Athena ingin segera pergi, menyembunyikan sisi terkelamnya, dan menenggelamkan kesedihan di tempat lain. Athena enggan dikasihani, tak mau dipandang lemah dan dia tak pernah mau diremehkan. Dan sekarang ... Hades benar-benar menemukannya di keadaan yang paling dia hindari.
"Na, ayo kita pulang. Jangan pergi lagi. Mama butuh kita."
Athena kenal suara itu, dan bukan Hades. Dengan menghela napas lega, Athena berbalik dan menatap Bagas, dahinya berkerut. "Kok Mas Bagas bisa tahu Athena di sini?"
Bagas berdecak. Mengacak rambut Athena dengan gemas. "Mas tadi lihat kamu pergi. Terus Mas ikutin. Mas kira kamu mau pergi lagi."
Bagas menggandeng lengan Athena. Tiba-tiba dia teringah ayah gadis kecil itu. Dia menoleh ke belakang, penglihatannya tak salah. Dia Hades, berdiri menatap kepergiannya. Athena sulit mengartikan tatapan Hades.
"Mas, tunggu sebentar." Matanya mencari sosok laki-laki di bawah pohon tadi. Nihil, dia tak ada. Gadis kecil itu pun tak ada.
Bagas mendekat, mengikuti arah pandangan adiknya. "Udah, yuk pulang. Kita selesaikan masalahnya dengan kepala dingin."
Athena pulang, meninggalkan rasa sesak yang tertinggal di taman sore ini. Namun, sebelum benar-benar Athena pergi, dia mencuri pandang ke arah Hades, tatapan pria itu sungguh berbeda, tajam dan menusuk.
***
Athena duduk dengan gusar menanti Hades. Ada hal yang harus dia katakan. Athena melirik jam yang melingkar di tangan, sudah hampir satu jam. Athena pun melewatkan mata kuliah dari dosen paling killer di kampus.
Sejam berlalu, terik mentari mulai menyengat. Mobil hitam mengkilat itu memutar kee arah parkiran. Athena berdiri, merapikan tatanan rambut bergelombangnya lalu berjalan menghampiri Hades. Seperti biasa, dia memasang senyum paling menawan sekaligus menutupi kegugupannya.
Athena berjalan terengah-engah. Dia harus segera menghampiri atau Hades akan pergi lagi. "Om tunggu!"
Hades menoleh, sinar matahari terpantul dari kacamata hitamnya. Athena sudah berdiri di hadapan Hades. "Kemarin kamu kan yang di taman?"
"Bukan." Hades memalingkan wajah.
"Bohong!"
"Itulah kenyataannya, Athena. Hades berujar seraya menatap Athena sekilas. "Maaf saya harus pergi."
Athena menghela napas lelah, menatap Hades yang baru beberapa langkah di hadapannya.
"Kenapa kamu hobi banget membohongi perasaan? Aku tahu kemarin kamu di sana bersama gadis kecil itu. Look at me, please!"
Hades berhenti, berbalik, menatap Athena dari balik kacamatanya. Athena mendekat, jarak mereka hanya satu jengkal.
"Kamu tahu, aku suka kamu sejak awal kita bertemu. Kamu terkadang memberiku harapan saat aku sudah lelah mengejar, seperti kemarin. Lalu apa sekarang?"
"Sekarang jauhi lagi, kita berbeda. Lagi pula, laki-laki kemarin jauh lebih pantas di sampingmu."
Athena mendongak, menatap Hades jauh lebih dalam. "Kamu salah paham."
Hades bergeming, memalingkan wajah. Dia tak tahan jika melihat Athena menangis di hadapannya. Tangannya mengepal, berusaha untuk tak menyeka air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata Athena.
"Jika pun bukan kakakmu, itu adalah hakmu. Lagi pula, tidak ada yang salah paham di sini. Saya bukan siapa-siapa."
"Om," lirih Athena.
Hades tak kuasa lagi, dia berbalik dan melangkah menjauh.
"Dia hanya kakakku. Kakak kandungku!"
Hades diam, hatinya terlalu munafik untuk menerima pengakuan Athena yang begitu berarti dan membuat lega untuknya. Hades hanya takut, jika kejadian lima tahun lalu terulang kembali. Perih dan sakit. Hades berjalan, mengabaikan Athena yang masih tergugu di tempatnya.
"Kamu mencintaiku juga!" Athena berujar sedikit kencang. Beberapa mahasiswa berbisik seraya menatap Athena.
