Bab8

1061 Kata
Eros terpekik saat melihat tangan putrinya terluka dan memerah di bagian pergelangan tangannya. "Elena, siapa yang melakukan ini padamu? Katakan, papi akan membunuhnya!!!" Elena mendengus sebal, "Papi, Elena tidak apa-apa. Tadi Elena nyelonong masuk kedalam rumah kak Efron, dan penjaga disana mengira Elena pencuri. Tapi, tidak apa-apa. Kak Efron sudah membuatnya jera.." Eros menghela napas lega. "Baguslah kalau begitu.. terimakasih nak, Efron." "Sama-sama, paman… maaf paman, sepertinya saya harus segera pulang." Ucap Efron dengan menyingkirkan lengan Elena dilengannya. Elena memajukan bibirnya, "Elena, ini sangat tidak sopan. Biarkan Efron pulang," ucap Elina memberi peringatan pada Elena yang terus bergelayut manja di lengan Efron. "Mami, Elena menyukai wangi tubuh kak Efron, dia sama seperti papi. Elena tidak pernah memeluk papi, karena papi lebih sering memeluk mami." Ucap Elena polos, wajah Elena memerah. Dia tak menyangka jika Elena akan mengatakan hal ini di hadapan tamunya. Efron pun terlihat salah tingkah, bagaimana mungkin dia di hadapkan dengan pemandangan seperti ini. "Elena, bolehkan aku pulang?" "Tapi, bolehkan Elena main ke tempatmu?" Efron terdiam sejenak, lalu mengiyakan pertanyaan Elena. Elena tersenyum lebar. "Baiklah, Elena akan datang besok. Kak Efron boleh pulang.." Efron pun mengangguk, dan berpamitan ke kedua orang tua Elena. Tapi, sebelum itu Eros meminta alamat lengkap milik Efron, agar dia bisa cepat datang jika terjadi sesuatu terhadap putrinya. Eros percaya jika Efron adalah orang baik, karena terbukti dari caranya menanggapi Elena, terlihat penuh dengan kesabaran. *** Efron tak kembali ke mansionnya, melainkan pulang ke rumah kedua orangtuanya. Tampak dua orang berperan penting sedang duduk di ruang keluarga. Melihat keluarga Elena membuatnya rindu dengan suasana dalam rumahnya. Efron tersenyum melihat keharmonisan kedua orang tuanya. Efron sangat tahu, jika sang ayah sangat mencintai istrinya -- ibu Efron. "Efron.." panggil sang ibu dengan lembut. Efron pun tersenyum dan berjalan menghormati mereka berdua. "Kau datang lagi, nak?" Tanya sang ayah membuat Efron mengangguk. "Aku sangat merindukan suasana rumah ini," jawab Efron membuat kedua orang tuanya tersenyum "Aku akan mandi lebih dulu, dan yah aku benar-benar lelah seharian ini." Ucap Efron, "Apa perlu mom siapkan air hangat?" "Tidak perlu, mom.. Efron akan mandi air dingin saja." "Tidak, mom akan menyuruh maid untuk menyiapkan air hangat untuk mu. Kau tunggulah sebentar." Ucap ibunya seraya berdiri meninggalkan mereka. "Baiklah, jika mom memaksa.", Jawab Efron pasrah. Pandangan Efron tertuju pada sang ayah. "Efron, besok pagi kita harus berbicara mengenai hal yang kemarin kita bahas." Efron pun mengangguk pasrah. Dia benar-benar tidak tahu, entah dendam apa yang membuat ayahnya ingin segera membalas perbuatan musuhnya. "Aku akan ke kamar dulu, dad.. aku akan istirahat lebih awal. Malam, dad.." "Malam, son.." Efron pun berjalan menaiki tangga, hingga sampai di depan pintu berwarna coklat. Dia pun melepas semua kain yang menempel di tubuhnya, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dia merendamkan tubuhnya di dalam bak mandi berisi air hangat. Dia memejamkan matanya, merasakan nyaman di tubuhnya. Seharian ini waktunya benar-benar terkuras oleh gadis itu. Efron membuka kembali matanya, menatap lurus ke arah depan. Sekilas bayangan wajah Elena terlintas di benaknya. "Elena…" gumam Efron. Keesokan harinya, Efron dan Richard--- sang ayah, sudah duduk di ruang kerja dengan di temani teh manis juga kue buatan wanita tercinta mereka. "Efron, dengarkan