"Saya berharap bisa menghilang dari hadapanmu, Ghina. Untuk pada akhirnya membuatmu sadar, sesakit apa luka yang kamu berikan pada saya." Zalman menyelesaikan apa yang ingin utarakan meski terbata-bata, tercekat, hampir tumbang. Patah hati terbesarnya setelah hari dimana ia kehilangan Winna kembali terulang. "Padahal, saya kira saya tidak akan pernah mengalami luka semacam ini setelah kamu hadir. Saya begitu percaya diri dan menggantungkan banyak hal, padamu." Sampai ia lupa, bahwa hanya kepada Sang Illahilah tempat sebaik-baiknya menggantungkan harap dan berpasrah diri. Hati manusia akan tenang saat ia tidak berharap apapun, pada siapapun. Karena Tuhan, satu-satunya pemegang kendali. Orang yang sedetik lalu begitu mencintaimu, bisa berubah hanya dengan satu pengkhianatan saja. "Apa