"Kamu cemburu!" Kali ini Hades berhenti. Persetan dengan orang-orang yang melihat ke arahya.
"Aku hitung sampai tiga. Kalau kamu gak nengok maka aku anggap kamu memang gak mencintaiku. Dan aku juga akan berhenti ngejar kamu!"
Hades mengumpat dalam hati. Dia tak bisa lagi menahan dan membohongi hati.
"SATU!"
"DUA!
Ada jeda sesaat, Athena berharap Hades menoleh. Nyatanya dia masih bergeming. Berdiri seperti patung tanpa mau bergerag sedikitpun.
"Tiga," ujar Athena melemah. Hades masih dia. Athena menyerah. Dia sudah mempermalukan diri sepagi ini. Hatinya remuk redam, air mata mengalir di kedua pipinya.
Athena memutar arah, berjalan gontai meninggalkan Hades. Cukup! Dia tak akan mengejar lagi. Hades tak mencintainya.
Tiba-tiba sebuah tangan mencekal lengannya. Membuatnya terhenti, Athena menoleh. Mata elang itu menatapnya dengan seksama, cekalan tangan Athena melonggar. Berganti dengan sepasang tangan kekar yang merentang seolah menyambut kepada siapa pun yang hendak memeluknya. Bukan, hanya Athena. Dialah yang diharapkan masuk dalam pelukan itu
Athena membekap mulutnya. Air mata kian mengucur semakin banyak. Dia, Hades. Masih merentangkan tangan seraya mengangguk. Sesaat kemudia Athena menghambur memeluk Hades. Riuh tepuk tangan memenuhi indera pendengaran Athena dan Hades.
"Maafin saya, Athena. Terlalu lama menyiksa hati kamu."
Athena mengangguk dalam pelukan Hades.
"Saya juga sayang sama kamu." Hades mengeratkan pelukan itu. Mengelus kepala Athena penuh kasih sayang.
Athena mendongak, melihat wajah Hades jauh lebih dekat. "Om gak bohong?"
Hades menggeleng, melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Athena dengan ibu jarinya. Digenggamnya kedua tangan Athena. "Bohong."
Athena memukul d**a bidang Hades, kembali memeluk dan membenamkan wajahnya. Menghirup aroma parfum Hades yang begitu memabukkan. Benar kata orang, keringat pun terasa seperti parfume jika sedang dimabuk asmara.
***
Irish menggebrak meja, membuat Athena tersedak saat menyeruput es jeruknya. "Tega ya lo!"
"Apaan sih, Rish."
"Lo anggap gue apa? Masa gue tahu kabar jadian lo dari anak-anak lain."
"Sorry, udah gak usah lebay. Sini duduk." Athena menepuk kursi sebelahnya. Irish beringsut duduk dan menyerobot ea jeruk yang tinggal separuh. Menyeruputnya hingga tandas.
"Gila! Lo haus apa doyan?"
"Itung-itung buat padamin api di hati gue." Irish mendelik menatap sahabatnya. "Lo hutang penjelasan sama gue."
Athena tersenyum, dia menatap ke arah kolam ikan yang berada di samping kantin. Athena mulai menceritakan kejadian kemarin, dari kepergian papanya, lalu pertemuannya dengan Hades di taman dan berakhir dengan kecemburuan Hades pagi ini.
"Gila ... gila ... lo gila! Nekat amat nembak dosen!"
"Dosen itu kalau di kampus dan di kelas. Kalau di luar itu dia cowok gue."
"Bentar, dia cemburu ama Mas Bagas, kakak lo itu kan?"
Athena mengangguk. Irish mulai memberondonginya pertanyaan mengenai Bagas. Athena ganti mendelik, menatap Irish penuh selidik. "Jangan bilang lo naksir abang gue? Gak, gak rela kalau Mas Bagas dideketin mak lampir kayak lo."
Irish menjitak Athena. "Mana ada ma lampir secantik gue!"
Athena terbahak, begitu pun dengan Irish. Bisa dikatakan hari ini adalah hari yang spesial untuk Athena. Tuhan memang adil, di saat dia terpuruk dengan kepergian papanya, Hades hadir sebagai pengganti. Athena tersenyum, hatinya berbunga-bunga jika mengulang kejadian pagi tadi.
"Yeeee, jatuh cinta sih boleh. Cuma jangan jadi orang gila, Na. Gue ogah punya sahabat gila." Irish kembali menjitak Athena. Mereka terbahak, mengabaikan beberapa orang yang menggeleng melihat tingkah Athena dan Irish.