dad baik-baik." Efron mengangguk pasrah, "Musuh dad memiliki anak tunggal, dan dad ingin kau membawa anaknya kemari." "Lalu, setelah itu?" "Setelah itu, dad akan menyiksanya. Bahkan, membunuhnya setelah puas." Efron mengangguk lagi, "Memangnya masalah apa yang terjadi antara dad dan orang itu?" "Kau tahu, dahulu adik dad meninggal karena laki-laki itu. Dan membuat grandma jadi penghuni rumah sakit jiwa hingga sekarang." Ucap Richard dengan mengepalkan tangannya kuat. Mengingat kejadian itu, rahangnya mengeras. "Dad, bersumpah akan membuat mereka menderita. Dengan membawa anak mereka, dad ingin melihat mereka hancur. Hanya kau harapan dad, Efron. Kau yang bisa membantu Daddy," "Ya, Efron akan membantumu, dad." Tangan Efron pun terkepal kuat, dia sangat tahu penderitaan sang ayah. Dimana seorang ibu yang hidupnya tersisa di dalam rumah sakit jiwa. "Nanti dad akan menghubungimu lagi, maka saat itu tiba, kau harus bersiap Efron." Efron pun mengangguk yakin, "Kalau begitu, aku pergi dulu. Ada sesuatu yang harus ku urus." Efron pun berdiri dan meninggalkan rumah kedua orangtuanya. Di sisi lain, Elena sangat bersemangat pagi ini, dia membantu sang ibu memasak. Dia akan membawa makanan untuk Efron, Elina pun tersenyum melihat putrinya terlihat sangat bersemangat pagi ini. "Sayang, sebaiknya kau mandi saja. Untuk ini, biar mami yanh menyiapkan." "Apa itu tidak apa-apa, mam?" "Tidak, sayang. Sekalian mami menyiapkan bekal untuk makan siang papi mu di kantor." "Baiklah, Elena mandi dulu, mam.." Elena bergegas masuk ke dalam kamar, dia pun berniat untuk memanjakan diri di dalam bak mandi. Hingga setengah jam lamanya, Elena sudah bersiap dan tampil cantik dengan menggunakan setelan blouse tanpa lengan dan celana bahan berwarna pink. Tak lupa tas selempang dengan warna senada, hanya saja sneaker yang berbeda warna. "Mami, sudah siap?" "Kamu sarapan dulu, sayang." "Ehm, tidak. Elena akan makan dengan kak Efron saja." "Baiklah, kau akan di antar uncle Don?" "Iya, mi. Elena pergi dulu, bye mami.." Elena mengecup lembut pipi ibunya lalu pergi dengan di antar uncle Don ke rumah Efron. Empat puluh lima menit berlalu karena ada sedikit macet, Elena kini sudah sampai di rumah Efron. Elena meminta uncle Don untuk pulang lebih dulu, dan Elena akan menghubunginya jika dia akan pulang. Elena memencet bel rumah Efron, dan dibuka oleh maid. "Nona Elena.." sapa maid dengan senyum ramah. "Kak Efronnya ada?" "Tuan Efron, baru saja pulang." Elena mengangguk dan dia berjalan masuk. Dia duduk di ruang tamu dengan menunggu Efron. Lalu terdengar derap langkah berjalan di belakang Elena, Elena menolehkan kepalanya dan tersenyum lebar. "Selamat pagi menjelang siang, pangeran.." Efron memutar bola mata jengah. "Kak Efron, sudah sarapan? Elena membawa banyak makanan.." "Tidak, terimakasih. Aku sudah kenyang." Jawab Efron ketus, tanpa dia sadari, raut wajah Elena berubah, senyumnya menciut. "Baiklah, kak Efron bisa makannya nanti siang." Ucap Elena dengan senyum lebar kembali. "Aku akan ke ruang kerja, dan tolong jangan buat keributan." Elena pun mengangguk, dia menatap punggung Efron yang semakin tak terlihat. Wajah Elena berubah murung, "Padahal Elena mau makan dengannya, Elena melewatkan sarapan dirumah demi dia, tapi ya sudahlah." Elena kembali tersenyum manis. Tanpa dia sadari, ada seseorang yang mendengar gumamannya. Neo, dia menatap lekat punggung Elena yang berjalan menuju dapur. Neo menggelengkan kepalanya. "Bukankah kejam seorang Efron membiarkan seorang gadis cantik terabaikan.." gumam Neo, lalu berjalan menuju ruang kerja Efron. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN