Iloya menghembuskan napas pasrah, lalu menatap Rainer agak takut. "Bahkan pangeran Dar sudah tahu kalau saya bukan Mariana." Iloya terus memandang wajah Rainer, dia menunggu Rainer mengeluarkan makian atau paling tidak bentakan. Namun, setelah beberapa saat menunggu, Iloya hanya melihat wajah datar Rainer. Ada apa? Iloya berkedip bingung. Iloya tersentak saat merasakan tubuhnya tertarik, lalu disusul oleh rasa hangat dari dekapan yang baru sekarang dia sadari rindukan. Iloya bahkan mendengar napas berat Rainer di sebelah telinganya. "Saya tidak peduli dengan apapun lagi. Ada yang lebih penting dari itu semua." Rainer berbisik parau. "Apa itu?" Rainer mengurai pelukannya agar dapat melihat wajah Iloya. "Jangan pernah pergi dari saya!" Rainer tersenyum kecut saat tidak mendengar ada

