Jadwal target

1097 Kata
Sore itu, langit kota mulai memudar menjadi jingga keemasan. Cahaya matahari yang tersisa menembus kaca jendela ruang kerja Divisi Intelijen, menciptakan pantulan lembut di meja kerja yang dipenuhi kertas dan map berwarna. Di tengah kesunyian ruangan itu, Nana duduk tegak di depan layar komputernya, jari-jarinya menari cepat di atas keyboard. Pandangan matanya fokus, nyaris tak berkedip. Sudah hampir dua jam ia menelusuri berbagai arsip, email publik, hingga laporan kegiatan dari perusahaan besar milik Tuan Jhon — semua untuk satu tujuan yaitu menemukan pola pergerakan target pengawasan yang kini menjadi tanggung jawabnya. “Besok, pertemuan dengan investor Jepang di Hotel Aruna jam sepuluh…” gumam Nana pelan, mencatat setiap detail kegiatan Tuan Jhon di buku kecilnya. “Lalu, hari Selasa ada makan siang bisnis dengan walikota. Rabu—hmm, kunjungan ke panti asuhan milik yayasannya.” Ia menghela napas, menatap daftar yang semakin panjang. Surat perintah dari pimpinan hanya memberinya waktu satu minggu untuk mengawasi Tuan Jhon. Setelah itu, misi pengawasan akan dievaluasi. Artinya, dalam tujuh hari, ia harus menemukan bukti yang cukup kuat bahwa nyawa Tuan Jhon memang dalam bahaya jika ia ingin mendapatkan surat perintah lanjutan. Namun sebelum pikirannya sempat menyusun strategi selanjutnya, suara berat namun lembut tiba-tiba terdengar di belakangnya. “Apa yang sedang kau lakukan?” Nana terlonjak sedikit, kepalanya menoleh cepat. Di ambang pintu berdiri Xhavier, bersandar santai dengan tangan di saku, tatapannya tenang tapi tajam. “Oh, kau rupanya,” gumam Nana sambil kembali menunduk pada komputernya, mencoba mengabaikannya. “Aku sedang mencari jadwal kesibukan Tuan Jhon.” Nada suaranya datar, tapi matanya tetap penuh konsentrasi. Xhavier melangkah mendekat perlahan, sepatu hitamnya mengeluarkan bunyi lembut di lantai marmer. Ia menatap layar komputer di depan Nana—deretan tabel kegiatan, lokasi, waktu, dan daftar orang yang akan hadir bersama Tuan Jhon. Semuanya tersusun rapi, menunjukkan betapa seriusnya Nana menjalankan tugasnya. “Dia benar-benar bertekad,” pikir Xhavier dalam hati, memperhatikan gerak gadis itu. Untuk seseorang yang hanya diberi waktu seminggu, dia terlihat seolah mempertaruhkan nyawanya sendiri. Wajahnya yang biasanya datar mendadak menegang, apalagi ketika melihat kesungguhan di sorot mata Nana. Ada sesuatu di sana—ketulusan yang jarang ia temui. Namun lamunan itu terhenti ketika tiba-tiba Nana berdiri, menutup laptopnya dan merapikan berkas-berkas dengan cepat. “Kenapa?” tanya Xhavier, sedikit kaget dengan perubahan cepat itu. “Aku harus ke perusahaan Tuan Jhon,” jawab Nana cepat, menatapnya sebentar. “Aku ingin mencari tahu langsung jadwal lengkap kegiatan Tuan Jhon selama satu minggu ke depan.” Xhavier mengangkat alis. “Kenapa hanya satu minggu ke depan?” tanyanya dengan nada seolah ingin tahu lebih, padahal dalam benaknya sudah mulai berputar perhitungan baru. “Karena pimpinan hanya memberikan aku waktu tugas seminggu.” Mendengar jawaban itu, senyum tipis muncul di sudut bibir Xhavier. Tapi bukan senyum lega — lebih tepatnya senyum penuh rencana. "Jadi hanya seminggu… setelah itu pengawasan berakhir. Kalau begitu, eksekusi bisa ditunda sampai dia selesai." Pikir Xhavier. Ia menatap Nana yang kini sudah mengenakan jas hitam dinasnya, rambutnya diikat tinggi agar tak menghalangi pandangan. Gadis itu tampak kuat, tapi Xhavier tahu betapa rentannya dia di dunia nyata yang kejam seperti ini. “Mau ikut?” tanya Nana tiba-tiba, menatap Xhavier tanpa ekspresi berlebihan, hanya sekadar sopan profesional. Xhavier menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. “Tentu saja. Aku juga ingin tahu seperti apa jadwal si Tuan Jhon itu.” “Baik. Ayo.” Mereka keluar dari ruangan bersama. Langit sore yang kini mulai meredup menyelimuti mereka dalam semburat oranye yang perlahan pudar menjadi abu-abu. --- Perjalanan menuju gedung milik Jhon Corporation memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Mobil dinas hitam melaju tenang di antara lalu lintas kota yang mulai padat. Nana duduk di kursi penumpang depan, matanya menatap keluar jendela, sementara pikirannya penuh dengan berbagai kemungkinan. “Jika benar pembunuh itu menargetkan Tuan Jhon,” gumamnya pelan, “maka mereka pasti sudah melakukan pengintaian jauh sebelum ini.” Xhavier yang menyetir meliriknya sekilas. “Kau benar-benar percaya bahwa dia targetnya?” “Ya,” jawab Nana tanpa ragu. Hingga akhirnya mereka tiba di gedung Jhon Corporation saat langit sudah benar-benar gelap. Cahaya lampu dari gedung tinggi itu berkilau seperti kristal di antara bayangan malam. Nana turun dari mobil, menatap gedung itu lama. “Besar juga ya,” katanya pelan, Xhavier hanya mengangguk sembari tersenyum samar menyetujui ucapan Nana. Mereka kemudian berjalan menuju meja resepsionis. Nana menunjukkan kartu identitas dan surat perintah tugasnya. Petugas di sana sempat terlihat gugup tapi kemudian mempersilakan mereka menunggu. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya datang menghampiri. “Saya sekretaris pribadi Tuan Jhon,” katanya sopan. “Kalian ingin melihat jadwal beliau?” “Ya,” jawab Nana, menatap wanita itu tajam namun ramah. “Kami hanya butuh data kegiatan beliau satu minggu ke depan. Tugas observasi dari kepolisian.” "Bukankah Tuan Jhon sudah dinyatakan tidak bersalah di pengadilan lalu kenapa masih harus diawasi?" tanya sekretaris pribadi Tuan Jhon itu. Nana tersenyum lalu menjawab "Nampaknya anda salah paham, Nyonya. Kami bukan datang mengawasi terkait kasus Tuan Jhon yang lalu, tapi kami datang mengawasi karena kami takut Tuan Jhon akan menjadi target pembunuh berantai berikutnya." jelas Nana. Nana menjelaskan tujuan tugasnya dengan detail pada wanita paruh baya itu, hingga wanita itu mengangguk tanda mengerti. Wanita lalu mengantarkan Nana dan Xhavier ke ruang tunggu. Tak lama kemudian, ia kembali dengan berkas tebal berisi jadwal lengkap, disertai lampiran nama-nama pihak yang akan ditemui oleh Tuan Jhon. “Terima kasih,” ucap Nana tulus, menerima berkas itu dengan kedua tangan. Saat wanita itu pergi, Xhavier menatap tumpukan kertas di tangan Nana dan bersiul kecil. “Kau sungguh niat. Ini bahkan seperti jadwal hidup seseorang, bukan hanya kegiatan kerja.” Nana tersenyum tipis, meski matanya tetap tajam. “Jika aku ingin melindunginya, aku harus tahu semuanya tentangnya.” Xhavier menatap wajah itu lama. Ia melihat keyakinan, keteguhan, dan sedikit kelelahan. Dan untuk alasan yang bahkan ia tak pahami, hatinya terasa bergetar. Bagaimana bisa seseorang seberani ini hidup di dunia yang penuh tipu daya? "Bagaimana kau begitu sangat ingin melindungi Tuan Jhon, kau tahu dia orang jahat dia pelaku pemerkosa dan penganiayaan tapi bukannya dihukum dia justru di vonis bebas dengan alasan konyol. Bukankah lebih baik pembunuh berantai itu memberi Tuan Jhon hukuman." ucap Xhavier. "Aku tahu Tuan Jhon salah, dia penjahat tapi tindakan pembunuh berantai itu juga salah." balas Nana membuat Xhavier langsung berhenti untuk mendebat karena percuman jika ia berdebat dengan Nana dia tetap kalah. "Jika tebakanku benar maka besar kemungkinan aku akan bertemu dengan pelaku pembunuhan berantai itu saat aku sedang mengawasi Tuan Jhon, tanpa Nana ketahui bahwa Xhavierlah pembunuh berantai yang terjadi pada para pejabat korup itu. bersambung!...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN