"Kamu tidak pernah cerita soal ini pada saya, Ghina." Kekecewaan. Rasa putus asa. Semuanya bercampur menjadi satu. Zalman bahkan tidak tahu yang mana yang bisa ia tunjukkan lebih dulu. Pria itu sangat kacau. Dadanya sesak, tidak bisa ia jabarkan sekuat apa hantaman yang dirasakan olehnya. "Saya memberimu satu kesempatan," Zalman berujar usai hening yang mencekam. "Sekarang katakan, apa saja yang telah kamu sembunyikan dari sana. Katakan tanpa berpikir untuk menutupinya lagi," pinta pria itu, begitu iba. Mata Zalman memandang wanita itu sekali lagi. Tatapan yang dulu penuh rasa kasih, berubah pilu. Tidak perlu bertanya sesakit apa luka yang saat ini Zalman terima. Ghina jelas telah menghancurkan dunianya. "Ceritakan apa yang sebelumnya tidak bisa kamu ceritakan pada saya." "Mulai d

