Sebulan berlalu, Tony benar-benar merasa kacau. Ia merasa kehilangan sosok Renatta yang selalu mengejarnya. Bak hilang di telan bumi, Renatta sama sekali taka da kabar. Ia benar benar memutus segala akses yang terhubung dengannya. “Astaga, mengapa aku tak bisa berhenti memikirkanmu, Rena?” gumam Tony lirih. Bahkan, untuk bekerja pun, Tony merasa tak fokus. Ia merasa benar-benar terganggu dengan pikirannya yang hanya tertuju pada Rena. Tony mengacak rambutnya frustasi, ini adalah jalan yang ia mau, tapi mengapa ia yang harus merasa gagal melupakannya. “Sial, aku benar-benar kacau,” Lalu, pintu ruang kerjanya pun terbuka. Saat ia ingin mengumpat dan marah pada siapapun yang baru saja masuk, ia pun segera mengurungkan niatnya. Karena ternyata, yang datang adalah mommy-nya. “Mom,” “Hai

