NIGHTMARE

1188 Kata
Beruntung, di saat William hendak melayangkan sebuah bogem karena rasa kesal pada Brian, Andrew terdengar berseru dengan lantang. Ia berhasil menghentikan hujaman yang hendak William daratkan. “HENTIKAN, Will! Apa yang hendak kau lakukan di tempat umum seperti ini?” Andrew berujar. Meski, ia belum tahu perihal pemicu kemarahan dari William. Namun, Andrew tahu betul jika hal tersebut disebabkan oleh satu orang wanita. Haish! William menyugar puncak kepala dengan kasar. Ia berkacak pinggang. Kemudian, meninggalkan dua orang sahabat pria di sana. Kini, jakun Andrew menurun. Ia merasa lega usai berhasil menghalangi adegan pemukulan tersebut. “Apa yang terjadi, Brian? Aku tahu pasti, William bukan tipe pria yang mudah terpancing emosi. Apa kau baru saja mengatakan hal yang membuat dia menjadi terprovokasi?” Andrew bertanya menyelidik. Sesaat usai menjejalkan p****t pada sebuah kursi di meja yang sama. Hening. Brian tak berniat memberi jawaban. “Baiklah, sebaiknya kita makan saja. Kutahu, kau baru pulang bekerja. Dan, piring sisa ini sudah pasti makanan yang William santap tadi,” Andrew bertindak peka. Ia beralih memanggil seorang pelayan. Memesan dua buah menu, yang sekiranya akan menjadi santapan dia dan Brian. Di sela menunggu menu makanan sajikan, dua pria tersebut saling terdiam. Mereka berfokus pada telepon genggam masing-masing. Sebelum pada akhirnya, “Bagaimana keadaan Tante Letta?” Brian bertanya. Memecah lamunan mereka. “Seperti yang kau tahu, Nyokap masih dalam keadaan kurang baik. Kanker yang ia derita terus membuat berat badannya menurun drastis.” Pada saat bersamaan, “Ini, Kak,” Seorang pelayan memindahkan dua buah menu yang Andrew pesan ke atas meja. “Terima kasih,” Salah satu dari mereka berujar. Lalu, Keadaan kembali sunyi. Baik, Brian dan Andrew memilih menyantap makanan di atas piring. Drrt drrt! Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Andrew. **William : “Drew, maafkan aku. Aku hampir lupa membayar tagihan makanan yang kupesan.” **Andrew : “Aku tahu. Sudah, kau tak perlu cemas akan hal itu.” Balasan terkirim! Kemudian, “Jika kau enggan bercerita padaku perihal perdebatan kalian tadi, aku tak masalah. Aku tahu, William lebih terbuka dari pada kau, Brian. Dan, satu hal yang harus kau tahu. Apa pun masalah kalian tadi, kuharap ini semua tak menyebabkan persahabatan kita menjadi terpecah,” Andrew berucap. Beralih meneguk segelas minuman hingga habis tak bersisa. Brian masih terdiam. “Baiklah, jika kau sudah selesai, maka mari kita pergi dari sini,” Andrew mengajak. Ia beranjak untuk membayar tagihan makanan mereka. Tring! Pintu kaca pada café berdering. Menandakan dua pengunjung yang baru beralih pergi. “Apa kau sudah mengunjungi Mauren, tadi?” Andrew bertanya sembari melajukan kursi roda milik Brian. “Belum. Aku bahkan belum menginjakkan kaki di lantai sembilan.” “Kalau begitu, mari kita ke sana bersama-sama.” ****** Di depan ruang perawatan VIP. “Apa yang terjadi, Will?” Andrew bertanya. Sesaat usai menghampiri sang sahabat yang sedang cemas di sana. Sementara itu, alih-alih segera menjawab, William justru membuang muka pada sosok Brian. Lalu, ia menggeleng pelan. Memijat pelipis yang terasa pening. “Apa ada yang terjadi pada Mauren, Will? Kulihat para dokter baru saja keluar dari dalam kamar perawatan,” Brian memberanikan diri untuk bertanya. Usai berpikir sejenak. Mencari kalimat yang paling tepat, barulah William menjawab, “Tadi, dokter spesialis saraf sempat memeriksa kondisi Mauren. Mereka baru saja memberi penanganan berupa obat-obatan untuk menurunkan dampak dari tekanan yang Mauren rasakan di kepala.” Hening sesaat. Lalu, “Dokter kembali mengingatkan aku, agar lebih berhati-hati perihal kondisi Mauren. Terutama, perihal memori yang terlalu dipaksakan. Dokter amat mewaspadai adanya faktor resiko pada pecah pembuluh darah di otak,” William melanjutkan. Brian spontan mengepalkan tangan. Hati pria tersebut