Dengan terpaksa, William mengarahkan Fransiska dan Lucia untuk keluar dari dalam kamar perawatan.
***
Di depan ruang.
“Tante, maafkan William. Sepertinya, Brian lupa mengingatkan Tante agar tidak terlalu memaksakan ingatan Mauren. Maka dari itu, William terpaksa membawa Tante keluar ruang,” Pemuda tersebut berujar.
Alih-alih menjawab, Fransiska justru menepuk sisi sebelah wajah William. Wanita dewasa tersebut memeluk tubuh salah satu sahabat sang putra.
Hiks,
“Seharusnya, Tante yang meminta maaf pada kalian. Tante terlampau tidak sabar. Tante ingin sekali agar Mauren segera mengingat sosok Brian.”
Di sela Fransiska berujar, William justru merasa kikuk. Entahlah, jantung William berdebar dengan kencang saat ibunda Brian mendekap sisi depan tubuh yang bidang.
Sepersekian detik kemudian,
William menepuk punggung belakang Fransiska. Berkata, “Tak apa, Tante. William dapat paham.”
Setelah itu, Fransiska melepas pelukan. Menujukan isyarat pandang pada Lucia untuk pergi meninggalkan sisi depan ruang perawatan.
Sementara itu, hati William menciut. Sungguh, itu kali pertama ia dipeluk oleh seorang wanita yang berperan sebagai ibu. Mengingat, sedari kecil William tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang wanita, yang pernah mengandung dan melahirkan ia ke dunia.
Usai menuntaskan pemikiran perihal kepahitan tersebut, William kembali masuk ke dalam kamar.
Sret!
Bola mata sang pria tertuju pada sosok Mauren yang sedang melamun di sana.
“Ada apa, Mauren?” William bertanya. Memecah lamunan.
“A-aku sedang memikirkan kejadian yang sempat terulang beberapa kali; seperti tadi, Will.”
William memanggutkan dagu. Ia beralih mendekat ke arah Mauren. Menyentuh kedua pundak wanita itu. Merebahkan sang pasien pada sisi ranjang yang telah diubah menjadi posisi baring.
“Kau tak perlu memikirkan hal itu,” William berujar. Merapikan selimut yang sedang Mauren gunakan.
“Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya? Sudah dua kali, kepalaku merasa pusing seperti tadi. Dan, waktu itu putri Tante Fransiska juga sempat mengatakan hal aneh kepadaku.”
“Apa yang kau maksud, adalah Lucia, Mauren?”
“Benar, Will. Wanita muda berparas elok tadi, sempat mengunjungiku seorang diri. Dia memperkenalkan diri dengan cara cukup aneh. Dia sempat berkata, jika aku adalah kekasih kakaknya. Setelah kuingat lagi, nama pria itu adalah Brian. Nama yang sama saat Tante Fransiska ucapkan.”
Ngiiing!
Di sela Mauren berujar panjang lebar. Lengkingan suara tajam kembali menghunus sisi telinga. Membuat kepala Mauren kembali diterpa rasa sakit teramat hebat.
“Mauren, sebaiknya saat ini kau beristirahat,” William menyarankan.
“Tapi, Will?”
Sang pemuda menggeleng cepat. Mengisyaratkan pandang, jika kali itu Mauren harus menurut demi kesehatan yang sedang ia usahakan untuk segera pulih.
“Ba-baiklah.”
Pada akhirnya, Mauren menyahut pasrah. Wanita tersebut mulai memejamkan mata.
******
Tak terasa, hari beranjak sore.
Brian telah bersiap untuk kembali pulang. Tak benar-benar menghampiri rumah. Melainkan, ia hendak menuju sebuah rumah sakit ternama.
Kemacetan lalu lintas pada sore itu, membuat Jonathan baru bisa menghentikan kendaraan di saat hari beranjak petang. Tepatnya, pada pukul setengah tujuh malam.
“Pa? Biar Brian masuk sendiri saja.”
“Apa kau yakin?” Jonathan memastikan. Sesaat usai ia membantu sang putra berpindah ke kursi roda.
“Tentu saja, Pa. Lagi pula, rumah sakit ini memfasilitasi untuk para pengguna alat bantu jalan. Papa tak perlu khawatir.”
Jonathan mengangguk. Ia beralih menatap sang putra, yang baru saja melajukan kursi roda dengan kedua lengan kekar.
******
Di depan lift.
Brian menjadi pemandangan elok diantara beberapa pengunjung. Baik, pasien atau pun pengantar yang juga sedang mengantri lift di sana.
Ting!
Ruang besi tersebut berdenting.
Brian melajukan kursi roda menuju sisi dalam lift. Sembari menunggu lift yang ia tujukan sampai pada sebuah lantai, ia menggulir layar ponsel yang menyala.
Kebetulan sebuah pesan masuk ke dalam telepon genggam.
**William : “Brian, apa kau sedang berada di perjalanan menuju rumah sakit?”
Pesan itu segera dibalas oleh Brian.
**Brian : “Benar, saat ini aku sedang berada di dalam lift.”
**William : “Sebaiknya, kau temui aku dulu di café yang ada di lantai dua.”
Lantai dua? Brian melihat ke arah sisi tombol ruang besi. Ia baru saja melewatkan lantai tersebut.
**Brian : Lift yang kugunakan baru saja melintas lantai dua, sekarang sedang melanjutkan pergerakan menuju lantai sembilan.”
Sontak,
**William : “TIDAK, Brian! Kau tak boleh menjumpai Mauren dahulu. Tadi siang, Mamamu sempat membuat dia merasakan pusing yang teramat. Saat ini, Mauren sedang beristirahat.”
Melihat pesan balasan dari sang sahabat, Brian spontan menekan tombol untuk menutup kembali daun pintu lift. Sesaat usai lift tersebut terbuka pada lantai yang ia tuju.
Kini, arah panah pada petunjuk ruang besi kembali mengarah ke bawah.
**Brian : “Baiklah, aku akan menjumpaimu di lantai dua.”
******
Setiba di sebuah café. Tepatnya, pada lantai dua lingkup bangunan rumah sakit.
William melambaikan tangan secara singkat pada sosok Brian. Pria dengan setelan rapi tersebut, bergegas menghampiri posisi salah seorang sahabat.
“Apa yang dikatakan oleh Mamaku? Hingga, Mauren kembali merasakan rasa pusing itu?” Brian bertanya. Bahkan, sebelum ia membenarkan posisi kursi roda pada sebuah meja.
“Kau ini tidak sabar sekali. Sebaiknya, kau pesan makanan dan minuman dahulu. Kau pasti juga belum makan malam, bukan?” William menjawab. Menujukan panggilan pada seorang pelayan di café.
“Aku tak butuh makan, Will. Aku hanya butuh penjelasanmu. Jadi, cepat katakan sekarang!”
Sontak, bola mata William melebar. Salah satu sudut alis membuat pelayan tersebut memundurkan langkah; meninggalkan mereka berdua.
“Mamamu sempat memaksakan ingatan perihal sosokmu. Tante Fransiska menyebut namamu dengan penekanan kata; sama halnya yang kulakukan saat kali pertama. Aku tahu, Mauren kehilangan sebagian memori masa lalu. Tapi, kurasa ada yang salah dengan momori itu.”
“Apa maksudmu, Will?” Brian bertanya menyelidik. Seraya, ia merasa jika William mencurigai suatu hal buruk yang pernah dilakukan Brian pada Mauren di masa lampau.
“Kau tak pernah menyakiti hati Mauren, bukan? Jika tidak, maka kita harus mencari alasan atas rasa sakit yang Mauren derita saat mendengar namamu disebut secara paksa. Namun, jika iya. Itu pertanda, jikalau alam bawah sadar Mauren memang merasakan sakit hati karena ulahmu.”
Cih!
Brian berdecik. Berkata, “Apa kau sedang menuduhku yang tidak-tidak, Will?”
“Aku tak menuduh. Aku hanya memastikan. Ini semua kulakukan demi kebaikan Mauren; demi kesehatan dia.”
Alih-alih menjawab, Brian mengepalkan tangan. Ia berusaha mengingat kenangan yang pernah ia miliki bersama sang pujaan.
Lalu,
“Sebenarnya—” Brian menjeda ucapan.
William melebarkan bola mata sembari memasang telinga lebar-lebar.
“Sebenarnya, aku sempat meminta putus pada Mauren.”
“APA?” William memekikkan suara. Pria tersebut beranjak dari posisi semula. Mengarahkan buku jari tangan kanan untuk mencengkram kerah kemeja sang lawan bicara.
Dan,
Brak!
William melepas cengkraman. Beralih melampiaskan kesal dengan memukul sisi atas meja. Dataran tersebut bergetar hebat. Membuat piring dan gelas sisa makan William, merasakan guncangan.
“KAU? KAU? Berani-beraninya, kau meminta putus pada Mauren lebih dulu, hah? Apa kau lupa, jika Mauren itu sangat mencintaimu?”