Masih ditemani udara dingin yang ada di taman, Pikiran Ferdhy dan Bintang sama-sama berkecamuk. Keduanya, terlibat aksi diam dan sama-sama enggan untuk memulai percakapan kembali. Ferdhy yang sudah tidak tahan dengan kebungkaman ini, ia pun membuang gengsinya jauh-jauh. “Bintang,” panggilnya untuk mengusir keheningan. Yang dipanggil menoleh, “Ya?” jawab Bintang sekenannya. Bintang masih terlihat kaku. Meski dalam hati, Ferdhy menginginkan Bintang kembali bersikap hangat seperti dulu. Dengan tekad yang bulat, Ferdhy memberanikan diri untuk menggenggam jemari Bintang. Awalnya, Bintang sempat menarik tangannya. Tapi karena tenaga Ferdhy yang lebih kuat darinya, mau tidak mau, Bintang membiarkan jemarinya bertaut dengan jemari kekar milik Ferdhy. “Bintang, kembalilah menatapku seperti

