23

1166 Kata

“Menunggu itu menyedihkan.” Di dalam kafe, Mia, Nayla, dan Miranda memulai acara “tumpahkan segala kepenatan di kantor”. Kafe dengan nuansa cokelat dan putih, lalu sajian menu yang menggoyang lidah namun tak membuat kantong menangis pilu, pilihan lagu beraliran blues, meja dan kursi yang ditata apik, ditambah lukisan yang ada di dinding. Untuk beberapa alasan, tempat ini menjadi pilihan Mia dan kawan-kawan; sebenarnya Mia dan Nayla yang mengusulkan kafe bernama The Palace tersebut karena harganya yang miring. Miranda? Bisa-bisa Mia dan Nayla meratap hanya karena membaca harga tiap makanan yang ada di kafe pilihan Miranda. Big no! Tentu, keluhan pertama keluar dari mulut Nayla. Ia merupakan wanita yang paling sadar diri perihal harga.  “Nay,” panggil Miranda. “Sekali-kali, kamu coba bera

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN