Bab 14. Perkelahian di pasar

1105 Kata
Mura dan Misako saling pandang, lalu serempak melihat ratu mereka yang tengah sibuk mengacak-acak lemari pakaian mereka. mereka bingung denga apa yang akan dilakukan ratunya terhadap baju-baju yang sudah dipilih ratunya. Namun, mereka tetap memilih diam memandang sang ratu. Setelah dirasa cukup dengan tiga baju yang dipilihnya, Iloya kembali memasukan baju-baju milik Mura dan Misako pada masing-masing lemari miliknya. Iloya mengambil baju yang terpilih, lalu membagikannya pada Mura dan Misako masing-masing satu, terakhir baju untuknya. "Kamu yakin sudah menyuruh orang untuk memanen buah-buahan yang matang dan terbaik?" Iloya bertanya disela kesibukannya dalam membuka resleting kampret yang susahnya minta ampun untuk dibuka. "Sudah Yang Mulia Ratu." Mura menjawab sambil membantu sang ratu dalam membuka resleting bajunya. "Terima kasih." Iloya berucapa setelah reslering bajunya terbuka. Setelah mereka berganti pakaian menjadi layaknya rakyat biasa, Iloya segera meminpin kedua pelayannya untuk menghampiri buah yang sudah siap dalam keranjang. Setelah memerintah pengawal untuk menaiakn masing-masing keranjang pada kereta kuda, Iloya dan kedua pelayannya pergi kepasar diantar pengawal yang merangkap menjadi kusir kuda. "Mura, mata uang apa yang digunakan di dunia ini?" Iloya bertanya di saat dia dan kedua pelayannya dalam perjalanan menuju pasar. Walau bingung karena sang ratu seolah asing dengan dunia yang mereka tempati saat ini, Mura tetap menjawab sopan. "Keping emas dan keping perak Yang Mulia Ratu." "Coba rincikan masing-masingnya!" "Satu keping emas sama dengan seratus keping perak Yang Mulia Ratu." Kali ini Misako yang menjawab. "Berapa harga buah-buahan di pasar saat ini?" Perasaan Mura dan Misako kini dapat menebak tujuan ratu mereka memanen banyak buah dan hendak membawanya ke pasar. "Untuk apel sekitar 5 sampai 10 keping perak, sedangkan untuk buah yang lainnya ada di bawah harga apel." "Bagus!" Iloya bertepuk tangan senang. Mura menelan ludah gugup saat akan berbicara, "maaf Yang Mulia Ratu bila hamba lancang, tapi kalau Yang Mulia Ratu menginginkan uang, Yang Mulia akan demgan mudah mendapatkannya tanpa harus bersusah payah jualan seperti ini." Iloya menatap Mura tak puas, "saya bukan orang matre. Bila menginginkan sesuatu, saya akan mendapatkannya dengan keringatku sendiri." Pengawal yang Iloya jadikan kusur dadakan tidak dapat untuk tidak mencibir dalam hati, hasil keringat sendiri apanya, ratu hanya memerintah saja. Semuanya dikerjakan olehku dan dua pelayan itu. Buru-buru Mura dan Misako menunduk hormat, "ampun Yang Mulia Ratu, kami sudah mengerti." "Hanya memberi informasi Yang Mulia Ratu. Pasar yang saat ini kita tuju merupakan pasar bauran antara bangsa serigala, manusia, dan vampir. Jadi sebaiknya Yang Mulia Ratu tidak terlalu jauh dari jangkauan kami demi keamanan Yang Mulia Ratu sendiri." Misako kembali mengingatkan. Sebelumnya dia sudah memberitahu sang ratu tentang pasar yang penjualannya bagus dan itu adalah pasar bauran. Iloya melotot ke arah Mura. Namun, tifak mengatakan apa-apa. Iloya menelan ludah khawatir, kenapa Mura baru ngasih tahuvinformasi itu sekarang? Iloya membatin frustasi. Iloya kira saat Mura menyebutkan pasar bauran adalah pasar di mana rakyat biasa dan para bangsawan berbaur, bukannya malah bauran antara bangsa serigala, manusia, dan vampir. Putar balik juga bukan pilihan sebab pasar itu kini sudah terlihat. Mengingat kembali pundi uang yang akan didapatkannya, kekhawatiran Iloya lenyap tergantikan rasa semangat yang membara. Begitu kereta berhenti, Iloya segera loncat turun membuat Mura dan Misako tercengang. "Mura, Misako, jangan hanya bengong! Cepat bantu saya menurunkan buah-buahan ini!" Iloya menunjuk ranjang-ranjang buah beraneka ragam di gerbong barang. Bergegas Mira, Misako, dan sang kusir dadakan turun untuk mengangkat ranjang berisi buah-buahan dan memindahkannya pada tikar yang sudah digelar oleh Iloya. Sekali lagi sang kusir dadakan mencibir dalam hati saat melihat Iloya sudah nangkring duduk santai menunggu keranjang dibawakan oleh dirinya dan kedua pelayan ratu yang bersamanya, itu tuh yang katanya menghasilakn uang dengan keringat sendiri. Melihat semua keranjang sudah ada di depannya, segera Iloya memberi daftar harga pada masing-masing keranjang buah. Iloya tersenyum sumringah begitu pembeli sudah mulai berdatangan. "Wah, apel ini sangat besar dan baik pula tampilannya. Dari mana kamu mendapatkannya?" Seorang calon ibu muda yang tengah hamil besar datang dan bertanya-tanya sambil memilah buah apel hijou yang menarik perhatiannya. "Saya memetiknya langsung dari kebun milik pribadi. Dijamin buah ini manis dan segar, apalagi apel kan memang bagus untuk wanita hamil." Iloya menjawab sopan dan ramah. "Wah, benarkah? Kalau begitu aku ambil 5." Iloya tersenyum lebar. Dengan isyarat tangan, Iloya memerintahkan Mura dan Misako agar lekas membungkus pesanan calon ibu muda itu. "Datang lagi," Iloya mengangguk sopan saat wanita hamil itu pergi. Makin lama dagangan Iloya makin laris karena memang buah miliknya jauh lebih baik ketimbang buah para pedagang lainnya dan itu membuat para pedagang yang buahnya tidak laku akibat adanya Iloya memendam amarah. "Hei, kamu." "Ya," Iloya menoleh ke arah laki-laki gempal nan dekil yang baru saja menunjuk marah dirinya. Iloya menaikan sebelah alisnya karena merasa tidak pernah menyinggung laki-laki itu, lalu kenapa laki-laki itu terlihat marah? Iloya membatin heran. Laki-laki gempal itu datang menghampiri Iloya, lalu menendang keranjang buah anggur yang hanya tinggal sedikit. Iloya melotot kesal menyaksikan anggurnya terbuang sia-sia, pokonya dia memutuskan untuk minta ganti rugi. "Kamu membuang anggurku, jadi sekarang cepat ganti rugi!" Iloya menodongkan tangan kanannya kehadapan laki-laki gempal yang sudah menendang kejam keranjang anggurnya. Laki-laki gempal itu melotot marah, "ganti rugi kamu bilang? Yang dirugikan di sini itu saya. Kenapa sekarang jadi saya yang harus ganti rugi?" Sang pengawal yang menjadi kusir dadakan hendak mengeluarkan pedangnya. Namun, terhenti karena Iloya mengisyaratkan untuk tidak maju dengan cara mengangkat tangannya. "Maaf, coba ulangi sekali lagi!" Iloyamemberikan kupingnya lebih dekat pada si laki-laki gempal. Merasa dipermainkan, laki-laki gempal itu semakin marah. Terlihat wajahnya yang dekil, memerah dengan urat menonjol di sekitaran lehernya. Matanya melotot sempurna dengan lubang hidung kembang kempis. "Berani sekali, kamu." Laki-laki gempal itu mengeram rendah. "Kamu tidak tahu siapa saya, gadis kecil.," Iloya mengernyit jijik saat melihat seringaian laki-laki itu yang terlihat dari giginya mengeluarkan air liur. Melihat ratunya dalam bahaya, Mura memerintahkan sang pengawal untuk maju ke depan. Pengawal itu langsung mengeluarkan pedangnya begitu laki-laki gempal itu berubah jadi serigala abu-abu. Iloya begitu terkejut, dia kira laki-laki gempal itu seorang manusia. Perkelahianpun tak terelakan. Karena kekuatan antara pengawal yang memang seorang manusia dan serigalanya si laki-laki gempal tak seimbang, si pengawal dengan mudah dikalahkan oleh serigala laki-laki gempal. Melihat pengawal itu tumbang, Mura dan Misako giliran yang maju. Mereka berdua berubah menjadi serigala dan langsung melawan sekaligus serigala si laki-laki gempal. Iloya melihat sekeliling yang ternyata sudah dikelilingi banyak orang. Namun, tidak ada yang berniat membantunya, itu membuatnya kesal. Lalu bagaimana caranya dia dapat menyelamatkan kedua pelayannya yang terlihat akan kalah. Serigala Mura dan Misako terlempar, sekarang mereka hanya bisa bergerak lemah karena terlalu banyak memakai kekuatannya. Iloya melihat ke depan, ke arah serigala abu-abu yang perlahan mulai melangkah ke arahnya. Spontan Iloya berjongkok sambil menutup matanya saat melihat serigala abu-abu itu lompat ingin menerkamnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN