Arini menatap layar ponselnya beberapa kali. Berharap jika ada notifikasi pesan dari suaminya. Bukan pesan dari Arga yang ia dapatkan, malah pesan dari Aqilah. Wanita itu mengajak Arini keluar dan bersedia untuk menjemputnya segera.
Arini harus meminta izin lebih dahulu pada suaminya. Ia tak mau jika nantinya menjadi istri durhaka. Arini menelepon Arga dan berkata jika ia akan pergi bersama Aqilah.
"Assalamu'alaikum Mas." Ucap Arini.
"Wa'alaikumsalam. Ada apa Sayang?" Tanya Arga.
"Aqilah maksa buat ngajakin keluar. Boleh enggak, Mas?" Tanya Arini.
"Iya boleh. Hati-hati tapi ya?" Ucap Arga.
Arini tersenyum kemudian mengakhiri semuanya dengan salam. Bersamaan dengan itu, suara mobil Aqilah terdengar di depan rumahnya.
"Sudah siap, Arini?" Ucap Aqilah.
"Sudah, La. Aku juga sudah izin sama Mas Arga. Kalau kamu gimana?" Tanya Arini.
"Udah juga dong." Ucap Aqilah.
Arini menatap mobil yang Aqilah bawa, dan tak ada seorang supir.
"La, jangan bilang kamu yang nyetir mobil sendiri. Sejak kapan?" Tanya Arini.
"Sejak tiga bulan lalu. Aku belajar nyetir kok." Ucap Aqilah.
"Aku kok enggak yakin, ya?" Ucap Arini sedikit ragu.
"Ayolah, Rin. Aku udah les ini." Ucap Aqilah meyakinkan.
"Iya, aku percaya deh." Ucap Arini.
Keduanya lalu masuk ke dalam mobil. Dan Aqilah mulai menyetir dengan baik. Hal itu membuat Arini lega.
"Syukurlah, aku pikir kamu bohong." Ujar Arini.
"Rin, aku serius lho. Kamu gak percaya." Ucap Aqilah.
"Jangan lupa La. Di pesantren dulu kamu ngapain aja?" Ucap Arini mengingatkan.
Aqilah tertawa terbahak-bahak . Saat itu dia baru di pindahkan dari kota ini ke desa dekat daerah rumahnya Arini. Dia satu pesantren dengan Arini kala itu.
"Ingat gak? Kamu gak sengaja masuk ke asrama putra. Sampai bikin heboh satu asrama." Ucap Arini.
"Hahaha, mana aku tahu kalau putri gak boleh ke sana?" Ucap Aqilah sambil tertawa.
"Kamu ingat juga? Yang heboh sandal ustadzah hilang? Dan ternyata kamu yang pakai." Ucap Arini sekali lagi mengingatkan.
"Aku juga gak tahu itu, Rin. Aku pikir kok bisa santri putri punya sandal yang bagus gitu." Ucap Aqilah dengan santainya.
"Aku juga ingat waktu itu, sampai kyai manggil aku karena temenan sama kamu. Malah dia minta aku jaga kamu lho." Ucap Arini.
Aqilah masih tertawa tanpa henti. Sungguh, sangat lucu kala mengingat saat itu. Tidak ada yang peduli dan juga tidak ada yang mau berteman dengannya, hanya Arini saja yang mau menjadi sahabatnya. Bahkan sampai sekarang.
"Udah ah, aku gak berhenti ketawa ini. Mendingan kita fokus aja mau makan apa hari ini." Ucap Aqilah.
"Masalahnya, kamu mau ajakin aku kemana?" Tanya Arini.
"Makan malam di hotel." Ucap Aqila.
"Lala, kamu serius? Cuma makan malam aja di hotel." Ucap Arini.
"Iya, Rin. Sekali-kali, apa gunanya suami aku tajir." Ucap Aqilah.
