Bab 3

833 Kata
Setelah menyalin PR Sosiologiku dengan serius, Andra pun mengembalikan buku-ku dengan senyum secerah mentari pagi. "Andien, jangan bilang siapapun ya kalo aku nyontek. Ini rahasia kita berdua aja."                 Rahasia? Kenapa harus dirahasiakan? Aku awalnya sempat bingung, tapi … mungkin Andra takut diejek teman-temannya jika menyontek. Jadi, baiklah!                 Aku menunduk gugup. "I-iya." Tenang saja, Andra, rahasia pasti aman.                 "Ah, kamu selalu dateng pagi, ya?"                 Aku mengangguk. Alasanku dating pagi adalah kamu, Andra.                 "Bagus. Aku jadi punya teman ngobrol setiap pagi. Pas kelas sepuluh, aku bosen banget di kelas sendirian hampir setengah jam." Andra terkekeh.                 Dan, lagi-lagi aku terpesona.                 Tawanya sangat merdu. Cha Eunwoo aja kayaknya kalah.                 "Andien ... Andra. Nama kita cocok, ya?" Ada angin apa, dia tiba-tiba berkata seperti itu? Kalau nama kita cocok, memangnya kenapa?                 Aku mengangkat kepalaku. "Hah? Cocok?"                 "Yah, mirip." Andra mengedikkan bahu. "Eh, ini buku lo. Makasih, Cantik."                 Cantik?                 Dia memanggilku cantik? Apa aku tidak salah dengar? Biasanya para cowok memanggilku ‘gembel’, bukannya cantik. Jahat memang. Mereka smeua jahat, kecuali Andra.                 Aku menerima bukuku dengan gemetar. "Iya, sama-sama."                 "Yaudah, sana," ujar Andra sambil menguap lebar. "Bentar lagi anak-anak kayaknya dateng. Gue nggak mau ada gosip lagi."                 Gosip? Ah, Andra memang sering digosipkan oleh banyak cewek. Bahkan banyak yang menganggap Andra itu playboy tingkat tinggi. Tapi, aku sama sekali tidak percaya. Tidak mungkin Andra seperti itu. Dia pasti hanya berusaha ramah pada semua orang, bukannya memberi harapan pada cewek-cewek itu.                 Aku pun mengangguk, kembali ke tempat dudukku.                 Lima menit kemudian, anak-anak mulai memasuki kelas dengan ramai. Aku pun mendunduk dan pura-pura sibuk membaca buku. Oke, sangat natural.                 "Sayang! Gimana rambut baru gue?" Suara nyaring itu membuatku penasaran. Siapa yang Chika panggil sayang?                 Chika adalah perempuan paling populer di kelasku. Dia cantik, tanpa cacat sedikitpun. Jika aku menjadi laki-laki, mungkin aku akan memilih perempuan sepertinya untuk dijadikan pacar. Itu wajar. Jadi, wajar juga jika sekarang Andra terlihat dekat dengan Chika. Apa mereka pacaran? Aku tidak tau. Tapi, mungkinkah berteman panggilannya ‘sayang’? Rasanya aneh, bukan?                 "Rambut gue bagus nggak, An?" tanya Chika manja, duduk di meja Andra.                 "Cantik." Andra memandang Chika dengan tatapan yang memuja.                 Tatapan itu ... jauh berbeda dengan yang Andra tujukan padaku. Kenapa aku baru sadar? Tatapan Andra padaku tadi hanya sebatas ... sopan santun. Memang manis, tapi tetap saja berbeda.                 "Andra, gue bosen dibilang cantik mulu sama lo. Yang lain, dong."                 Cih, bosan? "Hmm, gimana kalo ... sempurna?" Andra memegang tangan Chika dengan mesra. "Gue beruntung banget kenal cewek secantik lo." "Ah, gombal. Lo nyebut semua cewek tuh cantik, An. Dasar jahat." Chika tertawa.                 Jadi ... begitu, ya?                 Aku seharusnya sadar, kalau Andra tidak mungkin bisa menyukaiku.                 Dia hanya suka dengan perempuan yang cantik. Sayang sekali, aku tidak masuk ke dalam kategori itu. Aku bangkit dari kursiku. Lebih baik aku ke toilet untuk menenangkan pikiran. Kelas ini sangat berisik.                 Saat aku berusaha keluar dari kelas, ada saja anak lelaki yang menghalang-halangi jalanku. Sebut saja mereka genk ‘Gak Jelas’.                 "Bilang permisi, dong!"                 "Eh, rambut lo kok kusut banget? Nggak punya sisir ya di rumah?"                 "Andien, jadi cewek tuh harusnya merhatiin penampilan, dong. Jangan pasrah begini kayak gembel."                 "Iya, kulit lo kan putih banget tuh. Manfaatin, dong!"                 "Iya! Mata kita bosen banget ngeliat lo tiap hari kayak gembel begini."                 Aku tetap diam dan enggan melihat kelima cowok pembuat onar di kelasku. Mereka bilang aku seperti gembel? Apa mereka tidak punya cermin di rumah? Mereka bahkan tidak setampan Andra. Ralat, sangat jauh!                 "Kalo diajak ngomong tuh, JAWAB!" Salah satu dari mereka mengangkat daguku. Namanya Rio. Aku hanya terus memandangnya benci. Sejak kelas satu, dia selalu menggangguku tanpa sebab. Padahal aku hanya bernapas, Ya Tuhan. Aku tidak merasa pernah menghina atau memukulnya. Tapi, kenapa ia memilihku untuk diganggu setiap hari? Rasanya tidak adil. Bahkan, aneh. Sangat aneh.                 "Apa? Lo berani ngeliatin gue begitu?!"                 "Lepas," ucapku tajam.                 "Nggak mau. Lo harus nangis dulu." Lelaki itu malah menjepit pipiku dengan keras.                 s****n. Ah, aku di luar mungkin terlihat lemah dan pendiam. Tapi sejujurnya aku juga sama seperti orang lain pada umumnya. Aku gampang marah dan berkata kasar, tapi aku hanya memendam semua itu di dalam hati. Aku tidak suka rebut di depan umum. Sangat mengerikan, menurutku.                 "Kalian cowok atau banci, sih?" Mataku melebar, saat mendengar suara Andra. "Jangan beraninya sama cewek," lanjut Andra yang sudah berdiri di sebelahku.                 "Kesambet apa lo, An? Ngapain sih belain cewek gembel dan aneh kayak dia?" Rio tertawa mengejek. Dia memang menyebalkan. Mungkin nama tengah Rio adalah ‘menyebalkan’.                 Andra mendengus geli. "Gue cuma nggak suka kalo suasana kelas jadi ribut karena kalian. Berhenti gangguin dia, ngerti?"                 Walau Andra berbicara sambil tersenyum, entah kenapa ucapannya terdengar menusuk. Hebat sekali. Tidak sembarang orang bisa memiliki aura sepertinya.                 "I-iya deh, Ketua kelas." Rio menghela napas, walau terlihat tidak terima.                 Mereka pun pergi. Dan saat aku ingin mengucapkan 'terima kasih', Andra sudah kembali ke mejanya dengan Chika.                 Yah, dia mungkin memang cuma tidak suka melihat keributan.                 Dia tidak bermaksud menolongku. Aku seharusnya tidak boleh terlalu Bahagia dan percaya diri. Sadar, Andien.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN