Enam hari berlalu, Elena uring-uringan tak jelas. Dia harus meninggikan rasa gengsinya untuk menemui Efron lebih dulu. Dia tak ingin mendapatkan omongan tak enak darinya. Elena merasa sangat bosan, dia membolak-balikkan tubuhnya di ranjang. "Arghhhhh," Elena menjerit di balik bantalnya. "EFRON," teriaknya lagi. Elena pun bangkit, dia pun mengacak rambutnya frustasi. "Laki-laki tua yang sudah membuat otakku berantakan, kenapa aku terus memikirkanmu!" gumam Elena dengan lesu. Elena pun beranjak, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar sang mama. Tok tok tok Elena mengetuk pintu kamar sang mama, tak lama kemudian sang mama dan papa pun keluar barengan dengan kondisi rambut yang acak-acakan. Elena menatap mereka dengan wajah datar. "Astaga, sayang… ada apa denganmu, hm?" tanya lembut

