Bab 2. Penyatuan pernikahan

1105 Kata
Setelah terjadi keheningan cukup lama, akhirnya Iloya dapat sedikit bernapas lega begitu melihat ada pergerakan dari laki-laki yang dia anggap Raja Rainer van Alterion itu. "Apa tujuan kamu ingin menjadi istriku?" Rainer bertanya setelah keterkejutannya sedikit bekurang. "Saya tau kamu mengetahui kalau saya ini bukan Mariana yang kamu maksud. Jadi, tidak ada salahnya saya memanfaatkanmu agar melindungiku dari dunia yang bagi saya masih awam ini." Iloya mengedipkan sebelah mata genit, "kamu tampan, saya suka orang-orang tampan." Rainer sedikit mengerjapkan mata begitu mendengar kejujuran Iloya. Dia agak tidak menyangka gadis yang entah memasuki tubuh Mariana atau Iloya ini adalah Mariana dalam dimensi lainnya begitu terbuka dengan alsan tujuannya. "Apa yang bisa kudapatkan dari menikahimu?" Iloya menggaruk kepalnya yang sama sekali tidak gatal. Sejujurnya tadi dia hanya refleks mengajak laki-laki ini menikah karena sempat memikirkan nasibnya yang terdampar di dunia penuh mitos ini. Kalau masalah nasib akhir Mariana dalam karangan aslinya, Iloya yakin dapat mengubahnya dengan cara menjauhi para tokoh utama. Lagipula laki-laki ini sangat tampan, pasti mudah baginya untuk jatuh cinta. Iloya mengingat-ngingat setiap alur cerita dari karangan fantasy yang semalam dia baca. Dikatakan kalau Raja Rainer van Alterion ini begitu mencintai Putri Clarissa sang tokoh pemeran utama wanita dalam karangan fantasy Love Of The Vampire Lord sampai rela menumbalkan dirinya yang bersetatus Raja Bangsa Serigala agar dianggap sebagai orang di balik dari kudeta-kudeta yang dilakukan para bawahan kerajaan yang dipimpin oleh Raja William de Atlantaka demi membersihkan nama baik Putri Clarissa verions yang dituduh dalangnya. Miris. Iloya menggelengkan kepala pelan. Kenapa laki-laki setampan dia bisa rela melakukan hal bodoh seperti itu? Dia jadi penasaran, secantik apa Putri Clarissa itu. "Jadi, apa yang bisa kudapatkan nona?" Iloya merutuki dirinya yang malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia kembali mengingat-ngingat alur cerita yang bisa dia jadikan senjata untuk mempertahankan hidupnya. Hm, Raja Serigala ini begitu kuat dan tak terkalahkan, tapi satu kelemahannya yaitu cinta untuk sang Putri. Putri Clarissa itu tidak sebaik yang orang-irang kira, dia licik dan manipulatif. Demi tahta dan pembalsan dendam, dia sengaja memanfaatkan semua orang yang memberikan cinta dan kasih agar menjadi tameng dibalik topeng busuknya. Mungkin Iloya bisa memanfaatkan hal itu. Sebelum dicoba, kenapa harus menyerah? "Saya mengetahui banyak informasi yang orang lain tidak banyak ketahui, termasuk mengenai Putri Clarissa. Kalau kamu siap menjadikan saya istri, semua informasi yang saya ketahui bisa kamu ketahui juga. Bagaimana?" "Saya tidak membutuhkan informasi itu." Ucapan datar itu membuat Iloya melotot tak percaya. Bagaimana bisa Raja Serigala ini tidak menginginkan informasi mengenai gadis yang dicintainya setengah mati itu. Apakah otaknya terganggu akibat benturan sengaja yang Iloya tadi lakuakan? "Kalau kamu tidak butuh informasi apapun, maka saya tidak bisa memberikanmu apa-apa." Iloya menundukkan kepala pasrah. Mungkin hidupnya di dunia ini memang sampai di sini. Hidup sendiri tanpa tau tujuan dan berakhir dimangsa vampir, miris sekali. "Kalau kamu bisa memberikan darahmu, maka akan kupertimbangkan." Spontan Iloya mengangkat kepala. "Apa? Darahku? Maksudnya saya ditumbalkan dulu jadi santapan para vampir." Iloya mendelik pada laki-laki itu murka. "ENGGAK!" "Kapan saya berkata begitu?" Laki-laki itu menjawab dingin. "E-eh?" Iloya bertanya bingung. Laki-laki itu menampilkan raut tak terbaca saat menatap Iloya. "Saya ingin kamu mengijinkan saya mengambil darahmu pada setiap bulan purnama, dengan begitu maka saya akan menikahimu." "Apa bedanya?" Iloya kembali sewot saat darah itu kembali di ucapkan. Mau vampir atau serigala, kalau darahnya sama-sama di sedot itu tetap mengerikan. Bisa kurus kering nanti dia. "Kalau begitu lupakan apa yang kamu minta barusan!" Suara laki-laki itu terdengar makin dingin. Iloya merasa ini bukan situasi yang baik. Dia bimbang, tidak tau harus mengambil keputusan yang mana. Seperti buah simalakama, tidak menguntungkan pada pilihan dua-duanya. "Baiklah, kapan kita akan melangsungkan pernikahannya?" Iloya memutuskan untuk menerima persyaratan itu. Lagi pula dia tidak dapat memastikan kedepannya akan selamat kalau tidak berada di bawah perlindungan Raja Serigala ini. "Sekarang!" Sekali lagi Iloya dibuat kaget. Melangsungkan pernikahan sekarang? Iloya melotot tak percaya. Dia kira pernikahan ala Raja akan dihadiri seluruh rakyat serta diadakan di Istana? Nyatanya itu hanya angan Iloya yang terlalu tinggi. Apa boleh buat. Asal dia selamat, di manapun menikah itu tidak jadi masalah. "U-untuk apa pedangang itu?" Iloya tergagap karena ngeri saat melihat laki-laki itu mengeluarkan pedang dari sarungnya. Tanpa berkata apa-apa, laki-laki itu mengarahkan mata pedang pada area telapak tangannya. "STOP!" Iloya berteriak panik. "Kalau cara pernikahan yang kamu maksud dengan cara memotong masing-masing jari, saya menyerah. Saya tidak mau menikah dengan cara main ekstrim seperti itu!" Iloya mengangkat kedua tangan keatas kepala. Bahkan matanya sudah bergetar dengan keringat dingin yang keluar sebesar biji jagung. Tanpa mempedulikan keengganan Iloya, laki-laki itu tetap melakukan rencananya. Dia menggores telapat tangannya hingga darah merembes keluar dari bekas sayatan itu. Melihat darah keluar dengan deras, Iloya ketakutan. Bukan hanya mata yang begetar, bahkan kini tubuhnyapun sudah bergetar hebat dengan kepala mulai dilanda pusing. Entah apa alasannya, sebelum dia ada di tubuh Mariana sebenarnya Iloya sudah mempunyai hemophobia atau phobia darah. Dan itu cukup mengganggu di saat waktu tidak tepat, misal sekarang. "Ulurkan tanganmu!" "TIDAK! Kamu gila! Walaupun bukan jarinya yang dipotong, tapi tetap saja apa yang kamu lakukan barusan akan terasa sangat sakit. Saya tidak mau!" Iloya melindungi tangannya posesif. Dia menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuh. "Kita tidak punya banyak waktu. Cepat ulurkan tanganmu!" Laki-laki itu melihat sekelilingnya. Merasakan aura kuat yang semakin mendekat, dia kembali menatap Iloya tak sabar. Iloya kekeh menyembunyikan tangannya. Bahkan kini kakinya melangkah mundur. Tak sadar, dia menginjak batu lalu terjatuh. Dia meringis saat merasakan telapak tangannya tergores, begitu ia lihat ternyata benar telapak tangannya terluka. "Da-darah," suara Iloya bergetar. "Sial!" Laki-laki itu mendesis begitu merasakan aura musuhnya sudah berada dijarak dekat dengan pesat. Dia tidak mungkin bisa kabur membawa Iloya sebelum penyatuan itu dilakukan. Selain bahaya akan darah Iloya yang manis dapat mengundang para vampir semakin banyak berdatangan, juga kekuatannya saat ini melemah karena dengan sengaja membuat luka untuk penyatuan. Cara satu-satunya dia bisa membawa Iloya pergi sekaligus memulihkan kekuatannya adalah dengan cara penyatuan itu. Secepat kedipan mata, laki-laki itu sudah berjongkok di depan Iloya yang tengah terduduk. Segera dia menyatukan telapak tangannya dengan telapak tangan Iloya. Setelah menunggu beberapa saat, warna keemasan muncul dari kedua tangan yang menyatu itu. "Sekarang kita pasangan suami istri yang sah. Persiapkan dirimu!" "Apa?" Iloya bertanya pelan. Penglihatannya mulai mengabur seiring kesadaraannya yang mulai melemah. Sebelum matanya benar-benar tertutup, dia melihat banyak orang dengan baju serba hitam mulai berdatangan mengepung dia dan laki-laki yang baru saja mengumumkan pernikahan padanya. "Tidurlah! Saat kita nanti sudah berada di istanaku, saya akan membangunkanmu." Sebelum tubuhnya menyentuh tanah, Iloya merasa seseorang memeluknya. Perlahan tubuhnya dibaringkan di atas tanah. Dalam gelap dia mendengar suara berisik orang saling memukul keras. Semakin lama, suara itu makin mengecil sebelum sepenuhnya terganti dengan kesunyian. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN