasan bicara,” Andrew menggerakkan bibir; membentuk sebuah kalimat maaf.
Lalu,
Orang tua? Mauren bergumam pelan.
“Will? Drew? Bisakah, kalian memberi tahuku, siapa nama kedua orang tuaku? Karena, yang kuingat—” Si pasien menjeda kalimat.
Dan,
“Yang kuingat hanya sosok Bik Idah dan Pak Narto saja.”
Setelah beberapa hari. Tepatnya, usai Mauren tersadar dari koma, baru kali itulah sang pasien menyebut dua kata berisi penggambaran ‘orang tua’. Seolah, selama ini ia telah terbiasa hidup sebatang kara.