Bab 6

762 Kata
Hari ini, aku berniat untuk meminta maaf pada Andra. Walau aku merasa yang aku lakukan kemarin itu tidak salah, tapi tetap saja aku telah membuatnya marah. Membingungkan, ya? Niatku menegurnya itu demi kebaikan, tapi mungkin kata-kataku kurang tepat baginya. Terlalu jahat. Dan, dia mungkin belum pernah mendapat teguran seperti itu dari perempuan mana pun. Karena kalian pun tahu, semua perempuan menyukai Andra. He’s such an actor on romantic drama. And me? Just an extra. Without a name. Tragic? YES.                 Jam enam lebih sepuluh.  Seperti perhitunganku, Andra masuk kelas dengan wajah yang masih mengantuk. Dia bahkan hampir menabrak meja. Ya ampun.                  "Apa lihat-lihat? Naksir?!" Andra mendelik tajam ke arahku. Astaga, tumben dia galak.                 "Kamu masih marah?"                 "Nggak," jawab Andra tersenyum, "cuma masih gondok."                 "Itu sama aja, Ndra." Aku tersenyum kecil. "Maaf, ya? Kemarin aku terlalu kasar sama kamu."                 "Kenapa minta maaf?" Andra menaikkan satu alisnya. "Gue kan emang salah di mata lo?”                 "Hah? Iya, tapi tetep aja gue udah bikin lo marah kemarin. Gue sadar, cara negur gue sedikit keterlaluan. Maaf, ya?” Aku sedikit meringis, memberanikan diri untuk menatap matanya yang lebar.                 "Udahlah, lupain aja." Andra mengibaskan tangannya. "Dan, gue juga harusnya yang minta maaf. Gue yang salah."                 “Nggak, gue juga salah.”                 “Gue yang salah, Andien.”                 “Nggak, Andra. Maaf, karena gue terlalu negative thinking.”                 Andra akhirnya mendengus geli. “Biasanya, orang tuh berdebat dan saling tunjuk kesalahan. Tapi, kita? Lo lucu banget, sih, Dien.”                 Andra akhirnya tersenyum. Ah, senyum itu membuat pagiku lebih indah.                 “Ha-ha, gue anggap itu pujian. Makasih.” Aku menunduk malu.                 “Itu memang pujian. Sama-sama.”                 Aku merasa sangat lega karena sudah berbaikan dengan Andra. Rasanya seperti lima kilo beras yang ada di punggungku, terangkat sepenuhnya. Whoa. Aku sangat berlebihan.                 “Lo udah ngerjain PR?” Pertanyaan Andra membuat aku tersadar.                 “Kenapa memangnya?” Dia mau menyontek PR-ku lagi?                 “Nanya aja. Gue udah ngerjain, kok! Hebat, kan?” Andra tersenyum lebar, pamer karena sudah mengerjakan PR dan seperti mengejekku karena sudah berburuk sangka beberapa detik yang lalu.                 “Wah, hebat sekali.” Aku tanpa sadar terkekeh pelan.                 Andra tiba-tiba terus menatapku. “Jarang banget gue denger lo ketawa. Hmm, menarik.”                 s**l, harusnya aku tidak tertawa. Aku bahkan tidak tahu bagaimana ekspresiku saat tertawa seperti tadi. “Menarik apanya?”                 “Lo pernah ngaca?”                 Deg.                 Pertanyaan Andra membuatku panik tiba-tiba. “Sorry, gue mau ke toilet.”                 “Eh? O-oke.”                 Aku kabur. Meninggalkan Andra yang mungkin semakin menganggapku aneh. Sesampainya di toilet, aku bercermin dan menatap pantulan wajahku. Ah, aku benci diriku.                 Pertanyaan Andra terus terngiang di telingaku. “Lo pernah ngaca?”                 “Pernah ngaca?”                 “Pernah ngaca?”                 Memang nada bicara Andra sangat lembut, bahkan tidak terdengar mau menilaiku jelek. Tapi, entah mengapa aku takut mendengar kelanjutan kata-katanya jika aku menjawab, “Pernah. Bahkan aku ingin sekali menghancurkan cermin setiap aku bercermin.”                 Aku harap. Andra tidak akan membahasnya lagi nanti. Aku takut. Aku takut dia akan menilaiku buruk rupa, pada akhirnya. Sama seperti yang lain.                   Oke, Andien. Kamu harus bisa menghadapi Andra seolah tidak terjadi apa-apa. Jangan sampai dia tahu, kalau kamu membenci dirimu sendiri. Pasang ekspresi sewajarnya, dan jangan tertawa di depannya lagi. Mengerti?                 Saat aku kembali ke kelas, ternyata sudah ramai. Banyak murid yang sudah datang dan berisik. Aku menutup telingaku dan duduk di kursiku. Aku benci keramaian. Kepalaku tersa berdenyut jika suasana terlalu berisik.                 “Sssttt, jangan pada berisik!” Andra tiba-tiba memukul meja dengan buku cetaknya yang tebal. “Sebentar lagi Bu Gendis masuk.”                 Suasana kelas mendadak hening. Mereka semua sangat menuruti kata-kata Andra. Wow, jabatan ketua kelas memang sangat cocok untuknya. Aku awalnya mengira ia terpilih, karena dia tampan. Tapi, ternyata saat kelas sepuluh dia juga sudah menjadi ketua kelas. Mungkin banyak yang memilihnya lagi, karena memang sudah tahu kemampuan Andra yang luar biasa. Sisanya, yang belum tahu kemampuan Andra—sepertiku, pasti memilihnya karena dia tampan. Pasti.                 Aku tanpa sadar menoleh ke belakang untuk melihatnya. Dan, kalian tahu apa yang Andra lakukan? Ia mengedipkan satu matanya saat mata kami bertemu. Astaga, aku hampir mengumpat. He’s so …  flawless.                 Aku pun kembali menatap ke depan, ke papan tulis kosong. Berusaha bersikap biasa saja dan santai. Namun, sialnya, jantungku tidak bisa santai. Ya, efek Andra sedahsyat itu. Aku tidak berlebihan, sungguh.                 Namun, saat aku sedang memperhatikan papan tulis, punggungku terasa panas. Seperti ada yang memperhatikanku dengan tajam. Aku pun menoleh ke belakang, dan melhat Rio—si cowok yang sering mengejekku—tiba -tiba membuang pandangannya ke jendela. Apa-apaan itu? Apa dia dari tadi memperhatikanku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN