Fokus meratapi sumber uangnya yang tinggal puing-puing, Iloya tidak menyadari dua pelayan masuk ke dalam kamarnya dengan membungkuk hormat.
Salah satu dari mereka yang berbadan berisi melirik temannya yang berbadan lebih kurus. Dia bertanya lewat mata seolah mengatakan 'apakah Ratu dan Raja bertengkar?'. Namun, hanya dijawab gedikan bahu oleh temannya.
"Maaf mengganggu, Yang Mulia Ratu." Pelayan dengan badan berisi memberanikan diri angkat bicara karena dia dan temannya sudah setengah jam menyaksikan Ratu baru mereka menangis di depan serpihan patung bulan.
Mendengar ada yang memanggil, buru-buru Iloya menghentikan tangisan alaynya dan berdiri. Dia membersihkan baju mengembangnya yang sedikit kotor, lalau menatap dua orang asing dengan pakaian khas pelayan itu bergantian. "Tidak apa-apa. Kalian mau apa?"
"Perkenalkan saya Mura," pelayan dengan badan berisi itu lalu menoleh ke arah temannya yang berdiri di samping kananya. "dan ini Misako. Kami pelayan yang akan membantu Yang Mulia Ratu membersihkan badan sekaligus mendandani."
"Maksudnya menyabuni saya mandi?" Iloya melotot terkejut.
Mura dan Misako saling pandang. Seolah berkompromi, matanya memancarkan pertanyaan serupa 'apa ada yang salah? Kenapa Yang Mulia Ratu begitu terkejut?'. Namun, tak urung mereka mengangguk membenarkan.
Membayangkan badannya digerayangi oleh sesama perempuan, Iloya tidak dapat untuk tidak merinding. "Tidak perlu sampai segitunya, kalian cukup diam di depan pintu saja. Selebihnya biar saya mengurus diri saya sendiri, ok?"
Mendengar penolakan dari sang Ratu, sontak Mura dan Misako berlutut meminta ampun. Mereka menangis ketakutan, "ampun Yang Mulia Ratu. Mohon maafkan kami yang belum bisa memberikan kepuasan pada Yang Mulia Ratu. Kami pantas dihukum, kami sangat pantas di hukum Yang Mulia Ratu."
Iloya menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Kenapa reaksi kedua pelayan ini begitu berlebihan? Dia hanya ingin mandi sendiri, bukan tidak puas akan pelayanan mereka.
"Kalian tidak usah berlutut begitu, ayo berdiri!" Iloya menghampiri Mura dan Misako lalau membantunya berdiri. "Saya bukan tidak puas akan pelayanan kalian, hanya saja saya risih bila mandi ada yang menemani karena sudah terbiasa melakuakan apapun sendiri."
Mura dan Misako akhirnya dapat bernapas lega. Mereka sangka sang Ratu tidak ingin dilayani bila pelayannya mereka berdua. Dengan wajah berseri, Mura kembali angkat suara, "Yang Mulia Ratu tidak usah risih, kami memang ditugaskan untuk melayani sekaligus mematuhi perkataan Yang Mulia Ratu. Kalau Yang mulia Ratu tidak ingin kami temani mandi, maka kami akan mematuhi sesuai apa yang Yang Mulia Ratu inginkan."
Iloya mengangguk puas. "Ya sudah kalau begitu, saya mandi dulu. Badan saya rasanya lengket."
"Baiklah, kami akan menyiapkan pakaian ganti untuk Yang Mulia Ratu." Kini giliran Misako yang angkat suara.
"Ya, baikalah."
Iloya masuk kedalam ruangan yang disebut ruang pemandian. Iloya menggelengkan kepala takjub. Ternyata yang disebut oleh mereka sebagai tempat pemandian adalah sumber mata air panas yang muncul dari dalam tanah dan membentuk kubang atau kolam.
Iloya membuka semua bajunya tanpa meninggalkan sehelai benang pun, lalau mulai mencelupkan satu kakinya. Agak panas, tapi tidak sampai membuat kulit kepanasan. Iloya memasukan kedua kakinya, lalu berdiri. Ternyata pemandian ini hanya mencapai d**a. Namun, karena adanya pijakan , jadi Iloya dapat merendam tubuh sampai mencapai batas d**a sambil duduk di atas pijakan.
Sensasi hangat yang menyentuh kulitnya serasa menghilangkan pegal serta penat yang dia alami seharian ini. Nikmatnya, Iloya mendesah keenakan.
Ketika ingin menjangkau wadah yang dia perkirakan sabun mandi cair, Iloya kesusahan menjangkaunya. Terpaksa dia berdiri hingga tubuh telanjangnya terekspos. Namun, Iloya bodo amat, toh di ruangan ini hanya ada dirinya seorang.
"Gini, nih. Baru rasanya orang kaya. Kalau dipikir-pikir, si Rainer itu bodoh juga, ya. Masa mau-mau saja nikah sama gue? Kalau gue jelas dapat berkah bisa nikah sama orang ganteng, Raja, tajir melintir pula. Nah, dia. Ho ho, gue versi Mariana emang menawan, tapi gue ini miskin, gak punya pangkat, hidup melarat, berakhir tragis lagi. Hadeh, gak ada bagus-bagusnya." Iloya terus mengoceh tidak jelas di sela menggosok tubuhnya.
Namun, saat menggosok bagian lengan atas kirinya, Iloya mengernyit karena mendapati tanda lahir berbentuk bulan sabit sama persis dengan tanda lahir pada tubuhnya sebelum memasuki tubuh Mariana. "Ternyata tubuh Mariana juga memiliki tanda lahir yang sama dengan tubuh gue yang dulu."
Setelah membilas tubuhnya, Iloya merasa rambutnya juga harus keramas. Dia menimang-nimang dua botol, yang satu beraroma mawar dan satu lagi beraroma lavender. Mengedikan bahu acuh, Iloya memakai yang beraroma lavender untuk rambutnya.
Merasa badannya sudah bersih, dengan santai dia keluar dari pemandian air hangat. Dia melihat ada jubah mandi berukuran sangat besar, kalau dipakai olehnya mungkin bisa menenggelamkan tubuh.
"Pasti ini milik Rainer. Hm, pakai sajalah." Iloya bergumam, lalu mengambil jubah mandi untuk dia pakai membungkus tubuh telanjangnya.
Begitu Iloya membalikan badan, dia hampir terjungkal karena terkejut sudah mendapati Rainer berdiri di belakangnya. Belakang kepala Iloya sudah dipastikan akan membentur lantai marmer, kalau saja Rainer tidak sigap memeluk pinggangnya.
Iloya mengedipkan matanya cepat, dia menatap Rainer horor. "Se-sejak kapan kamu ada di belakang saya?"
Rainer menarik senyum tipis pada kedua sudut bibirnya, lalu sedikit memiringkan kepala saat menatap Iloya. "Dari kapan, ya?" Rainer menatap Iloya polos. "Hm, mungkin dari awal kamu membuka satu-persatu pakaian hingga telanjang, lalu masuk ke dalam pemandian, terakhir di sini memakai jubah milik saya."
Iloya membekap mulutnya shok, "kamu lihat saya telanjang?"
"Ya. Saya bahkan mendengar semua ucapanmu, termasuk yang mengatai saya bodoh." Rainer menambahkan.
Terlalu terkejut mendengar rentetan ungkapan Rainer, Iloya tak kuasa menahan keinginanya untuk mengutuk sang Raja serigala yang masih memeluknya dengan posisi sama seperti pertama kali. 'm***m, mata keranjang, hidung belang' tentu saja itu semua hanya mampu Iloya ucapkan dalam hati, di permukaan dia hanya tersenyum dengan sorot mata minta maaf. "Maafkan Istrimu yang salah ini, Suamiku. Istrimu ini sedang khilaf karena paktor lama melarat, lalu tiba-tiba di hadapkan pada kemewahan yang begitu menyiloukan. Kalau tadi ada kata bodoh yang istrimu ini tunjukan untuk Suami, maka itu hanya karangan semata. Begitu adanya, Suamiku."
"Begitukah?" ada riak dalam mata Rainer saat mendengar ucapan Iloya.
"Heem, mana ada coba istri baik hati kayak saya berani menghina Suami sehebat kamu." Iloya tertawa kaku diakhir ucapannya sambil menepuk-nepuk d**a Rainer. Namun, tidak lama tepukannya berubah menjadi elusan saat merasakan kekarnya d**a Rainer. 'Alamak, ini d**a keras amat. Besi apa, ya?' Iloya berdecak kagum dalam hati.
Rainer mengikuti arah tepukan telapak tangan Iloya pada dadanya. Bibirnya menyunggingkan senyum penuh arti dengan riak pada matanya, "apa kamu begitu menyukai dadaku? Mengapa tidak kamu usap bagian yang lainnya juga?"
***