Rinta bergegas keluar saat mendengar pintu kontrakannya diketuk. Rambutnya yang dikuncir kuda itu bergerak-gerak seiring langkahnya yang cepat. Tak lupa Rinta menyambar tas miliknya. Tepat seperti dugaannya Bara telah berdiri di depan pintu memamerkan barisan giginya yang rapi. "Taraaa," ucapnya sambil menyodorkan setangkai bunga mawar yang masih sangat-sangat segar. "Bunga cantik untuk gadis cantik," lanjutnya, membuat wajah Rinta tersipu. "Makasih, Mas. Pagi-pagi kamu sudah dapat bunga dari mana?" Alih-alih gembira, Rinta justru penasaran. "Rahasia dong," jawab Bara sambil nyengir kuda. Matanya melirik ke arah rumah ibu pemilik kontrakan, tepat di teras rumah besar itu terdapat beberapa pot bunga, dan salah satunya adalah mawar. "Ayo berangkat, nanti kamu keburu terlambat," ajak Ba