terasa bercampur aduk. Kondisi kesehatan Mauren, benar-benar merupakan keadaan yang tidak bisa diremehkan. “Dan, apa kau tahu, Brian? Apa hal paling susah, yang tak bisa kujawab saat Mauren mulai bertanya perihal banyak hal kepadaku?” William kembali mengeluarkan suara. Brian menggeleng sebagai tanda tak tahu. “Yakni, pada waktu dia bertanya; mengapa rasa pusing tersebut kembali hadir saat ia mendengar namamu disebutkan secara paksa?” GLEK! Brian menelan ludah dengan susah. “Oleh karena itu, sekali lagi kudengar kau menyakiti hati Mauren. Maka, aku takkan pernah memaafkanmu,” William menekankan kalimat. Sementara itu, Brian beralih melajukan kursi roda dengan kedua tangan. Ia menggapai sisi terbuka dari sebuah pintu di sana. Memandang Mauren dari kejauhan. Tentu, masih dengan rasa penuh penyesalan. Maafkan aku, Mauren. Aku benar-benar tak pantas untukmu. Aku telah menyakiti hatimu. Padahal, selama ini kau selalu mencintaiku. Maaf, karena aku pernah berkata putus padamu. ****** Kini, kedua orang sahabat pria tersebut, tak lagi berada di dalam satu lingkup. Mereka baru saja berpisah. Jika, William masuk ke dalam kamar perawatan. Maka, Brian berpamitan untuk pulang. “Brian, apa perlu kuantar?” Andrew menawarkan. “Tak perlu, Drew. Aku akan pulang dengan menggunakan taksi saja.” “Baiklah. Kau berhati-hatilah di jalan.” Andrew tahu, Brian bukan tipe pria yang suka dipaksa. Jika, ia berkata ‘tidak’, maka takkan mengubah keputusan menjadi ‘iya’. Itulah alasan Brian benar-benar pergi meninggalkan Mauren untuk berkuliah jauh dari Indonesia. Yah! Brian memang sedikit keras kepala saat telah memutuskan suatu hal. Hhh! Helaan kasar terdengar kasar dari indera seorang pria pecicilan. Ia tak tahu harus berbuat apa. Kini, kedua orang sahabatnya sedang dalam hubungan yang kembali menegang. Lalu, Di sela Andrew hendak masuk ke dalam ruang perawatan yang sama, manik pada mata tak sengaja mendapati sosok wanita yang ia kenal. Meski, mereka belum benar-benar resmi berkenalan. “KAU? Kau sedang apa datang ke mari?” Andrew menyergah dan mencekal pergerakan Priscilla. Priscilla melebarkan bola mata. Menaikkan salah satu sudut alis. Kemudian kembali melanjutkan langkah menuju daun pintu kamar. Sontak, “Kutanya, kau sedang apa ke mari?” Cekalan tangan kedua berhasil membuat Priscilla terdiam di tempat. “Kau siapa? Berani-beraninya berbuat kasar pada orang asing, hah?” Cih! Andrew berdecik. Berkata, “Yah! Kau memang asing denganku. Tapi, setidaknya aku tahu siapa kau. Kau adalah seorang Priscilla, yang berhasil membuat persahabatan diantara kami menjadi runyam.” Mendengar hal tersebut, Priscilla segera menyadari sosok pria, yang juga sahabat Brian dan William. Ck, “Apa kau bilang? Apa aku tak salah dengar? Bukan aku. Melainkan, teman wanita kalian yang sedang berpura-pura sakit itulah penyebabnya,” Priscilla menjawab dengan gerakan bibir mencibir dan dua tangan berpangku pada depan sisi tubuh. Lalu, “Sudahlah! Kau jangan menghalangi jalanku,” Wanita tersebut bersikeras untuk masuk ke dalam kamar VIP. Sret! Daun pintu terbuka. William menoleh. Spontan, ia melebarkan bola mata. Bergerak cepat menuju ambang pintu. Beralih menghempas tubuh Priscilla menuju sisi depan ruang. “Apa yang kau lakukan di sini, hah?” William berbisik lirih dengan eraman penuh amarah. Sementara itu, Andrew memasuki kamar. Menutup daun pintu dengan rapat agar sang pasien tak dapat mendengar perdebatan yang sedang terjadi di luar. Dan, “Drew?” Mauren bersuara. Berseru menyebut nama seorang pria di dalam ruang. “Iya, Mauren? Ada apa? Apa kau merasakan sakit kepala lagi?” Andrew bertanya cemas. Ia bergegas menghampiri sisi samping ranjang. Memastikan keadaan si pasien yang terbaring dengan mata sedikit terpejam. “Entahlah,” Mauren menggeleng ragu. Andrew semakin menyipitkan mata. “Sepertinya, aku baru saja terbangun dari mimpi buruk, Drew.” Mim-mimpi buruk?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN