bc

Asmara Terlarang Tuan Mafia dan Polwan

book_age18+
246
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
friends to lovers
badboy
gangster
drama
tragedy
bxg
brilliant
city
office/work place
cheating
enimies to lovers
like
intro-logo
Uraian

Xhavier Hassan, seorang pembunuh bayaran berdarah dingin yang hanya menargetkan orang-orang jahat — koruptor, pejabat busuk, dan mafia berdasi. Ia memimpin organisasi rahasia beranggotakan tujuh orang, dengan satu aturan mutlak: “Jangan pernah jatuh cinta.”

Namun hidupnya berubah ketika ia berhadapan dengan Nana Lohunea, seorang detektif muda idealis yang sedang menyelidiki serangkaian kasus pembunuhan misterius — kasus yang ternyata mengarah langsung pada dirinya.

Untuk mengawasi penyelidikan Nana, Xhavier menyamar menjadi magang di kantor polisi. Awalnya hanya untuk memata-matai, namun perdebatan kecil dan ejekan konyol di antara mereka perlahan meluruhkan dinding dingin di hati Xhavier.

Di saat cinta mulai tumbuh, pengkhianatan dan darah menodai semuanya.

Cinta yang seharusnya menyelamatkan — justru menjadi kutukan yang menghancurkan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Pertemuan.
Hujan baru saja berhenti sore itu. Butiran air masih menetes dari atap toko-toko tua di sudut kota. Jalanan blok B terlihat berkilau, basah, dan penuh pantulan lampu oranye dari kendaraan yang melintas. Bau tanah bercampur aroma kopi dari caffe kecil di tikungan membuat udara terasa lembab tapi menenangkan. Di antara keramaian, Nana Lohunea berjalan cepat sambil menenteng map berisi berkas kasus. Rambut hitam panjangnya yang sedikit bergelombang menempel di pipi, seragam polisinya basah di bahu. Ia baru saja keluar dari rapat panjang bersama tim investigasinya, rapat yang membuat kepalanya berdenyut. “Empat korban dalam sebulan, semuanya pejabat tinggi, semuanya mati dengan cara bersih,” gumamnya kesal sambil menendang kerikil kecil di trotoar. “Dan yang paling menyebalkan, orang-orang malah menyebut para pembunuh itu ‘pahlawan keadilan’. Pahlawan? Hah… pembunuh tetap pembunuh. meskipun orang yang dibunuhnya adalah koruptor dan para mafia berdasi." Gumam Nana kesal akan kasus akhir-akhir ini ia tangani. Nana mendesah panjang. Tadi pagi, salah satu koran nasional menulis judul besar di halaman utama "The Shadow angel Pembunuh bagi Para Koruptor?” Tulisan itu membuat darahnya mendidih. Baginya, hukum harus ditegakkan lewat pengadilan, bukan lewat pembantai seperti ini. Tapi tak semua orang berpikir sama dengannya. Beberapa rekannya bahkan diam-diam setuju dengan “cara kerja” si pembunuh misterius itu yang sekarang sering di sebut sebagai the shadow angel itu. Nana mengetatkan genggamannya pada map cokelat yang sudah agak lembek karena basah. Ia menyeberangi jalan tanpa memerhatikan arah. Pada saat yang sama, di seberang jalan, Xhavier Hassan berdiri diam di bawah payung hitam, mengenakan jaket kulit yang sudah sedikit pudar warnanya. Tatapan matanya tajam tapi tenang, mengamati setiap pergerakan orang yang lewat. Di tangan kirinya, ia memegang ponsel dengan layar menampilkan foto—foto wajah Nana dari file polisi yang diretas timnya dua malam lalu. “Detektif muda yang terlalu berani,” gumamnya pelan. “Menarik… tapi berbahaya.” Suara dari earpiece kecil di telinganya terdengar “Bos, target sedang bergerak ke arah barat, menuju Jalan Montain City. Apa kita lanjutkan pemantauan?” Xhavier menjawab santai, “Tidak. Aku akan tangani sendiri. Matikan semua kontak visual malam ini.” titah Xhavier. “Baik, Bos.” Klik. Sambunganpun terputus. Xhavier menutup payungnya perlahan, memasukkannya ke dalam tas kulit