First Meet
Seorang pria tampak berjalan menyusuri koridor. Kemeja navy dengan bagian lengan digulung hingga siku itu tampak begitu pas di tubuhnya, hampir seluruh mahasiswi menjadikannya objek pertama yang tak patut untuk dilewatkan. Termasuk Athena, seorang mahasiswi yang sudah kondang kejelitaannya di seantero kampus. Dia berdiri seraya memainkan ujung pulpen di wajahnya, setelah sekian lama mendengar desas desus tentang dosen baru yang terkenal tampan itu, akhirnya dia melihat secara langsung. Kesan pertama yang Athena dapati adalah... dia benar-benar tampan luar biasa!
"Irish, lo denger ya. Gue itu-cuma-dan-hanya akan menikah dengan pria dewasa dan macho!" Athena berdiri menyender di tembok depan kelasnya. Dia menatap tubuh tegap itu dengan teliti. Hampir setiap inchi Athena amati.
Cambang di pipinya semakin membuat wajah tampannya memesona. Pria yang masih asyik dengan ponsel itu berjalan terus ke arah kelasnya. Kabar burung yang Athena dengar adalah, saat ini menjadi dosen pengganti di kelas sastra yang Athena ikuti sekarang ini.
"Macho? emang lo tahu seperti apa macho itu?" Irish—sahabat Athena— yang sedari tadi memainkan ponsel tiba-tiba mendongak, menatap Athena dan tersenyum mengejek. Dia melihat sahabatnya yang selalu menaruh minat lebih terhadap pria-pria bertubuh atletis.
"Seperti pria itu!" Irish akhirnya mengikuti arah pulpen yang diarahkan Athena.
"Ganteng sih emang! Tapi dia itu udah Om-Om, Na." Irish menelisik pria yang masih berjalan santai tak jauh dari mereka berdiri. Wajah penuh ketertarikan nyatanya tak bisa disembunyikan Irish. Gadis berambut sebahu itu berpikir bahwa sahabatnya memang sudah benar-benar gila. "But, coba lo deketin dia. Kalau benar tipe lo, tembak sekalian. Berani?"
Athena tak menyahut, dia mengangkat dagu. Melirik Irish skeptis dan berjalan lurus ke depan. Tepat ke arah pria bertubuh tegap dengan setelan necis ala bintang Hollywood itu. Dengan percaya diri Athena menghampiri pria yang berjarak beberapa meter saja dari tempatnya.
Hanya dalam hitungan detik Athena berhasil memblokade langkah sang dosen.
"Maaf Anda menghalangi saya."
Suara bariton pria itu sukses membuat nyali Athena semakin timbul. Athena menatap pria di hadapannya, dia tampak mengerutkan kening. Menggeleng sekilas sebelum akhirnya memalingkan wajah.
"Hai, Om. Aku Athena. Kebetulan aku jomlo dan kebetulan juga aku mau mengatakan I LOVE YOU!" To the point Athena mengutarakan tantangan dari sahabatnya.
Hades menggeleng sekali lagi, sedangkan dari kejauhan tampak Irish membekap mulutnya. Nyaris menjatuhkan beberapa buku dalam dekapan. Athena memang terkenal gila dan nekat. Namun, dia tak menyangka bahwa akan segila ini. Mahasiswi waras mana yang dengan sadar menyatakan cinta pada dosennya.
Athena, what are you doing now... Athena berujar dalam hati.
Pria itu berhenti mengedarkan pandangan, lalu menatap Athena dan mengangkat sebelah alisnya. "Kamu masih terlalu kecil. Pantasnya jadi adik saya."
Baik Athena ataupun pria masih bergeming, seolah-olah enggan saling memutus kontak mata dengan lawan di hadapannya. Tingginya melebihi Athena, padahal gadis berambut ikal itu terbilang tinggi seperti model high class. Mata hitamnya menatap Athena, bibirnya terkunci, rahangnya mengatup sempurna, tak tampak tanda pria itu ingin melanjutkan obrolan dengan gadis di hadapannya, sesaat kemudian dia pergi meninggalkan Athena yang mematung.
"Besok, lusa atau bulan depan lo bakal jadi pacar, eh ... bahkan suami gue!" Athena berbalik, berteriak, lantang dan menggundang beberapa pasang mata untuk melihat ke arahnya.
Pria itu pun berhenti. Menoleh sekilas, lalu pergi tanpa menggubris Athena. Dia bukan Leonardo D'Caprio yang memukau, tapi dia adalah pria pertama yang mengabaikan Athena.
Athena memang cantik dan populer. Penolakan pria itu menjadi pukulan telak untuknya. Irish mendekati Athena, sekuat tenaga menahan tawa.
"Gila! Berani banget, lo. Dia dosen baru di kampus ini, Cuy. Dia bakal jadi dosen kita!" Irish menyenggol bahu Athena, membawa gadis itu ke alam sadarnya kembali.
Seperti dihantam langit ke tujuh. Athena menoleh ke arah Irish dengan kaku. "Kenapa? Kan lo yang nantangin gue."
"Emh, gue asal ngomong aja tadi Na." Irish menatap Athena penuh belas kasihan. "Yang sabar ya." Irish berujar setengah mengejek yang langsung mendapat tatapan tajam dari sahabatnya.
Athena nyaris tak minat untuk tersenyum. Menelan saliva pun begitu kepayahan. Sial, bagaimana dia nanti berhadapan dengan pria itu. Athena terus merutukki kelakuannya, toh ... nasi sudah menjadi bubur. Kejadian tadi benar-benar spontan, Athena hanya memerlukan wajah yang tebal agar bisa biasa saja saat masuk kelas.
"Gue mau izin dulu boleh?" Athena berubah pikiran. Bukan tebal muka yang dia perlukan. Tetapi langkah seribu dan menghilang beberapa hari sampai dosen itu lupa akan kejadian siang ini.
"Kagak. Ayo masuk. Atau nilai sastra lo tambah jeblok lagi." Irish mencekal pergelangan tangan Athena ketika sahabatnya itu hendak pergi.
"Rish, gue gak kabur," ucap Athena, "gue pengen ke toilet bentar ya.... "
"Gausah ngeles, udah tau gue pikiran busuk lo, Na!"
Muka memelas Athena seketika lenyap. Hatinya berdesir antara takut dan malu. setapak demi setapak, kelasnya seperti ruangan horor yang siapa pun pasti enggan memasukinya. Tak butuh waktu lama untuk Athena dan Irish tiba di depan kelasnya. Athena yang kondang tingkat percaya dirinya seketika seperti berbanding terbalik, dia takut—tepatnya enggan untuk bertatap muka. Belum pernah dia segugup dan setidakpercaya diri seperti saat ini.
Athena menyembulkan kepalanya sedikit di antara celah pintu kelas. Benar saja, pria itu duduk di meja. Tangan kokohnya membolak-balikkan buku setebal muka Hera, musuh bebuyutannya. "Rish, kira-kira dia bakal amnesia gak ya? gue malu cuy."
"Lo kira dia pemain sinetron yang abis jatuh dari atas gedung! Udah ayo masuk." Irish menepuk pundak Athena. Ikut menyembulkan kepala di atas Athena yang membungkuk. "Dari samping aja dia masih kelihatan ganteng sih, Na."
"Yoi, Rish. Tapi kegantengan dia bikin gue ogah masuk."
Pria itu masih sibuk membuka halaman buku, anak-anak lain pun begitu. Cih, sok rajin. Padahal mereka biasanya hanya bermain ponsel di bawah meja. Athena berani bertaruh, bahwa mereka tidak benar-benar menyimak pekajaran dosen baru itu. Kecuali ... Hera, dia tampak memilin-milin ujung rambutnya guna menarik perhatian dosen baru itu.
"Kalian mau masuk atau tetap di situ?" Suara bariton itu sontak melemaskan setiap sendi syaraf Athena dan Irish. Kedua gadis itu saling bertukar tatap, lalu melangkah memasuki kelas. Bagi Irish mungkin tidak terlalu masalah, tapi tidak untuk Athena yang saat ini masih terus memikirkan alasan agar tidak mengikuti kelas sang dosen.
Belum lagi seisi kelas yang ikut menatap mereka. Sial kedua di hari ini, itulah pikir Athena. Gontai, mereka melangkah ke kelas dengan kepayahan. Pria itu tak menoleh sedikitpun, matanya masih fokus menatap buku di hadapannya.
Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Athena dan Irish pun masuk dan duduk di kursi kosong tepat di pojok yang paling dekat dengan meja si dosen.
"Kalian mau terus melongo atau mau belajar. Kalau gak serius boleh keluar sekarang." Ucapan dosen itu bagai ultimatum di telinga Athena.