Bab 3. Darah istimewa

1189 Kata
Iloya mengerjapkan mata saat cahaya silou masuk keretinanya. Setelah penglihatannya pulih, dia mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Waw, inikah yang dinamakan surga. Lihatlah semua perabotan yang terlihat antik dan mahal itu! Seketika mata Iloya berbinar cerah. Iloya adalah gadis penyuka uang. Apapun akan dia lakukan agar dapat menghasilkan uang, termasuk pekerjaannya menjual ikan cupang kecil yang selalu dipergunakan anak-anak untuk main laga. Kehidupan yang serba pas-pasan memaksa Iloya untuk lebih bekerja keras saat ada kemauan, maka Iloya akan menawarkan diri menjadi pengasuh dadadakan, pembersih rumah dadakan, dan dadakan-dadakan lainnya yang para tetangga butuhkan. Itu semua dia lakukan demi memenuhi kebutuhan hidup di kota serba pakai uang ini. Dia hidup sendiri, nenek yang merawatnya sudah meninggal 10 tahun lalau saat usianya 13 tahun. Di usia kecil seperti itu, Iloya harus bertahan hidup seorang diri. Kehidupan kota yang keras membuat Iloya tumbuh menjadi wanita yang gemar mengumpulkan uang demi memasok hidup. Iloya mendesah kesal. Kalau tau dia berpindah tubuh, kenapa tidak pada orang kaya agar dia dapat merasakan punya uang banyak? Kenapa pula pada tubuh Mariana yang hanya penjual bunga. Kalau begini caranya lalu apa bedanya Iloya dulu si pdnjual ikan cupang dan Mariana si penjual bunga, sama-sama hidup pas-pasan 'kan? Eits. Namun, tidak lama Iloya mengembangkan senyum teramat lebar. Walaupun dia tadi diambang kesadaran, tapi tentu saja pendengarannya masih normal. Kalau saat ini dia istri dari seorang Raja Serigala, berarti dia kaya dong. Asyiiik, Iloya bersorak dalam hati. Iloya membelai kasur yang dia tiduri. Hm, halus dan empuk. Mahal pasti harganya, kalau dijual pasti laku keras dengan harga fantastis. Dia mendekati sebuah cermin, di sana berdiri seorang gadis dengan surai putih dan wajah cantik. Iloya membelai pipinya, ternyata wajah Mariana sama persis dengan wajah Iloya. Namun, wajahnya dulu sangat dekil dan kusam dan sekarang versi mulus dan bersih. "Kalau gue bersih dan putih gini, ternyata cantik juga." Iloya bergumam jenaka di depan cermin. Melihat banyaknya barang berharga yang memungkinkan dapat menjadi uang, seketika Iloya lupa daratan. Dia bangun dari tidurannya dan menghampiri sebuah guci disudut ruangan. Iloya membelai mesra guci itu seolah kekasih yang sangat dicintainya. Satu miliar pasti laku ini guci, Iloya membatin girang. "Kamu membelainya seolah itu adalah kekasihmu." Suara menyebalkan yang mengganggu kekaguman Iloya pada guci mahal kesayangannya itu datang dari arah belakangnya. Iloya berhenti mengelus guci, dia mencebikan bibir lalu berdiri. Namun, saat memutar tubihnya menghadap kearah si pengganggu yang berdiri di ambang pintu dengan mahkota dan baju kebesarannya yang tertutup jubah perak panjang berbulu, tentu saja raut wajahnya sudah kembali normal seolah tidak kesal sama sekali. "Mana ada guci itu kekasih saya," Iloya tertawa paksa. "Kamu suami saya, tentu saja kekasihku." Tawa Iloya semakin lebar. Namun, kali ini bukan tawa paksa melainkan tawa takut begitu melihat seringaian yang laki-laki itu tunjukan. "Em, ngomong-ngomong nama kamu Rainer van Alterion, kan?" Bukan maksud apa-apa Iloya menanyakan namanya, hanya saja dia takut salah menyangka. "Ya." Rainer menjawab acuh. Iloya sontak menghembuskan napas lega. "Saya kira kamu yakin mengetahui namaku?" Reiner melipat tangan di depan d**a dengan mata menyipit menatap Iloya. Iloya mengibaskan tangannya acuh. "Mana ada. Bertemu kamu juga pertama kali, lalu gimana caranya saya bisa yakin?" "Jadi, kamu hanya asal menebak?" Mendengar nada geram Rainer, Iloya pura-pura tidak mendengar dengan menyibukan diri melihat barang-barang indah dan terlihat mahal lainnya. Reiner memperhatikan Iloya yang mulai kembali melihat barang-barang yang ada di kamarnya. Tangan nakal Iloya menyentuh setiap apa yang terlihat glitter oleh matanya. Rainer mendengus tak percaya, kenapa gadis ini malah lebih tertarik pada benda-benda itu daripada dirinya yang seorang Raja sekaligus suaminya? "Kamu mengabaikan suamimu, Istriku?" Aktivitas Iloya yang hendak mengusap pahatan bulan sontak terhenti. Dia menarik kembali tangannya, lalu berjalan menghampiri Rainer yang