yang tergantung di bahu. Langkahnya mulai menyeberang jalan dengan ritme tenang sampai semuanya terjadi dalam sepersekian detik. Nana berlari karena lampu pejalan kaki hampir berubah merah, dan Xhavier yang berpura-pura merunduk memperhatikan ponsel tidak memperhatikan arah, tiba-tiba tubuh mereka bertabrakan keras di tengah jalan basah. Map di tangan Nana terlempar, kertas-kertas beterbangan seperti hujan putih di udara, bertebaran di genangan air. “Arrgggh!” seru Nana kesal. Xhavier spontan mundur setapak, refleks menahan tubuhnya agar tidak jatuh. “Heee!... Lihat-lihat kalau jalan!” bentak Nana. Tatapan matanya langsung menatap tajam ke pria di depannya. Lelaki itu tampan, tapi auranya aneh—dingin, misterius, seolah menyembunyikan banyak hal. Xhavier mengangkat alis. “Harusnya kau yang hati-hati. Kau yang lari duluan.” “Lari karena lampu hampir merah, bukan untuk nabrak orang seenaknya!” balas Nana sengit sambil berjongkok memunguti berkasnya yang kini lembab. Ia tidak sadar bahwa di antara kertas yang tercecer, ada satu foto korban pembunuhan dengan tanda silang merah besar di dadanya. Xhavier ikut jongkok, mengambil satu lembar foto itu. Ia menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Tatapannya tajam, tapi ekspresinya tenang—nyaris seperti seorang pelukis yang sedang menilai hasil karyanya sendiri. “Hmm…” gumamnya pelan. “Luka tusuk di d**a kiri, pisau militer ukuran sedang, jarak dekat. Pekerjaan yang bersih.” Nana menegakkan tubuh, matanya membulat. “Kau... kau tahu dari mana? dari mana kau tahu bahwa luka korban dari pisau militer ukuran sedang?" “Insting,” jawab Xhavier santai. “Aku… suka membaca berita kriminal.” “Berita kriminal? Lucu juga, orang jalanan seperti mu bisa tahu istilah teknis pembunuhan seperti ini, seperti orang yang sudah berpengalaman saja.” Ia merampas foto itu dari tangan Xhavier. “Dan untuk diketahui, ini bukti investigasi. Kau baru saja menyentuh barang bukti milik kepolisian.” Xhavier menyeringai kecil. “Kepolisian? Jadi kau polisi?” Xhavier berpura-pura tidak tahu padahal saat ini ia sedang memantau Nana, penyelidik yang sedang menyelidiki kasus pembunuh yang dilakukan kelompoknya. “Masalah untukmu jika aku seorang polisi?” sahut Nana seakan menantang saat melihat Xhavier seolah menatapnya penuh ejekkan. “Tidak juga,” jawab Xhavier sambil berdiri, merapikan jaketnya yang sedikit kotor. “Aku hanya berpikir, gadis secantik dirimu.. sayang sekali kalau harus kerja di dunia yang harusnya memberi keadilan tapi justru oknum aparat penegak hukum yang memperjual belikan keadilan itu." ejek Xhavier. Nana marah karena Xhavier mengejek profesinya "Apa maksudmu?!" Pekik Nana namun Xhavier hanya mengangkat bahu untuk merespon. “Dan aku berpikir, pria setampan dirimu… sayang sekali kalau ternyata otaknya kosong,” balas Nana tanpa pikir panjang. Xhavier tertawa pelan, suaranya dalam dan bergetar ringan. “Kau berani juga.” Gumamnya "Tapi, terimakasih karena telah memujiku tampan." balas Xhavier membuat Nana menyerengit tak suka. Menyadari ekspresi tak suka Nana, Xhavier lalu berusaha menetralkan keadaan "Oh jangan tersinggung akan ucapanku, Aku hanya memperingatimu lebih baik kau mundur dari pekerjaanmu dan mencari pekerjaan baru, jika tidak suatu saat kau pasti akan menyesal." ucap Xhavier membuat Nana menyerengit bingung. “Kau, siapa sebenarnya dirimu?" Tanya Nana dengan nada curiga seraya ingin memperhatikan wajah Xhavier. “Aku hanya orang lewat yang baru saja kau tabrak,” jawab Xhavier datar sambil memperhatikan Nana. Mereka berdiri diam beberapa detik di tengah lalu lintas yang mulai padat. Hembusan angin membuat rambut Nana berantakan, dan setitik air hujan jatuh dari ujung jaket Xhavier ke sepatu Nana. Ia melangkah mundur cepat. “Ugh, dasar orang aneh,” gerutu Nana sambil memungut lembar terakhir berkasnya. “Dan kau orang sibuk yang tidak tahu caranya minta maaf,” jawab Xhavier tenang. “Kalau aku minta maaf, nanti kau besar kepala.” balas Nana. “Kalau kau tidak minta maaf, aku akan ingat wajahmu.” “Silakan. Aku bukan penjahat.” sahut Nana. Xhavier tersenyum samar. “Itu yang biasanya dikatakan para penjahat sebelum tertangkap.” "Jadi kau menuduhku sebagai seorang penjahat?" Pekik Nana. "Bisa jadi," balas Xhavier "Bagiku semua anggota kepolisian sama saja harga diri mereka bisa dibeli, jika ada uang baru mereka akan menangani kasusnya jika tidak mereka akan mengabaikan kasusnya lalu apa bedanya mereka dengan penjahat." ucap Xhavier tergambar jelas kebenciannya pada seluruh anggota kepolisian. "Tidak semua polisi seperti itu!" Balas Nana kesal. "Tapi bagiku mereka semua seperti itu termaksud dirimu." sahut Xhavier, membuat Nana hanya dapat mengangga takjub tak bisa berkata-kata untuk mendebat. "Mimpi apa aku semalam sampai harus bertemu orang menyebalkan sepertimu, ku harap ini pertemuan pertama dan terakhir kita." ucap Nana membuat Xhavier tersenyum. “Mungkin kita akan bertemu lagi,” balas Xhavier tenang. “Semoga tidak,” jawab Nana cepat. "Tidak ada yang tahu dengan takdir, Nona cantik." balas Xhavier, ia berbalik, melangkah pergi di antara kerumunan, meninggalkan jejak air di jalan basah. Nana menatap punggungnya yang menjauh dengan rasa kesal bercampur bingung. Entah kenapa, ucapan Xhavier yang mengejek kepolisian menancap bagai mantra di kepala Nana. Beberapa detik kemudian, ponsel Nana berdering. “Ya, Komandan?” gumam Nana lalu menjawab panggilan telpon itu. “Nana Lohunea, laporan terbaru dari analisis forensik sudah keluar. Luka tusuk di d**a korban keempat identik dengan tiga korban sebelumnya. Sama seperti dugaanmu.” “Jadi benar, pembunuhnya orang yang sama.” gumam Nana “Benar. Dan kami mendapat info baru. Ada seseorang yang terekam CCTV di sekitar lokasi pembunuhan terakhir. Kami kirimkan fotonya ke emailmu.” Nana menatap layar ponselnya ketika pesan masuk. Foto itu menampilkan siluet seorang pria berjaket hitam, berjalan di bawah hujan dengan payung hitam—tidak jelas, tapi… Dari bentuk tubuh dan potongan rambutnya, Nana merasa seperti pernah melihatnya tapi ia lupa dimana dia perna melihatnya, padahal lelaki yang ada di foto itu adalah Xhavier lelaki yang baru saja mengejek kepolisian. Nana lalu memasukan ponselnya dalam saku, ia melangkah pergi cepat menuju motornya. Di sisi lain, dari kejauhan, Xhavier berdiri di balkon sebuah gedung tua, menatap ke arah jalan tempat mereka bertabrakan tadi. Di tangannya, ia memegang kalung kecil berbentuk peluru perak—simbol kelompoknya, The Shadow angel. Suara lembut tapi dingin keluar dari bibirnya. “Detektif Nana Lohunea… ternyata menarik juga melihat wajah pekerja yang katanya memberi keadilan dari jarak dekat.” Xhavier lalu menatap langit yang mulai gelap, lalu tersenyum miring. “ Maaf Nana tapi Sayangnya, aku akan jadi pembunuh bayangan yang kau cari… dan takkan pernah bisa kau tangkap.” Cahaya petir menyambar di langit. Dan di bawah kilat pertama malam itu, dua takdir yang seharusnya tak bersinggungan mulai berjalan ke arah yang sama — menuju cinta, dosa, dan penyesalan yang tak bisa dihindari. Bersambung!...

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.3K
bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
70.3K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook