"Ayolah, Mas, kita harus ke dokter," bujuk Rinta entah yang keberapa kali. "Nggak perlu, Ta. Aku sudah sembuh kok, nih liat," jawab Bara sambil mengangkat lengannya macam binaraga. Meski demikian wajahnya yang pucat dan suhu tubuhnya yang tak kunjung turun tak bisa bohong. Rinta mendengus kesal. Dia seperti tengah membujuk balita yang tidak mau mandi. Alih-alih menanggapi sanggahan Bara, Rinta memilih melipat tangannya dan menekuk wajahnya. "Ka-kamu kenapa?" Tanya Bara jadi salah tingkah karena mendadak kekasihnya itu justru diam. "Kamu marah?" Lajutnya lagi. Rinta tak menjawab dan memilih menatap ke arah lain. Tangan Bara yang panas menyentuh perlahan lengan kekasihnya itu. "Kamu marah karena aku gak mau periksa?" Rinta menatap tajam pada pemuda tersebut. "Aku sebel sama kamu, kond