masih berdiri di ambang pintu. Rainer mengernyit tak percaya dengan apa yang baru saja Iloya lakukan. Apakah sekarang dia tengah diseret oleh manusia yang bernamakan istrinya? Rainer mendengus tak berdaya. Dia ini adalah seorang Raja yang ditakuti, setiap perintahnya adalah mutlak bagi semua rakyatnya. Namun, gadis yang baru sehari dia nikahi sudah seberani ini. Apakah Rainer harus menyiapkan hukuman untuk orang yang telah berani kurang ajar padanya? Rainer menyeringai, sepertinya itu ide bagus. "Gini kan lebih enak. Dari pada kamu bicara dari ambang pintu? Kelihatan sekali kamu tidak punya tata krama. Ingat! Kamu itu Raja, penting menjaga sikap." Dengan baiknya Iloya memberi nasehat. Istri idaman, memang. "Baiklah. Karena istriku yang langsung mengajariku mengenai tata krama, maka ada baiknya dia juga menerapkan tata krama kewajiban seorang istri pada suami." Rainer menyeringai licik. "Sekarang, layani suamimu ini istriku!" "Ho ho, suamiku ini sangat manja, ternyata." Iloya tertawa dibuat-buat. Kemudian dia membuang wajah kesamping, "alamak, apa dia minta yang begituan?" Iloya menggumam panik. "Bukankah itu kewajibanmu?" Iloya kembali menoleh ke arah Rainer, "benar sekali, suamiku." dengan semangat dia mengangguk membenarkan perkataan Rainer. "Akan tetapi, apakah Yang Mulia Raja ini tidak ada kesibukan lain. Misalnya rapat mengenai perang atau berlatih, gitu?" "Tidak." "Tidak?" Iloya kecewa dengan jawaban Rainer. Padahal dia berharap Rainer sibuk, sesibuk-sibuknya agar tidak mengganggu waktunya dalam menghitung barang mahal yang sudah tersusun rencana investasi di otak cantiknya. Dia kembali memutar otak untuk menemukan alasan cantik mengusir Rainer. Buntu. Iloya tidak dapat menemukan alasan pas karena otaknya sekarang terlalu penuh dengan nominal uang. Di saat Iloya berpikir keras, seorang laki-laki dengan pakaian berbulu mencapai betis datang membungkuk hormat. "Hormat hamba Paduka Yang Mulia Raja Rainer van Altarion. Mohon maaf telah mengganggu waktu Yang Mulia Raja bersama Yang Mulia Ratu. Hamba datang menghadap ingin menyampaikan informasi penting dari tim pasukan selatan." Iloya menoleh ke arah Rainer yang mengeluarkan geraman seperti hewan buas. Dia tidak dapat untuk tidak meringding ngeri. "Katakan!" Rainer mendesis dingin, bahkan aura dari kemarahannya menyebar keseluruh ruangan. Mendengar nada teramat dingin milik Rainer, pengawal itu hampir ambruk karena lututnya bergetar ketakutan. Namun, demi martabatnya sebagai pengawal terpilih, sekuat tenaga dia mempertahankan posisinya saat ini. "Bangsa vampir sudah mengendus sampai perbatasan selatan. Mereka melumpuhkan sebagian besar orang-orang kita, akibatnya keseimbangan kekuatan di perbatasan selatan tidak stabil." Pengawal itu semakin menundukan kepala saat menyampaikan berita paling besar yang dia bawa. "Mereka juga sudah mengetahui kalau Ratu Mariana lah pemilik darah istimewa itu." "Kurang ajar!" Rainer mengepalkan tangan kuat sampai urat-uratnya menonjol. Barang-barang dalam ruangan perlahan terangkat seiring kemarahan Rainer yang semakin kuat. Iloya melotot tak percaya begitu patung bulan yang dia yakini berharga jutaan itu pecah, lalau tidak lama disusul guci dan lampu. Tidak! Uangku! Iloya nenar-benar menangis. "Tambah pasukan dan perketat penjagaan! Jangan biarkan satu vampir pun bisa melewati dinding penghalang!" "Baik, Yang Mulia. Kalau begitu Hamba undur diri." Setelah mendapat anggukan dari Rainer, dengan secepat kilat pengawal itu menghilang. Iloya bahkan belum sempat mengedipkan mata, pengawal itu sudah tidak nampak di tempatnya semula tadi. Melihat ada jejak air mata dalam mata Iloya, Rainer merasa bersalah karena membiarkan Iloya ketakutan. "Jangan takut! Saya pastikan para vampir itu tidak akan menyentuhmu sedikit pun." Siapa yang menangis karena ketakutan? Hei, saya menangis karena sumber uangku sudah kamu hancurkan. Dasar bodoh! Iloya memaki dalam hati. "Saya harus pergi. Nanti ada pelayan yang akan mengurusi semua kebutuhanmu. Jadi, buatlah dirimu nyaman." Rainer menghilang sekedip mata dari hadapan Iloya. Iloya yang ditinggal sendiri hanya bisa terduduk meratapi patung bulan dan guci yang sudah hancur. Uangku! Sekali lagi Iloya menagisinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN