Aku terus terbayang dengan raut kesal Andra tadi. Aku pasti keterlaluan, sampai dia semarah itu. Maaf, Andra. Tapi itu juga demi kebaikan kamu juga. Karena orang yang bergantung dengan orang lain terus-menerus, tidak akan pernah bisa berhasil. Mereka hanya akan tertinggal di belakang, jika orang yang mereka beratkan pergi.
Sekarang Andra sedang memerhatikan guru Ekonomi yang sedang menjelaskan materi baru. Andra bertopang dagu sambil menahan ngantuk. Manisnya.
Tapi, dia tadi menyebalkan. Yah, sedikit. Kenapa dia tersinggung? Jika aku yang salah, harusnya dia mau menjelaskan dong? Bukannya ngambek seperti anak kecil begitu.
Saat Chika datang, Andra terlihat berusaha memanas-manasiku. Entah dia sengaja atau tidak, tapi aku tetap saja kesal. Dia bahkan tumben sekali merangkul Chika di depan kelas. Tepat di depan mataku. Biasanya, ia tidak pernah sampai seperti itu.
Aku rasanya ingin menjewer telinga Andra dan melarangnya untuk bersikap genit pada Chika. Eh, tapi aku bahkan bukan siapa-siapa Andra. Dia juga sedang marah denganku. Bagaimana aku bisa lupa?
Namun, aku lega karena mereka ternyata tidak berpacaran.
Rumor yang beredar, Andra tidak pernah serius dengan semua perempuan yang menyukainya. Paling jadian beberapa hari, lalu putus. Tunggu, apa Chika pernah jadian dengan Andra? Tidak mungkin. Kalau Chika memang mantan Andra, mereka tidak akan bisa sedekat itu. Atau jangan-jangan ... Chika adalah target Andra selanjutnya?
Astaga, aku pusing. Kenapa aku harus menyukai lelaki yang sangat sulit untuk kuraih? It hurts. Really. Semoga hanya aku yang merasakannya.
Akhirnya bel istirahat berbunyi.
Aku membawa bekal dari rumah karena aku sangat menghemat uang jajanku. Bukan karena aku miskin, tapi aku memang sengaja menyisihkan uang jajanku untuk ditabung.
Aku menabung hanya berjaga-jaga, jika sekolahku mengadakan acara atau semacamnya. Aku merasa lebih tenang jika berjaga-jaga.
Yah, terkadang orang menganggapku miskin karena hal itu.
Padahal, aku tidak semiskin itu.
Ayahku bekerja sebagai pegawai pabrik dan ibuku adalah ibu rumah tangga terhebat yang pernah aku kenal. Ayahku sudah berusaha mencari uang untuk keluarga, dan ibuku merawatku dengan sangat baik. Aku tidak pernah merasa keluargaku miskin.
Paling, hanya sederhana.
Bukan miskin, oke?!
"Eh, si Gembel lagi makan."
Oke, lagi-lagi mereka menggangguku. Ketua kelompok mereka yang bernama Rio mulai memasang wajah songongnya. Beberapa hari ini mereka tidak menggangguku, sejak ditegur Andra. Dan sekarang, saat Andra sedang marah denganku, mereka tiba-tiba kembali menggangguku. Aneh. Kebetulan yang sangat menyebalkan.
"Makan apaan, Lo?"
"Bagi, dong!"
"Malah diem!"
Aku berdecak. "Oh, ngomong sama saya?"
Rio langsung mengambil tempat makanku, dan menjatuhkannya ke lantai di depan mataku. Aku benar-benar ingin mematahkan tangan Rio, karena berani sekali membuang-buang makananku! Tapi, aku mana mungkin bisa? Aku tidak seberani dan sekuat itu.
"It's enough!" Seorang perempuan berteriak dengan kesal. "Kenapa sih kalian suka banget gangguin Andien? Kalian naksir sama dia, ya? Kalo naksir tuh bilang!"
"Ng-nggak, Chik! Amit-amit!"
Ya, Chika yang memarahi anak-anak menyebalkan itu.
Sulit dipercaya, tapi Chika sudah membelaku. Bukan Andra.
"Sekarang, bersihin kekacauan yang kalian buat! Dan, beliin makanan buat Andien di kantin. Buruan!"
"Enak aja! Lo pikir kita—"
"Berani, ya? Mau gue laporin ke Andra? Biar kalian bisa dijitak satu-satu, hmm?"
"IYA, IYA."
Anak-anak itu langsung membereskan nasi yang berserakan di lantai. Aku melihat nasi-nasi itu dengan sedih. Astaga, banyak orang kelaparan di luar sana, dan Rio malah membuang makananku ke lantai. s****n sekali.
Aku sebenarnya ingin sekali berteriak dan memaki-maki Rio, tapi entah mengapa aku sudah menyerah duluan. Aku tidak ingin bertengkar dengan siapa pun, bahkan Rio. Aku sangat ingin berdamai dengannya, tapi sepertinya menggangguku adalah hobinya. Jadi, tidak bisa kuhentikan.
"Lo harus berani ngelawan, Andien. Jangan diem aja. Kalo lo diem, mereka akan semakin menindas lo." Chika menepuk bahuku.
"Percuma. Mereka nggak akan dengerin kata-kata aku, Chika."
Mereka hanya akan menertawakanku.
“Lo pasti bisa marah, kan? Gapapa, Andien. Marah aja, teriak gitu ke mereka biar berhenti dan menjauh dari kamu. Jangan takut dianggap aneh, karena mereka kan yang salah. Kamu sama sekali nggak salah.”
Rasanya aku hampir ingin menangis mendengar kata-kata Chika. Dia benar. Aku seharusnya berani melawan orang-orang yang sering menggangguku. Aku kan tidak salah.
Chika pun merangkulku, lalu kembali memarahi geng Rio. "Kalo kalian berani ganggu Andien lagi, gue akan laporin kalian ke guru BK. Ngerti?"
"Kok lo belain dia sih, Chik? Tumben," celetuk salah satu dari anak-anak menyebalkan itu. Aku malas mengingat namanya.
"Emangnya nggak boleh? Andien tuh cewek, dan gue paling nggak suka kalo ngeliat cewek digangguin sama orang-orang kurang kerjaan kayak kalian." Chika menunjuk mereka satu persatu.
"Ini ada apaan lagi, sih?"
Aku menoleh dan melihat Andra yang sedang mengunyah permen karet. Astaga, dia jadi terlihat lebih cool.
"Andra! Mereka gangguin Andien lagi. Tempat makannya sampai mereka tumpahin ke lantai. Keterlaluan banget, kan?" Chika berlari dan mengadu pada Andra.
Andra memandangku datar, sebelum berucap, "Oh."
"Lo nggak marah, Andra?" tanya Chika. Dia juga terlihat bingung, sama sepertiku dan yang lain.
"Ngapain marah? Kan bukan urusan gue." Andra berdecak malas. Sepertinya dia sangat memasukkan kata-kataku tadi pagi ke dalam hati. Oh, jadi seperti ini jika Andra sedang marah? Aku baru tahu.
"Ta-tapi, biasanya lo—”
"Gue lagi nggak mood marah, Chik. Laporin aja mereka ke guru. Masalah selesai." Andra berjalan ke mejanya tanpa melirikku sama sekali.
Cih. Aku juga tidak terlalu berharap dibela olehmu, Kok! Dasar tukang ngambek!
So childish.
[]
Aku dengar kabar, kalau kamu sudah banyak berubah sekarang...
Itu membuatku lega.