Arini sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran dari sahabatnya itu. Setahunya, Bramantyo Agustaf Airlangga memang kaya raya. Tapi, jangan salah. Aqilah Ramadhani Adijaya juga kaya raya. Mereka sepadan. Cerita perkenalan mereka cukup lucu. Karena perjodohan yang awalnya sama-sama mereka tolak. Aqilah menganggap Bram hanyalah sosok anak kaya manja dan playboy. Sementara Bram yang menganggap jika Aqilah adalah anak orang kaya sok alim.
Entah bagaimana, mereka akhirnya saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah. Sungguh kisah cinta yang amat sangat klasik namun romantis. Aqilah sudah lama menjadi menantu idaman keluarga Airlangga yang kaya raya itu. Mereka memang sengaja memilih jodoh lulusan pesantren seperti Aqilah.
Sekitar 45 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di sebuah hotel bintang lima yang cukup terkenal.
"Lala, shalat dulu ya?" Tanya Arini.
"Ayo, aku juga mau shalat." Ucapnya.
Mereka berdua memasuki sebuah kamar yang sudah Aqilah pesan.
"Shalat sini aja ya, Rin." Ucap Aqilah.
Mereka berdua kemudian menunaikan shalat Maghrib sebelum masuk ke dalam restoran itu.
"Pesan sesuka kamu, Rin." Ucap Aqilah.
"Satu aja cukup, La. Aku mana pernah habis banyak makanan kan." Ucap Arini.
Aqilah memesankan makanan untuk Arini. Makanan yang paling menjadi Favorit di tempat itu.
"Rin, aku ke toilet dulu ya?" Ucap Aqilah.
Arini hanya mengangguk sembari menikmati makanannya.
Aqilah menuju toilet terdekat dari restoran itu. Sesampainya disana, ia langsung memasuki satu toilet.
Terdengar suara seseorang masuk, dengan langkah hills yang menggema di seluruh ruang toilet.
"Halo, Mas. Kamu masuk aja dulu ya. Kamar 111. Aku lagi di toilet gak usah di tungguin ya?"
Aqilah masih saja sibuk dengan urusannya. Sesekali merasakan jika suara itu begitu familiar baginya. Aqilah segera keluar setelah selesai dengan urusannya. Dia tak mau membuat Arini menunggu terlalu lama.
Alangkah terkejutnya Aqilah saat menatap seorang wanita yang tengah membenarkan make-up nya. Karena wanita itu adalah Ziva. Dia penasaran akan siapa lelaki yang menginap di hotel ini bersamanya.
Aqilah tak mau berpikir panjang, ia segera pergi dan kembali ke tempat ia makan.
"Lala, maaf ya? Aku harus pulang." Ucap Arini dengan wajah gelisah.
"Kenapa ,Rin? Ada apa?" Tanya Aqilah.
"Mama mertua aku demam katanya. Aku harus ke sana." Ucap Arini dengan nada khawatirnya.
"Aku anterin ya?" Ucap Aqilah.
"Gak usah, La. Kamu belum makan. Biar aku naik taksi. Ini aku juga coba hubungi Mas Arga." Ucap Arini.
"Suami kamu kemana?" Tanya Aqilah.
"Dia lembur di kantor." Ucap Arini.
"Ya sudah, hati-hati ya Rin?" Ucap Aqilah.
Arini segera mengucap salam dan pergi dengan secepat mungkin. Aqilah terpaksa makan sendirian. Ia juga melihat piring Arini yang makanannya masih tersisa separuh.
"Kasihan banget sih Arini. Udah kayak pengasuh aja. Mana sekarang sedikit kucel." Ucap Aqilah Menggumam.
Aqilah segera menelepon Bram dan ingin mengajaknya menginap bersama di hotel ini. Setelah membayar semua makanannya, Aqilah beranjak dan segera naik lantai atas menuju kamar yang telah ia pesan.
Aqilah menatap sosok wanita yang berjalan perlahan dengan kemeja putih dan rok hitam ketat yang menampakkan pinggulnya, ia tahu jika wanita itu adalah Ziva. Karena tadi sudah melihatnya sekilas.
