Hidup Bersama

1052 Kata
Setelah acara yang melelahkan semalam, Fatimah pamit pulang. Perasaannya begitu berat untuk meninggalkan putrinya, karena status putrinya hanya pengantin pengganti. Fatimah takut jika perlakuan Tristan menyakiti putrinya, dia ingin mengajak putrinya turut pulang bersamanya, setidaknya sampai Tristan mau menerima Byanca. Fatimah akhirnya menemui Tristan menyampaikan keinginannya. Tristan dan Byanca berada di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya. "Bu Fatimah, sini, Bu." Sarah yang melihat Fatimah berjalan ke depan memanggilnya untuk bergabung. Fatimah menuju ruangan dimana keluarga Tristan berkumpul, memang tadi Fatimah sedang mengemasi pakaiannya setelah mereka sarapan bersama. Fatimah duduk di samping putrinya, keluarga Tristan begitu hangat menyambutnya. Mungkin ini saat yang tepat meminta Byanca dan Tristan tinggal bersamanya. "Terima kasih banyak ya, Bu Fatimah. Ibu banyak membantu keluarga kami, mungkin kalau bukan karena Ibu dan Byanca keluarga kami akan menanggung malu," ucap Sarah setelah Fatimah duduk bersama mereka. "Bukan karena kami, Bu Sarah. Ini memang sudah takdir." Fatimah merasa tak enak. "Begini, Bu. Sebelumnya saya minta maaf, saya ingin Byanca dan Tristan tinggal di rumah saya dulu. Nanti setelah mereka bisa saling menerima, saya bisa tenang melepas Byanca, Pak, Bu." Fatimah mengungkapkan permintaannya. Mendengar permintaan Fatimah, Anggara dan Sarah menyadari bahwa pernikahan mereka memang bukan karena cinta, sangat wajar jika Fatimah mengkhawatirkan putrinya. "Tidak apa-apa, Bu kalau itu untuk kebaikan Tristan dan Byanca. Tristan, kamu tidak keberatan 'kan tinggal di rumah Bu Fatimah?" tanya Anggara pada putranya. Tristan yang memang sudah biasa di rumah Byanca, setuju saja saat Fatimah memintanya untuk tinggal di rumah mereka. "Tristan tidak keberatan, Bu," jawab Tristan dan Fatimah lega mendengarnya. Setelah berbincang-bincang, mereka pamit untuk pulang. Tristan mengemasi barang-barangnya yang akan dibawa ke rumah Byanca. Dalam perjalanan, mereka tak banyak bicara padahal Tristan sudah biasa dengan Fatimah, tapi saat ini menjadi canggung. Ada perasaan tidak nyaman setelah pernikahan. Setelah dalam perjalanan yang penuh kecanggungan akhirnya mereka sampai di kediaman Fatimah. Terlihat Bima sedang memandikan burung, dia memang pecinta burung tak heran jika di depan rumah Fatimah banyak sangkar burung. Melihat kedatangan ibunya beserta Byanca dan Tristan, Bima langsung menghentikan kegiatannya. "Kalau mereka berdua tinggal di rumah ini memang lebih baik karena aku bisa mengawasi Tristan," pikir Bima. Rasa sayang yang begitu besar kepada adiknya membuat Bima sangat ingin melindungi adiknya karena sejak Byanca kecil Bapaknya sudah meninggal. Mereka bertiga turun dari mobil, Bima membantu Ibunya membawa tas, Tristan menyapa canggung pada Bima. Byanca segera masuk ke rumah, membersihkan kamarnya sebelum Tristan masuk ke kamarnya. Bima memanggil Tristan dan untuk sekali lagi memberi peringatan pada Tristan. "Tan, jangan pernah buat adikku menangis, jangan main-main dengan pernikahan kalian," ancam Bima sekali lagi. "Insya Allah, Mas. Saya akan berusaha membahagiakan Byan," ucap Tristan gamang. Tristan memang tidak yakin akan bisa membuat Byanca bahagia karena dia juga sudah berjanji pada Pramudya. Janjinya pada Pramudya membuatnya akan sulit melaksanakan janjinya pada kakak Byanca. Namun, jika dia berterus terang pada kakak Byanca bukan tidak mungkin dia akan dihajar habis-habisan oleh kedua kakak Byanca yang tubuhnya lebih besar darinya. Tristan hanya menjalani saja kehidupannya sambil berpikir bagaimana cara agar saat dia bisa menceraikan Byanca tanpa menyakiti hati keluarga Byanca. Setelah perbincangan yang penuh ancaman itu, Tristan masuk ke dalam rumah. Fatimah menyapa menantunya ramah