Berlin, Jerman “Aku menunggumu di luar.” Ujar Deny lalu keluar dari tempat perawatan kecantikan, meninggalkan Claire yang akan melakukan perawatan pada tubuh dan wajahnya sebelum hari pernikahan mereka esok hari. Deny berjalan menyusuri trotoar setelah melihat sebuah coffee shop di seberang jalan. Ia berjalan menuju zebra cross lalu menyebranginya bersama kerumunan orang yang lalu lalang dengan langkah panjang. Walau siang, Berlin tidak semacet Jakarta. Kota yang penuh sejuta pesona itu akan membuat siapapun betah dan ingin berlama-lama di sana. Namun berbeda dengan Deny, sudah tiga hari lamanya di sana, ia merindukan Indonesia. Merindukan kawan satu timnya, makanan favoritnya dan wanita yang sejak dulu bersemayam di hatinya. Mela. Deny memang tidak menghubungi mereka setelah kehila