Rasa kepo Aqilah mulai timbul. Dengan perlahan, terus mengikuti langkah wanita itu. Dan dilihatnya Ziva berhenti di depan kamar nomer 112 dimana kamarnya bersebelahan dengan kamar miliknya.
"Dia pacaran sama siapa, sih?" Batin Aqilah.
Ziva menekan bel pintu beberapa kali sampai seseorang keluar dari kamar itu. Ziva segera memeluknya dengan mesra. Namun, Aqilah yang kini diam membeku sembari tak melepaskan pandangannya itu. Lelaki yang bersama dengan Ziva adalah suami dari Arini, sahabatnya.
Alangkah kagetnya Aqilah melihatnya. Arga dengan beraninya membalas pelukan itu dan kini malah masuk kedalam kamar itu. Bersama wanita yang bukan makhramnya.
"Ya Allah, aku enggak salah lihat kan?" Air mata Aqilah menetes.
Bukan karena apa dia menangis, tapi sosok Arini sudah bagaikan saudaranya. Walau ia tak sempat datang ke pernikahannya waktu itu. Arini yang selalu menyanjung dan membanggakan suaminya itu, bagaimana jika ia tahu hal itu? Pasti sangat menyakitkan.
"Qila, kok disini sayang? Kenapa gak masuk?"
Suara Bram membuat Aqilah terperanjat kaget. Dia tak tahu harus mengatakan apa tentang yang barusan dia lihat.
"Mas Bram." Ucap Aqilah lalu menangis dan memeluk suaminya itu.
Bram kemudian membawa Aqilah masuk ke dalam dan menenangkannya.
"Kenapa, Sayang? Cerita. Arini juga kemana? Bukannya janjian sama kamu ya?" Ucap Bram.
"Mas Bram, barusan di kamar sebelah aku lihat Ziva." Ucap Aqilah.
"Ziva? Sama siapa?" Tanya Bram.
Bram juga merasa heran saat mendengar apa yang istrinya katakan.
"Sama laki-laki." Ucap Aqilah.
"Ya sudah, biarkan aja. Bukan urusan kita. Jadi, kamu nangis karena hal ini?" Ucap Bram bertanya.
"Iya, bukan urusan kita. Tapi, Mas gak tahu siapa selingkuhannya kan?" Tanya Aqilah.
"Siapa?" Tanya Bram penasaran.
"Arga, suaminya Arini." Ucap Aqilah.
Bram tak menyangka dengan apa yang ia dengar dari Aqilah. Antara percaya dan juga tidak.
" Kamu serius?" Tanya Bram.
"Aku serius." Ucap Aqilah.
Bram masih terdiam. Sesekali menghela nafas panjang.
"Kasihan Arini, Mas. Dia udah kayak saudara aku." Ucap Aqilah.
"Kamu serius?" Ucap Bram kembali bertanya.
"Nanya lagi sih, Mas. Aku serius." Ucap Aqilah.
Lagi-lagi Bram terdiam.
"Aku udah duga kalau wanita itu ada rasa sama Arga. Di pesta pernikahan kita, dia ngelihatin terus." Ucap Aqilah.
"Mana kau tahu juga, Sayang. Kalau ternyata tipenya kayak Arga." Ucap Bram.
"Aku harus bilang semua ini sama Arini. Laki-laki kayak Arga ini gak pantes buat wanita sebaik Arini." Ucap Aqilah lalu bangkit.
"Jangan, Sayang. Jangan." Ucap Bram.
"Kenapa? Ini semua udah gak benar." Ucap Aqilah.
"Iya, tapi kita gak ada bukti buat kasih tahu Arini. Dan satu lagi, betapa sakitnya Arini kalau tahu suaminya selingkuh. Setidaknya, biarkan dia tahu sendiri." Ucap Bram.
Aqilah kembali duduk. Apa yang Bram ucapkan benar adanya. Sayangnya, ia tak menyangka kalau Arga berkhianat di usia pernikahan yang baru empat bulan ini.