Brak
Tubuh Yakuya menghantam meja sampai membuat meja itu hancur. Tidak hanya sampai di sana, kini tubuh Yakuya kembali menabrak tembok sampai tembok itu retak. Yakuya terbatuk untuk mengurangi sesak di dadanya sekaligus nyeri di ulu hatinya. Tendangan Rainer tidak main-main sakitnya. Namun, dia hanya bisa diam karena kali ini dia memang sangat bersalah.
"Kenapa kamu membiarkan Iloya bertemu pangeran Dar?" Rainer menggeram rendah.
Yakuya tertunduk merasa bersalah. "Maaf, saya tidak tahu kalau Iloya pergi ke pasar bauran karena saya ada urusan bersama para petinggi kerajaan. Saya juga tidak sempat mengamanahkan pada kedua pelayannya untuk lebih banyak membawa pengawal. Saya lalai dan pantas dihukum."
Rainer mencengkram kuat pinggiran jendela sampai remuk. Gejolak amarah dalam hatinya tidak reda hanya dengan memukul Yakuya, dia butuh lebih dari ini.
Yakuya hanya bisa menghela napas sambik merintih sakit dan tidak mampu mencegah Rainer saat keluar dari ruang kerjanya. Dia tahu ke mana tujuan Rainer kala meluapkan amarahnya seperti sekarang, yaitu sel jeruji para tahanan.
Rainer melangkah tanpa suara di lorong sel. Para tahanan yang melihatnya sontak merapatkan tubuh pada tembok karena ketakutan. Rainer baru berhenti ketika berada di sel paling ujung, dia melihat seorang kakek tua yang meringkuk mengenaskan dengan tangan serta kaki yang di borgol.
Melihat kakek tua yang kepayahan walau hanya untuk bernapas, Rainer menyeringai puas. "Apa kamu menikmati masa rehatmu, Mandata?"
Mandata mendecih sinis, dia menatap Rainer nyalang. "Bunuh saja saya sekarang! Karena percuma menahan saya pun, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa."
Rainer mengeluarkan pedang dari sarungnya. Dengan sekali tebas, gembok sel itu terpecah. Rainer membawa pedangnya dengan perlahan seiring bersama langkah kakinya yang pelan menghampiri Mandata. Suara gesekan beradu antara pedang dan lantai membuat siapa yang mendengarnya menjadi ngilu, terutama Mandata yang semakin memundurkan tubuhnya dengan gemetar hebat pada seluruh tubuhnya.
Melihat Mandata mundur ketakutan, Rainer menyeringai sinis. "Bukankah kamu ingin saya bunuh? Kenapa kamu malah mundur?"
"Ka-kamu mau apa?"
Rainer berhenti tepat di depan tubuh Mandata yang meringkuk mengenaskan. Pakaian Mandata sudah lusuh dengan beberapa sobekan diberbagai sisi. Terdengar suara gigi beradu dari mulutnya pertanda saat ini Mandata begitu ketakutan.
"Bukankah kamu menginginkan saya membunuhmu sekarang juga?" Rainer sedikit memiringkan kepalanya. Seringaiannya tampak jelas puas melihat Mandata meringsek takut.
"Saya, sa-saya akan memberitahu kamu sesuatu, tapi sebagai gantinya kamu harus melepaskan saya dari penjara."
Belum juga Rainer benar-benar mengangkat pedangnya, Mandata sudah lebih dulu akan mengeluarkan informasi yang disimpannya selama ini. Mudah, ini terlalu mudah bagi Rainer mendapatkan apa yang dia inginkan dari kakek tua licik ini. Maka dari itu, tanpa ampun Rainer mengangkat pedangnya dan langsung menebas habis leher Mandata.
Tentu saja Rainer tidak bodoh untuk masuk pada perangkap Mandata. Sudah dikatakan bukan kalau Rainer ini bisa membaca pikiran. Kalau dia bisa mencari informasi itu tanpa perlu negosiasi, kenapa harus bersusah payah menyetujui permintaaan Mandata.
Darah menyebar dari badan Mandata. Rainer mengernyit jijik karena bau darah Mandata tidak seperti darah pada umumnya. Darah Mandata berwarna hitam dengan bau menyengat yang membuat orang ingin muntah. Rainer menyadari kalau Mandata telah diberi racun. Namun, karena epek racun itu tidak terasa, jadi kemungkin Mandata sendiri tidak mengetahuinya. Beruntungnya Rainer mendapatkan informasi yang dia butuhkan sebelum Mandata benar-benar mati.