lalu mengantarnya ke kamar Byanca. Hatinya tiba-tiba berdebar saat pintu kamar Byanca dibuka oleh Fatimah. "Masuklah, Byanca ada di dalam, ibu tinggal dulu ya," ucap Fatimah sambil membukakan pintu kamar Byanca. Tristan masuk ke dalam, melihat kamar wanita yang pernah menjadi sahabatnya itu. Byanca sedang memasukkan barang-barang ke dalam kardus, saat melihat Tristan ke kamarnya Byanca kaget. "Tristan, jangan masuk dulu!" teriak Byanca. Tristan mengernyit, "Kenapa?" tanyanya. "Jangan masuk dulu!" Byanca mendorong tubuh Tristan untuk keluar dari kamarnya lagi. Sekilas Tristan melihat beberapa fotonya yang dimasukkan ke dalam kardus. Kenapa banyak sekali fotoku, pikirnya. Byanca segera memasukkan foto-foto Tristan ke dalam kardus. Bukan hanya foto, Byanca juga memasukkan surat cintanya pada Tristan yang tidak pernah dia berikannya. "Kalau sampai Tristan tahu aku tidak bisa menampakkan wajahku di depannya," pikir Byanca. Tristan masih di depan pintu kamar Byanca, berpikir apa yang di sembunyikan Byanca sampai dia mengusirku. Bima yang sedang melewati kamar adiknya heran melihat Tristan mematung di depan kamar adiknya. "Kenapa?" tanya Bima yang sontak membuat Tristan terperanjat. Tristan takut jika Bima salah paham, mengingat ancaman yang Bima ucapkan Tristan langsung membela diri. "Byanca menyuruhku keluar dulu, Mas," ucap Tristan gugup. Bima tersenyum, dia tahu apa yang dilakukan adiknya. "Pasti Byan menyembunyikan foto Tristan, pasti dia malu kalau Tristan melihat foto-fotonya disimpan," pikirn Bima. "Byanca sedang menyembunyikan sesuatu," ucap Bima sambil menepuk pundak Tristan kemudian berlalu meninggalkan Tristan yang masih berdiri di depan kamar Byanca. Pikiran Tristan menerawang, memikirkan kemungkinan apa yang sedang disembunyikan Byanca. "Apa mungkin Byan punya pacar dan dia sedang menyembunyikan kenangan bersama pacarnya, tapi selama ini Byan tidak terlihat dekat dengan siapapun dan kenapa ada foto-fotoku juga di sana," pikir Tristan. Setelah sekian menit menunggu di depan pintu akhirnya Byanca membuka pintu kamar dan mempersilahkan Tristan masuk. Tristan memindai seluruh ruangan, beberapa lukisan abstrak sebagai hiasan dinding. Tristan paham karakter sahabatnya seperti apa, Byanca yang cenderung serius dan mandiri sangat terlihat dari apa yang dia sukai. Byanca mengambil koper di tangan Tristan lalu menata pakaian Tristan ke dalam lemari. Bukan seperti wanita pada umumnya, bahkan koleksi baju Byanca sangat sedikit. Dia memang tidak terlalu peduli dengan penampilan, itu sebabnya kecantikannya tidak begitu terlihat. Sangat jauh berbeda dengan Adelia yang selalu memperhatikan penampilannya, bahkan sebagian besar gaji Tristan hanya dibelikan baju dan tas oleh Adelia. Kesan pertama melihat kamar Byanca terlalu sederhana untuk ukuran wanita sukses dengan gaji besar. Byanca memang tidak suka kemewahan, dia lebih suka membeli aset tanah dari pada harus menghamburkan uang tidak jelas. Bahkan Byanca sudah mempunyai rumah sendiri dari hasil kerjanya. Ibu dan kedua kakaknya tidak pernah mau memakai uang Byanca, mereka juga punya pekerjaan sendiri. Ibunya sudah tercukupi oleh kedua kakaknya, namun Byanca selalu memberikan uang pada ibunya meski akhirnya uang itu hanya ditabung jika suatu saat nanti Byanca membutuhkan. *** Malam pertama bersama Byanca membuat Tristan canggung, dia tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan. Byanca terlihat mengenakan piyama, menggerai rambut panjangnya yang biasa dia ikat, melepas kacamatanya. Terlihat begitu mempesona. Tristan tidak pernah tahu kalau Byanca itu ternyata cantik, semakin dilihat semakin cantik. Tak bisa dipungkiri, satu kamar dengan seorang wanita membuat jiwa laki-lakinya meronta. Namun karena janjinya pada Pramudya, akhirnya Tristan tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN