Iloya nyaris pingsan saat mendengar penjelasan dari Rainer barusan. Bagaimana bisa laki-laki ini mengucapkan tentang betapa bahayanya racun yang baru saja tertelan olehnya ini dengan wajah serta suara sesantai begitu? Iloya menghembuskan napas pasarah, dia terduduk di atas ranjang sambil menekan dadanya menggunakan sebelah telapak tangannya. Sedangkan satu tangannya yang lain mengusap titik-titik air mata yang berjatuhan dari matanya. Iloya berkata penuh kerapuhan, "padahal saya masih ingin melakukan banyak hal, tapi apalah daya. Kalau saya lumpuh, silahlan kamu cari istri baru karena saya sudah tidak bisa melayanimu lagi." Rainer memutar bola mata malas. "Tenanglah! Saya punya penawarnya." Saat itu juga Iloya langsung menatap Rainer penuh binar, "mana?" Rainer menunjuk lehernya sen