Sekarang yang perlu dia lakukan adalah mencari tahu siapa orang yang sudah meracuni Mandata. Karena tidak mungkin Mandata meracuni dirinya sendiri di saat Mandata saja ketakutan saat dia akan membunuhnya barusan.
Setelah memuaskan dahaga membunuh dalam dirinya dengan membantai para tahanan siap hukum mati, Rainer baru keluar. Dia melihat tubuhnya yang dipenuhi darah, lalu teringat akan Iloya yang selalu ketakutan apabila melihat darah. Rainer memutuskan untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu sebelum menemui Iloya.
Rainer mendapati Iloya masih terbaring pingsan saat dia menemuinya. Namun, tidak lama mata Iloya bergerak dan terbuka. Dalam diam Rainer menatap Iloya yang mulai membuka mata. Saat Iloya hendak bangun dengan sigap Rainer membantunya.
"Kapan kamu datang?" Iloya bertanya dengan suara serak.
"Saat kamu masih tak sadarkan," Rainer menjawabnya setelah menyimpan bantal untuk menyangga punggung Iloya.
Iloya menerima gelas perak berisi air yang disodorkan Rainer, kemudian meminumnya rakus dampai habis. Dia menyerahkan kembali gelas kosong itu pada Rainer yang di simpan kembali.
Dengan nyaman Iloya menyandarkan punggungnya. "Terima kasih."
"Apa kamu tidak mau menceritakan sesuatu?"
"Ya, tentang apa?" Iloya mendongak menatap Rainer yang berdiri menjulang di depannya.
"Kenapa kamu pergi ke pasar bauran?"
Iloya mengangguk mengerti, jadi ini masalah itu. "Mungkin untuk sekedar senang-senang. Cari angin gitu." Iloya nyengir kuda. Tentu saja dia harus menutupi kebenaran kalau yang sebenarnya dia menjual buah milik Rainer. Dari pada buahnya pada jatuh tidak ada yang memakan, kenapa tidak dijadikan uang saja? Iloya berucap bangga dalam hati karena pemikiran briliannya.
"Bukan untuk menjual buah-buahan yang kamu petik dari halaman belakang istana?" Rainer bertanya, tapi dari nada suaranya Iloya tahu Rainer tengah menyindirnya.
Iloya terbatuk keras, lalu tersenyum paksa. Sial, ternyata mulut orang-orang di sini pada bocor. Eh, mereka kan bukan orang, tapi juga setengah serigala. "Jangan bertanya itu! Sekarang ada yang lebih penting. Bagaimana pertemuanmu dengan putri Clarissa? Apa kalian sudah ketahap yang lebih serius? Kalau belum, kamu harus lebih berusaha lagi. Nanti saya kasih tips biar putri Clarissa balik suka sama kamu."
Rainer melengos enggan menjawab pertanyaan Iloya. Dia malah membuka jubahnya dan membawa badan naik ke atas tempat tidur kosong yang berada di samping Iloya.
"Hei, kok kamu malah tidur?" Iloya menatap heran Rainer yang sudah membaringkan badannya di samping tubuhnya.
"Kenapa? Saya mengantuk."
"Tapi kamu belum menjawab pertanyaan saya?" Iloya menatap Rainer tidak puas.
Rainer menatap Iloya dengan sorot malas, "tidak ada yang spesial."
"Huh," Iloya menghembuskan napas kesal. Lalu dia ikut membaringkan tubuh dengan membelakangi Rainer. "Kamu tahu saya bukan dari dunia ini. Ada kalanya kemungkinan terjadi suatu saat nanti, saya akan kembali kdunia saya dulu. Saya tidak mungkin selalu ada di dekatmu. Lebih baik kamu cepat cari perempuan lain yang bisa menemanimu. Saya tahu, kamu sangat mencintai putri Clarissa. Kenapa kamu tidak merebutnya saja dari pangeran Dar?"
Iloya tersentak begitu merasa pinggangnya ditarik ke belakang hingga punggungnya membentur d**a bidang dan keras milik seseorang yang kini tangannya melingkari perutnya.
"Saya tidak mau membahas itu. Lebih baik kita tidur." Rainer berucap pelan di dekat telinga Iloya.
"Rainer," Iloya memanggil heran.
"Hm."
"Kamu yakin mengajak saya tidur?"
"Kenapa?" Rainer bertanya di saat matanya sudah terpejam.
Iloya membalikan tubuhnya sehingga kini berhadapan langsung dengan Rainer yang baru saja membuka mata, sehingga mata keduanya sekarang saling bertatapan. "Masalahnya saya baru saja bangun. Menurutmu apa saya bisa tidur lagi?"
***