Bab 7

966 Kata
Entah takdir atau apa, hari ini aku mendapat kelompok belajar Sosiologi bersama Andra dan Chika. Sistem pemilihan kelompok padahal sangat random, kita hanya memilih kertas dan yang mendapat angka yang sama akan menjadi satu kelompok. Aku mendapat angka tiga, sama seperti Andra dan Chika. Wow. Aku pasti sudah dikutuk.                 “Ih, enak banget sih si gembel bisa satu kelompok sama pangeran kita.”                 “Kasihan Andra, pasti dia merasa nggak nyaman sekelompok sama gembel.”                 “Boleh tuker kelompok nggak, sih? Nggak adil, nih.” Aku berusaha menulikan telingaku, agar tidak mendengar semua cibiran orang-orang itu. Cukup, aku juga sebenarnya tidak mau satu kelompok dengan Andra dan Chika. Aku bahkan lebih memilih mengerjakan semuanya sendirian. Aku bisa, kok.                 Bel pulang berbunyi, Andra dan Chika tiba-tiba sudah berdiri di dekat mejaku. "Kerja kelompoknya di rumah gue aja," ujar Andra ramah.                 “Mau langsung dikerjain hari ini? Kan masih minggu depan dikumpulnya?” tanyaku bingung.                 “Aduh, Andien. Lebih cepat, lebih baik!” Chika membantu Andien membereskan buku-bukunya. “Ayo, cepet, rumah Andra tuh nyaman banget buat belajar, lho!”                 “Alah, bilang aja lo mau ketemu adek gue.” Andra berdecak.                 "Ya, emang! Adek lo yang unyu banget sih, An!" Oh, ternyata ini alasan Chika.                 "Idih, unyuan juga gue." Andra terkekeh. "Yaudah, ayo," ujar Andra lalu melirikku.                 "Ayo, Andien. Kenapa masih bengong?" Chika menarik tanganku, dan mengajakku berjalan bertiga bersama Andra juga.                 Ini aneh.                 Rasanya aneh, bisa berjalan di tengah-tengah kedua orang  yang begitu bersinar seperti mereka. Apa aku sedang bermimpi? Siapa pun, tolong cubit pipiku dengan keras.                 "Heh, di sini udah sepi, nggak ada anak-anak. Nggak usah sok mesra sama gue deh, An." Chika tiba-tiba melepas tangannya yang dari tadi mengamit lengan Andra.                 A-apa?                 "Yah, lo udah membongkar rahasia kita di depan Andien. See? Dia keliatan bingung."                 Aku memandang Andra dan Chika bergantian. Raut wajah keduanya sama-sama geli. Apa ini sebuang prank? Di mana kameranya?                 "Andien, gue sama Andra tuh nggak ada apa-apa. Semoga lo nggak salah paham kayak anak-anak yang lain, ya." Chika merangkulku dengan akrab.                 Sepertinya, aku sudah banyak salah paham dengan mereka. *** Sesampainya di rumah Andra, aku dan Chika duduk di ruang tamu. Sedangkan Andra katanya mau mengambilkan minum untuk kami. Oh, baiknya.                 Setelah Andra kembali dan duduk di sebelah kiriku, Chika yang duduk di sebelah kananku tiba-tiba menepuk bahuku. "Gue sepupuan sama Andra, Dien. Emang nggak mirip, sih. Makanya nggak ada yang tau kalo kita sodaraan."                 Aku hanya terbengong-bengong mendengar penjelasan Chika. Terdengar suara tawa pelan Andra yang langsung membuat aku menutup mulutku.                 "Nyokap gue sama nyokap Chika itu adik-kakak. Mungkin kita nggak mirip karena nyokap Chika nikah sama bule."                 "Iya, betul."                 Aku masih diam dan bingung untuk bereaksi. s**l, aku merasa bodoh karena tertipu oleh mereka. Aku bahkan sempat cemburu!                 "Dien? Are you okay?" Andra menyentuh dahiku dengan telapak tangannya. "Lo sakit?"                 Aku rasanya mau pingsan detik ini juga. Andra. Menyentuh. Dahiku. Siapapun, tolong bilang ini bukanlah mimpi.                 "Lo sih, An!" Chika memberiku segelas air. "Minum, Dien. Air putih bagus untuk kesehatan."                 "Iya, iya. Minum." Andra menurunkan tangannya dari dahiku. Ia merebut gelas yang Chika pegang, dan mengarahkan gelas itu ke mulutku. "Lo nggak suka air putih?"                 "Su-suka. Suka banget." Aku memegang gelas yang Andra juga pegang. Aku meminum air dengan perlahan dan jantung yang malah rasanya mau meledak.                 "Lo kenapa syok banget sih, Dien? Jangan-jangan ... lo suka ya sama Andra?"                 Aku langung tersedak, Andra langsung memelototi Chika. "Chik, jangan ngaco. Andien jadi keselek, nih."                 "Ya, sori. Lo nggak apa-apa, Dien?"                 Aku tersenyum memandang Chika. "I'm fine."                 Tiba-tiba mereka berdua terdiam memandangku.                  What's wrong?                 "Senyum lo manis banget." Andra berucap sambil terus memandangku. Astaga, apa dia sedang bercanda? Manis? Dia baru saja memujiku? Maksudku, itu sungguh pujian? Dia tidak bermaksud mengejekku, kan?                 "Iya, Dien. Senyum lagi, dong! Please..." Chika memandangku penuh harap.                 "Nggak, ah. Ngapain?" Aku menunduk, karena merasa senyumku tidak semanis itu. Mereka berlebihan.                 "Senyum itu ibadah, lho. Jangan malu, senyum lo beneran manis." Dua kali! Andra memujiku dua kali! Aku rasanya ingin pingsan.                 "Kasih tau gu-gue dulu, kenapa kalian pura-pura mesra di kelas? Untuk apa?" tanyaku sedikit ragu.                 "Iseng aja," jawab Andra dan Chika kompak. Mereka lalu tertawa sambil ber-high five.                 "Iseng? Why?" Aku masih bingung.                 "Gue kan baru pindah ke sekolah Andra pas kelas sebelas. Terus pas lihat Andra, gue reflek meluk dia. Dan jadilah orang-orang pada nanyain gue itu siapanya Andra. Yaudah, gue jawab aja kalo gue ini temen masa kecilnya Andra."                 "Gue sebenernya nggak suka ditempelin sama dia. Gara-gara dia, cewek yang deketin gue jadi berkurang. Nggak seru," ujar Andra melirik Chika dengan kesal.                 Chika langsung menjitak kepala Andra. "Lo harusnya berterima kasih! Gue tuh menjauhkan lo dari dosa, An!"                 "Lo mulai terdengar kayak Bang Indra. Sok alim."                 "Lagian, lo nggak tobat-tobat. Gue udah larang lo buat pacaran sama cewek nggak jelas. Tapi, lo masih berani aja pacaran diem-diem di belakang gue."                 Andra terkekeh. "Biarin."                 "Sekarang siapa pacar lo? Cepet putusin! Kalo nggak, gue akan telepon Bang Indra biar dia ngomelin lo."                 "Anceman lo ngeselin!" Andra mendengus. "Iya, iya. Besok gue putusin. Ini nih yang bikin citra gue jelek! Padahal gue mau pacaran yang lama sama mereka, tapi lo maksa gue buat putus mulu padahal baru beberapa hari."                 "Bodo amat. Dasar sok ganteng."                 "Gue emang ganteng." Andra menjulurkan lidah mengejek Chika. Aku tiba-tiba terkekeh. Mereka berdua bertengkar, tapi kenapa sangat lucu?                 "Eh, Andien ketawa." Andra tersenyum miring menatapku. "Apa yang lucu, hmm?"                 "Pertengkaran kalian." Aku tersenyum. "Di sekolah, kalian keliatan jaim dan mesra. Nggak nyangka aja aslinya kayak gini."                 "Ah, Andien. Lo nggak nyangka ya kalo Andra aslinya rada stress?" Chika merangkulku, dan ucapannya membuatku tertawa lepas.                 Apalagi saat melihat wajah Andra yang terlihat tidak terima dibilang 'stress'. Wajahnya lucu sekali. [] Aku saat itu akhirnya bisa merasakan rasanya memiliki teman untuk berbagi tawa. Mereka berdua temanku. Walau, salah satunya kini bukanlah temanku lagi...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN