Bab 4

826 Kata
Aku memang tidak pernah berusaha untuk bisa cantik. Aku jarang menyisir rambutku, memakai bedak, lipgloss, ataupun peralatan kecantikan lainnya. Selain memang keluargaku kurang mampu, aku juga merasa, jika aku menggunakan semua itu, aku menjadi orang lain. Bukan diriku sendiri. Aku juga tidak ingin berubah, karena dikira mengikuti perintah anak-anak yang sering mengejekku gembel. Aku tidak ingin mereka merasa menang. Enak saja!                 Dan berbeda dengan drama yang pernah aku lihat, aku tidak mungkin tiba-tiba ke sekolah dengan penampilan yang cantik, lalu Andra langsung jatuh cinta padaku. Pasti tidak smeudah itu. Lagipula aku tidak yakin bisa berubah sangat cantik saat berdandan.                 Tidak. Itu hanya ada di dalam film drama.                 Aku tidak mau cinta yang seperti itu.                 Aku awalnya mengira, Andra itu berbeda.                 Tapi ternyata, dia sama saja.                 Aku baru tau, kalau setiap hari ia selalu tebar pesona pada banyak perempuan. Banyak yang memberinya hadiah bahkan surat cinta, dan dia menerimanya dengan senang hati. SENANG HATI. Sepertinya dia bahagia digilai banyak perempuan. Mungkin, dia bangga.                 Dia tidak tahu, kalau tingkahnya itu membuatku kesal. Lebih tepatnya, cemburu.                 "Pagi, Andien."                 Aku menoleh ke pintu kelasku. Ternyata Andra baru datang. Lebih cepat lima menit. "Pagi," sapaku datar. Waktu itu saja, dia bahkan langsung kabur setelah menolongku. Seolah tidak kenal.                 "Kenapa lo murung gitu? Belom sarapan, ya?" tanya Andra, duduk di sebelahku dengan santai.                 Sudah beberapa hari ini, kami sering mengobrol saat anak-anak belum datang. Tapi, setelah ramai, Andra akan pura-pura tidak mengenalku. Aku awalnya merasa tidak keberatan, tapi lama-lama aku jadi merasa Andra malu jika bergaul denganku di depan murid lainnya.                 "Gapapa." Aku menunduk, terus membaca buku Sejarah.                 "Lo pasti udah lama ngerasa dikucilkan, ya?" Andra menghela napas. "Kenapa mereka sejahat itu sih sama lo?"                 Oh, aku sebenarnya sangat benci dan malu jika harus membahasnya. Namun, Andra terlihat ingin tahu dan heran.                 "Mungkin karena aku—eh, gue jelek." Aku menjawab dengan santai, seolah itu bukanlah hal yang besar. Padahal, aku pun merasa sakit setiap menyebut diriku sendiri jelek.                 "Jelek?" Andra menaikkan satu alisnya. "Mata gue udah banyak lihat cewek cantik. Dan menurut gue, lo cantik."                 "Semua cewek emang selalu lo puji cantik, 'kan?"                 "Iya. Karena mereka emang cantik. Masa ganteng?” Andra malah tertawa. “Di kamus gue, nggak ada yang namanya orang jelek, Dien. Semua bisa menjadi cantik, kalau punya hati yang baik.”                 Apa? Dia terdengar baik sekali.                 “Tapi di kamus semua orang ada, Ndra.” Aku sedikit mendengus geli.                 “Di kamus lo juga ada? Kalau ada, lo harus hapus. Membeda-bedakan manusia karena fisik, menurut gue itu nggak keren.”                 Aku cukup tertegun mendengar kata-katanya. Dia benar. “Oke, akan gue hapus. Makasih, ya.”                 Andra kembali tersenyum dan menepuk kepalaku. "It’s okay. Betewe, hari ini ada PR apa?"                 Aku mengernyit. Apa dia lupa lagi? "Ekonomi."                 "Astaga, gue benci ekonomi." Andra mendengus. "PR lo udah selesai?"                 "Hmm ... ya."                 "Gue boleh lihat?" Andra memasang senyum manisnya.                 Sungguh memalukan, karena aku tidak bisa menolak permintaannya. "Boleh."                 Aku bergegas mengeluarkan buku Ekonomiku dari dalam tas. Saat aku mau memberikan buku itu, Andra sudah duluan merebutnya dari tanganku. Seperti tidak sabar.                 "Lo emang baik. Makasih, ya!" Andra berjalan ke mejanya, lalu menyalin PR-ku dengan semangat.                 Aku seharusnya tidak boleh berburuk sangka. Tapi, aku tiba-tiba merasa dimanfaatkan. Masa dia hampir setiap hari menyontek PR-ku? Apa alasan dia mau mengobrol denganku, hanya untuk itu?                 "Andra, kamu bukannya pinter? Kamu masuk peringkat tiga besar, kan?" tanyaku datar. Aku saja hanya masuk lima besar.                 "Iya, terus kenapa?" Nada bicara Andra terdengar berbeda dari sebelumya.                 "Kalo kamu pinter, harusnya kamu jangan nyontek." Oh, God. Kayaknya kata-kataku keterlaluan. Dia tidak marah, kan?                 Andra tiba-tiba tertawa. "Bukannya lo yang awalnya nawarin gue buat nyontek mulu?"                 "Soalnya saat itu, kamu beneran keliatan lupa." Aku menunduk. "Sedangkan tadi, kamu keliatan emang udah niat nyontek."                 Astaga, apa yang aku lakukan? Bagaimana kalau Andra jadi tersinggung? Mulut nakal! Aku sangat ingin memukul mulutku dan menjahitnya dengan rapat.                 "Begitu, ya?" Lihat? Andra menatapku dengan sangat dingin. “Gue bisa aja ngerjain PR, tapi banyak banget yang harus gue lakuin di rumah. Lo nggak akan ngerti. Dan, harusnya dari awal lo bilang kalau keberatan gue pinjem PR-nya. Makasih, dan oke, gue nggak akan lihat PR lo lagi. Is it good, right?”                 “Andra, gue cuma nggak mau lo jadi semakin malas ngerjain PR, karena ada gue. Gue pribadi, nggak keberatan, kok!”                 “Oh, gitu?” Andra tersenyum miring. “Mending lo balik ke bangku lo. Waktu kita udah habis.”                 “Hah?”                 “Anak-anak udah mulai dateng sebentar lagi.”                 “Lo malu, karena ternyata lo sering ngobrol sama gue? Terus, apa kata-kata lo beberapa menit yang lalu itu bohong? Ternyata lo sama aja, kan? Mandang fisik.” Aku pun mengambil buku milikku dan kembali ke tempat dudukku di depan.                  Wow, aku  merasa begitu lega setelah mengatakan semuanya pada Andra. Tapi, berlebihan tidak, ya? Dia terlihat diam saja, tidak bereaksi. Apa kata-kataku salah?                 [] Mungkin pembaca sedang menerka-nerka, kamu itu baik atau jahat sih di cerita ini, Andra? Ha-ha...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN