Bobi memandang Alamanda yang melangkah takut-takut ke arahnya. Danendra menawarkan diri menemaninya, menjelaskan sesuatu jika memang Bobi telah salah paham padanya. Namun gadis itu menolak. Tadi pagi ia yang kesal dan bersungut-sungut saat dihubungi Bobi via ponsel. Sekarang ia seharusnya masih kesal padanya. Namun amarah Alamanda luntur digantikan rasa bersalah. "Sudah sejak tadi?" kata Alamanda. "Di mana mobilmu?" Bobi tidak menjawab. Ia melihat Danendra yang masih berdiri memegang setir sepeda di depan pagar. "Kenapa dia tidak kau ajak masuk? Bukankah kalian biasa bekerja bersama?" "Oh, itu." Alamanda melirik penuh perhitungan pada keempat pekerjanya. Mereka membalas tatapan itu dengan senyum terkulum. "Kemarilah," kata Bobi. "Kau yang berdiri di sana." Danendra membutuhkan

